Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

23 Maret 2009

Kado Tahun Baru: Israel Menyerang Palestina!


Pada Tahun Baru Islam 1430 H ini, kado pelecehan yang sangat buruk diberikan oleh negara Yahudi Israel pada kaum Muslim dunia. Israel menyerang Gaza Palestina dengan pemboman dari udara sejak Sabtu, 27 Desember 2008/29 Dzulhijah 1429, dan rencananya akan dilanjutkan dengan serangan darat. 

***

Palestina negeri yang tak putus dirundung malang. Ibu kotanya, Jerussalem, yang menjadi tempat suci tiga agama—Islam, Kristen, dan Yahudi—malah menjadikan Palestina sebagai rebutan dan ajang peperangan sejak ribuan tahun yang lalu.

Sejatinya, pemeluk Kristen dan Yahudi di Palestina merasa aman dan damai di bawah pemerintahan Islam. Tetapi setelah negara Yahudi Israel berdiri pada 1947, peperangan kerap terjadi antara Israel dan pejuang Islam Palestina—yang dalam beberapa peperangan dibantu negara-negara Arab lain. 

Di masa modern ini, wilayah Palestina terbagi menjadi Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dan sejak 18 bulan lalu, Hamas—partai pemenang pemilu Palestina yang tak mau mengakui keberadaan Israel—mengontrol sepenuhnya Gaza. Karena tak hendak mengakui Israel—tidak seperti partai Fatah peninggalan Yasser Arafat—maka Hamas rutin melontarkan bom ke wilayah Israel. 
Gencatan senjata telah dilakukan 6 bulan, tetapi kemudian segera terjadi perang lagi. Dan pada 27 Desember, tiba-tiba saja Israel membombardir Gaza. 

Jawa Pos (29/12/08) memberitakan, Israel memang menyatakan bahwa serangan ke Gaza adalah bentuk pembalasan pada Hamas yang rutin menghujani wilayah mereka dengan misil. Tapi, berbagai analisis menganggap alasan itu hanya omong kosong. Motif sebenarnya adalah sekedar menarik simpati publik. Sebab, dalam sebulan ke depan, Israel mengadakan pemilu legislatif. 

"Perpolitikan Israel sekarang dikuasai kelompok hawkish (ultrakonservatif), baik pemerintah yang berkuasa maupun kubu oposisi. Karena itu, untuk menarik simpati, mereka tak segan melakukan cara yang sangat keras. Contohnya, gempuran ke Gaza ini," kata Mark Almond, sejarawan Universitas Oxford, pada Daily Telegraph (28/12).

Selain untuk menarik simpati publik, sikap brutal Israel kali ini, tampaknya, juga terkait dengan akan berakhirnya pemerintahan Presiden Amerika Serikat George W. Bush yang selama ini begitu suportif kepada mereka. Pengganti Bush, Barack Obama, dinilai lebih bersimpati kepada Palestina.

"Jadi, Israel ingin benar-benar melumpuhkan Hamas karena mereka tak yakin bagaimana kebijakan Obama dalam masalah Timur Tengah," kata salah seorang pejabat di pemerintahan Bush yang menolak menyebutkan nama kepada New York Times.

Untuk menolak serangan Israel tersebut, telah terjadi demonstrasi di berbagai negara. Desakan penghentian serangan juga telah dilontarkan Sekjen PBB dan pimpinan berbagai negara. Namun Israel terus melakukan pemboman dan menambah pasukan di perbatasan untuk persiapan serangan darat.

Di Indonesia, selain Presiden dan Ketua MPR, berbagai ormas dan parpol juga mengecam aksi Israel. Duta Masyarakat (31/12/08) memberitakan, 13 ormas Islam mengutuk keras serangan Israel ke Palestina. Mereka bahkan menyebut Israel sebagai teroris yang melakukan kezaliman. Di antara 13 ormas Islam, ada Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

"Kami mendesak Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) agar memberikan sanksi tegas kepada teroris Israel," ujar Prof Dr Masykuri Abdillah, utusan dari NU mewakili 13 ormas Islam di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (30/12).

Selain itu, lanjutnya, juga menyerukan pada dunia internasional agar mendesak Israel menghentikan serangannya dan menyeret pimpinan Israel ke Mahkamah Internasional. Meski demikian, 13 ormas Islam tidak akan mengirimkan pasukan jihad ke Palestina. Mereka hanya akan mengirimkan tenaga medis, obat-obatan, makanan, dan dana konstruksi. 

***

Ada tiga kemungkinan akhir dari kisah serangan Israel ke Palestina kali ini. Pertama, Israel menghabisi Hamas sebagaimana rencananya. Bila ini terjadi, maka akan menjadi sejarah kemenangan bagi Israel, dan partai yang berkuasa bisa mendulang suara besar pada pemilu. Tetapi, bila ini terjadi, tentu bukan hanya Hamas yang dihabisi Israel, tapi juga ribuan rakyat sipil penduduk Gaza. 
Kedua, Israel menghentikan serangan karena desakan Amerika, PBB, Uni Eropa, dan Rusia. Bila ini terjadi, Israel akan berpikir untuk menghentikan serangan setelah meluluhlantakkan Gaza dan membunuh banyak pemimpin dan pejuang Hamas, sehingga ia bisa mengklaim kemenangan. Hal ini sebagai pelipur malu, karena pada masa sebelumnya, saat menyerang Hizbullah di Lebanon, Israel menanggung malu karena dianggap kalah setelah menghentikan peperangan—atas Resolusi PBB—tanpa hasil yang memuaskan. 

Ketiga, negara-negara Muslim—terutama Iran dan tetangga Palestina lainnya—ikut berperang membela Palestina. Bila ini terjadi, maka perang akan berlangsung lama dan menelan banyak sekali korban. Dan itu tidak akan hanya menjadi perang membela Palestina melawan Israel, tapi bisa menjadi perang antaragama. Sebab solidaritas negara-negara Muslim untuk membantu Palestina secara militer akan menimbulkan reaksi dari negara-negara Barat tertentu—yang dekat dengan lobi Yahudi—untuk menunjukkan solidaritas dengan membela Israel secara militer juga.

Manakah yang akan terjadi? Kita tidak tahu. Yang jelas PB NU dan PW NU Jogjakarta telah menyerukan untuk membacakan doa Qunut Nazilah untuk mendoakan rakyat Palestina. Wa la haula wa la quwwata illa billah! []


Dimuat di Buletin SIDOGIRI edisi 36

Tidak ada komentar:

Posting Komentar