Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

10 Maret 2009

Mengislamkan Pers dan Memperskan Islam


Pers telah menjelma salah satu kekuatan paling berpengaruh di dunia. Pers dapat mengarahkan opini publik terhadap suatu isu. Dengan pengaruhnya itu, pers dapat menjadi media dakwah agama yang berpengaruh luas. Atau setidaknya, mendukung perkembangan keagamaan. Namun di sisi lain, pers juga dapat menghambat perkembangan keagamaan.


Banyak contoh betapa pers begitu berpengaruh. Pemberitaan bias tentang runtuhnya WTC di AS pada 11 September 2001 membuat banyak orang Barat mengidentikkan orang Muslim dengan teroris; pemuatan karikatur Nabi Muhammad r di koran Denmark Jylland Posten menyulut demo anarkis di berbagai belahan dunia; pemberitaan tuntutan pembubaran Ahmadiyah menimbulkan pro-kontra yang luas di Indonesia; dan liputan serangan membabi buta Israel ke Gaza Palestina menimbulkan simpati pada Palestina dari berbagai agama dan bangsa.


Mengislamkan Pers


Dengan pengaruh yang sedemikian, pers layak diperhitungkan sebagai media dakwah keagamaan. Namun, yang menjadi kendala, tak semua media pers dapat dan mau diajak bekerjasama menyampaikan dakwah. Dalam hal ini, ada dua macam pers: (1) pers Islam, dan (2) pers umum.


Apakah sebenarnya pers Islam itu? Drs. H.M. Baharun, SH., MA. dalam Wawasan Jurnalistik Global (1999) menjelaskan, “Muktamar Mass Media Islam Sedunia I (September, 1990, di Jakarta) telah berusaha merumuskan kriteria Pers Islam. Disebut-sebut, bahwa yang dikategorikan sebagai Wartawan Muslim itu, sudah jelas adalah seorang Muslim yang menulis dari sudut pandang Islam. Menyampaikan dan menganjurkan pesan (missi) Islam dan membelanya dengan ide dan gagasan akidah Islamiyyah.


“Selanjutnya ditetapkan, bahwa yang disebut sebagai Pers Islam itu, ialah segala liputan dan tulisan lainnya yang senantiasa mendasarkan pemberitaannya atas kebenaran Islam dengan cara dan metode yang diatur agama Islam, yakni bi al-mauizhah al-hasanah (pendekatan yang baik). Hingga memungkinkan terjalinnya pengertian pembaca terhadap Islam. Dengan kata lain, Pers Islam itu harus selaras dengan tuntunan Islam itu sendiri. Bukan sebaliknya, Pers Islam di luar metode dan aturan Islam.”


Dalam kenyataannya, pers umum lebih banyak daripada pers Islam. Bahkan telah umum diketahui bahwa pers dunia banyak dikuasai orang-orang Yahudi. Maka, tak heran bila dakwah dan perkembangan keagamaan Islam tak banyak mendapat perhatian dari kebanyakan media. Kalaupun ada liputan keagamaan, isinya belum tentu sesuai dengan harapan Muktamar Mass Media Islam Sedunia I di atas. Bahkan tak jarang malah menyudutkan Islam, sebagaimana liputan runtuhnya WTC dan kartun nabi.


Mengapa tak semua pers tertarik mengusung atau menyelipkan dakwah Islam? Barangkali dua hal menjadi faktor utama. Pertama, kurangnya ghirah keislaman di kalangan pemilik dan pengelola pers. Hal ini bisa disebabkan kurangnya pemahaman agama, bisa juga karena ketidakpedulian terhadap masalah keagamaan. Kedua, pertimbangan pemasaran, dimana tampilan yang islami dianggap hanya menarik sebagian kecil pembaca.


Kalau saja pers umum Indonesia menyadari pentingnya menyelipkan dakwah Islam yang rahmatan lil-alamin dan pers Islam lebih banyak dan lebih inovatif, tentu kehidupan kebangsaan dan keberagamaan di tanah air akan lebih baik dan lebih rukun.


Dalam hal ini, menarik ungkapan KH A. Mustofa Bisri—ulama yang juga dewan redaksi/penasehat berbagai media—bahwa dalam berdakwah dengan media perlu dibedakan antara dakwah dan amar makruf nahi munkar. “Dakwah itu ‘ngajak. Jadi ada suatu nuansa bujukan—dalam tanda kutip—karena ‘ngajak. Karena itu harus ada hikmah, ada kearifan, ada kebijaksanaan…. Berbeda dengan amar makruf nahi munkar. Amar makruf nahi munkar itu untuk kalangan sendiri yang sudah masuk ke ‘sabili rabbi’. Jadi ada dua kelompok. Yang satu sudah masuk dalam jalan Allah, yang satu belum di jalan Allah. Yang belum di jalan Allah, ini diajak. Yang sudah, di-amar makruf nahi munkar. Pengertian menurut saya begitu. Karena ayatnya beda-beda.” (Buletin SIDOGIRI, 001/Sya’ban-Ramadhan 1426)


Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) telah membuat Sepuluh Pedoman Penulisan Bidang Agama pada 23 Desember 1979, sebagai pegangan moral bagi wartawan Indonesia. Wartawan dituntut memahami pedoman ini dengan kesadaran bahwa agama mempunyai peranan positif dan penting dalam pembangunan negara dan dalam pembinaan akhlak bangsa.


