Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

29 Maret 2009

Menjawab Ayat Ayat Setan dengan Ayat Ayat Cinta



Apakah sama Ayat Ayat Cinta dengan Ayat Ayat Setan? Tentu tidak sama. Ayat Ayat Cinta adalah novel dakwah Islami karya Habiburrahman El Shirazy. Novel ini mega best seller, dalam waktu tiga tahun telah terjual lebih dari 400 ribu kopi. Dan ketika novel ini difimkan, dengan cepat menarik penonton lebih dari 3 juta orang.

Ayat Ayat Cinta berusaha menampilkan hubungan yang baik antar Muslim dan non Muslim. Diceritakan bahwa Fahri, mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir yang beragama Islam, bertetangga dengan baik dan saling menolong dengan keluarga Tuan Boutros Girgis, sebuah keluarga Kristen Koptik yang taat. Dan anak mereka, Maria, ternyata suka pada al-Qur’an dan hafal beberapa surat al-Qur’an. Mereka memandang orang Islam sebagai teman. Bukan musuh.

Diceritakan juga, ada tiga turis Amerika naik metro, salah satunya nenek-nenek. Awalnya, tak seorangpun memberi tempat duduk pada nenek yang kelelahan itu. Tetapi seorang perempuan bercadar bangkit dari tempat duduknya dan mempersilakan nenek itu duduk. Ketika ada yang menyalahkan perempuan itu, Fahri membelanya dengan menunjukkan dalil bahwa tamu harus dihormati dan orang kafir dzimmi yang berada dalam lindungan Islam tak boleh disakiti.

***

Berbeda dengan Ayat Ayat Cinta, novel Ayat-Ayat Setan (Satanic Verses) karya Salman Rushdie berusaha melecehkan Islam dan memicu permusuhan antar umat beragama. Novel ini muncul tahun 1988. Tokoh dalam novel tersebut banyak menggambarkan Nabi Muhammad saw yang namanya diganti menjadi Mahound. Rushdie juga memasukkan Allah sebagai salah satu tokoh dalam novelnya. (Jawa Pos, 01/04/08)

Tentu saja munculnya novel tersebut menyakiti hati umat Islam dan menimbulkan kontroversi. Bahkan pada 1989, pemimpin Iran Ayatullah Khomeini memfatwakan untuk membunuh Rushdie. Fatwa itu membuat Rushdie ketakutan, hingga ia bersembunyi bertahun-tahun. Anehnya, tahun 2007 Ratu Elizabeth II dari Inggris menganugerahkan gelar kebangsawanan “ksatria” pada Rushdie.

Setelah lama tak terdengar kabarnya, beberapa waktu lalu Ayat-Ayat Setan dipentaskan sebagai drama teatrikal di Jerman. Sekelompok seniman panggung Jerman memainkannya pada Minggu 30 Maret. Mereka mendapat dukungan penuh dari Rushdie. Dan ia sangat senang novelnya itu dipentaskan. Drama selama 3,5 jam tersebut berlangsung meriah dan lancar dan dijaga ketat oleh polisi setempat.

Setelah munculnya Ayat Ayat Setan Rushdie, muncul “karya seni” lainnya yang juga bertujuan menyulut permusuhan antara umat Islam dan umat beragama lain. Kartun Nabi dibuat oleh Kurt Westergaard dan dimuat di koran Denmark Jylland Posten dan beberapa media Barat lain, di antara isinya menggambarkan seakan Nabi gila perang. Film Fitna dibuat oleh anggota parlemen Belanda Geert Wilders, dengan isi gambar aksi terorisme dan kliping berita, serta potongan ayat al-Qur’an, untuk menuduh al-Qur’an sebagai kitab yang berbahaya.

***

Islam adalah agama yang ramah. Agama yang membawa rahmat ke seluruh alam (QS al-Anbiya’ [21]: 107). Agama yang--meminjam judul novel El Shirazy--membawa Ayat Ayat Cinta antar umat manusia. Islam tidak menyebarkan Ayat Ayat Setan yang memicu kebencian dan permusuhan antar umat beragama.

Berbagai upaya untuk meniup bara permusuhan antara kaum Muslim dan umat beragama lain patut disikapi dengan kepala dingin. Bila kaum Muslim bereaksi berlebihan dengan--misalnya--merusak kedutaan besar negara lain atau menyakiti umat beragama lain, justru citra Islam akan buruk di mata dunia.

Adalah bijak bila kita menjawab ejekan dan tuduhan terhadap Islam itu dengan menampilkan wajah Islam yang ramah. Biasanya bila muncul karya kontroversial yang memojokkan Islam, umat Islam bereaksi dengan demo besar-besaran di berbagai negara. Bila biasanya demo semacam itu membawa spanduk-spanduk yang penuh amarah, bahkan gambar/foto yang menyeramkan, cobalah sekali-kali demo semacam itu membawa spanduk-spanduk yang penuh keramahan dan gambar/foto yang menyentuh hati.

Misalnya, spanduk itu bertuliskan, “Bila kami tak menghina Yesus dan Musa, mengapa kalian menghina Nabi kami?” Kita tunjukkan Nabi kerap memaafkan musuh-musuhnya dan bersikap baik pada kafir dzimmi. Bawalah pula gambar yang menyentuh hati seperti foto tokoh Islam dan tokoh agama lain bersalaman atau berpelukan, foto ayah Palestina atau Irak yang menggendong anaknya yang mati karena perang, dll.

Bila mereka menuduh Islam agama teror atau agama perang, kita tunjukkan siapa sebenarnya yang suka perang dan menyerang negara lain, dan berapa umat Muslim yang telah terbunuh. Bila mereka membuat karya-karya yang memojokkan Islam dan menyesatkan, kita buat karya-karya tandingan yang menampilkan keagungan Islam dan membetulkan kesalahan persepsi mereka terhadap Islam.

Katib Majelis Keluarga PP Sidogiri pernah menyampaikan, “Ungkapan ‘lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan’ itu untuk perkataan yang baik. Kalau untuk perkataan yang mencela (tidak baik), maka ‘lihatlah siapa yang mengatakan, bukan apa yang dikatakan.’ Kalau yang mengatakan adalah orang gila, buat apa kita marah?”

Lihatlah pemikiran Salman Rushdie, Kurt Westergaard, dan Geert Wilders, “beres” atau tidak? Bila kita dengan tenang membuktikan bahwa apa yang mereka ungkapkan itu tidak benar, kita akan banyak menarik simpati terhadap Islam, termasuk dari warga negara mereka sendiri. []

Dimuat di Buletin SIDOGIRI edisi 28/Tahun III/Rabiuts Tsani 1429

Tidak ada komentar:

Posting Komentar