Memperskan Islam


Karena pers demikian berpengaruh, tak heran sejumlah ulama juga berdakwah Islam melalui pers. Misalnya, Syekh Muhyiddin al-Khayyath (1875-1889) penulis Durusut-Tarikh al-Islami, adalah ulama yang juga wartawan. Ia menjadi redaksi surat kabar terkemuka di Beirut, al-Iqbal dan al-Ittihad al-Utsmani. Syekh Yusuf al-Asir ash-Shaidawi asy-Syafii (1815-1889), guru al-Khayyath, juga ulama sekaligus wartawan. Demikian pula Syekh Musthafa al-Ghulayaini (1886-1945) penulis Izhzhatun-Nasyi’in, Ulama sekaligus wartawan. Ia penerbit Majalah Nibras.


Tokoh-tokoh modernis seperti Syaikh Jamaluddin al-Afghani (1838-1897) dan Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905) menebarkan ide-idenya lewat majalah al-Urwatul-Wutsqa, Sayid Muhammad Rasyid Ridla (1865-1935) dengan majalah al-Manar, Syaikh Muhammad ibn Salim al-Kalali dan Syaikh Muhammad Thaher ibn Muhammad Jalaluddin al-Azhari mendirikan majalah al-Imam pada 1906 di Singapura. Tokoh terakhir ini bersama Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau juga mendirikan majalah al-Munir pada 1911.


KH Machfudz Shiddiq (1907-1944), Ketua Umum PB NU, ulama sekaligus wartawan. Ia aktif menulis di Soeara NO hingga menjadi pemimpin redaksinya. Ketika Soeara NO berubah menjadi koran Berita NO, ia juga terlibat aktif di dalamnya. Dan KH A. Wahid Hasyim (1914-1953), Menteri Agama dan Ketua Umum PB NU, ulama sekaligus wartawan, pemimpin redaksi Suluh NU, dan kolumnis di berbagai media.


Prof Dr KH HAMKA (1908-1981), ketua MUI pertama dan anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ulama sekaligus jurnalis dan sastrawan terkemuka. Ia menulis di majalah Khatib al-Ummah, pemimpin redaksi Tabligh Muhammadiyah, Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.


Prof KH Saifuddin Zuhri (1919-1986), Menteri Agama dan Sekjen PB NU, ulama sekaligus wartawan. Pertama-tama menjadi koresponden surat kabar Pemandangan dan Darmokondo, membantu kantor berita Antara, rajin menulis di Berita Nahdlatoel Oelama, Soeloeh Nahdlatoel Oelama, Soeara Ansor, surat kabar Hong Po, mingguan Pesat, Politik, Penggugah, dan lain-lain, sampai menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi surat kabar Duta Masyarakat.


Selain banyak ulama yang sekaligus wartawan, banyak pula ulama yang berdakwah dan menulis hal-hal keagamaan di media massa, seperti KH A. Wahid Hasyim, Mohammad Natsir, Prof KH Saifuddin Zuhri, Prof Dr KH HAMKA, KH Abdurrahman Wahid, DR KH M.A. Sahal Mahfudh, KH A. Mustofa Bisri, KH Abdul Muchit Muzadi, dan KH Salahuddin Wahid. Sedang ulama yang menulis di majalah pesantrennya adalah KH Abdullah Faqih Langitan, Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf Pasuruan, KH Zuhri Zaini Probolinggo, dan lain lain.


Sejumlah pesantren memang menyadari besarnya pengaruh pers sebagai sarana dakwah, sehingga menerbitkan media massa. Misalnya, PP Tebuireng Jombang menerbitkan majalah Tebuireng, PP Sidogiri Pasuruan menerbitkan Buletin SIDOGIRI, PP Lirboyo Kediri menerbitkan majalah Misykat, PP Sunniyah Salafiyah Pasuruan menerbitkan majalah Cahaya Nabawiy, PP Gontor Ponorogo menerbitkan majalah Gontor, dan PP Nurul Jadid Probolinggo menerbitkan majalah Alfikr.


Semakin tahun rasanya pers Islam memang semakin semarak. Selain harian Republika yang diterbitkan ICMI dan majalah Risalah dan Aula yang diterbitkan NU, ada majalah Hidayah, Suara Hidayatullah, Alkisah, Sabili, Cahaya Sufi, Almihrab, dsb. Ditambah lagi dengan munculnya majalah-majalah pesantren.


Perkembangan ini patut didukung. Tetapi juga tak bisa dipungkiri masih banyak ulama dan pesantren yang tak tertarik memanfaatkan pers sebagai media dakwah. Berdasar data Departemen Agama tahun 2005, terdapat 14.656 pesantren di Indonesia. Dari jumlah itu, tampaknya tak sampai 20 persen pesantren yang menerbitkan majalah. Dan kalau diperkirakan jumlah ulama Indonesia sebanyak 10 juta, tampaknya tak sampai 10 persen yang berdakwah lewat media.


Bill Kovich, wartawan terkemuka Amerika, sering mengatakan, “Kalau ada satu hal di luar agama yang berguna buat kehidupan orang banyak, itu adalah jurnalisme.” Nah, bagaimana kalau agama dan jurnalisme digabungkan, dengan memperbanyak dan memperkuat pers Islam? Tentu akan semakin besar manfaatnya bagi orang banyak. []


Dimuat di Buletin Sidogiri Edisi 37/Tahun IV/Rabiul Awal 1430 H. Juga bisa dibaca di www.sidogiri.net


Tidak ada komentar:

Posting Komentar