Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

23 Maret 2009

Mewaspadai Tipu Daya Aliran Sesat

Setelah Al-Qiyadah Islamiyah banyak diberitakan, tiba-tiba aliran sesat menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Berbagai dialog, seminar, ceramah, investigasi, wawancara, dan lain-lain seputar aliran sesat banyak dilakukan dan diminati oleh masyarakat. Tapi benarkah di Indonesia banyak berkembang aliran sesat? Apa saja dan bagaimana cara mengenalinya?

Aliran Sesat di Indonesia

Ada beberapa aliran sesat yang berkembang di Indonesia. Di antaranya adalah, pertama, Ahmadiyah. Berdiri sejak 1889 di Pakistan, didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad. Masuk ke Indonesia pada 1924. Sesat karena meyakini bahwa sang pendiri, Mirza Ghulam Ahmad, adalah nabi. Ahmadiyah telah difatwa sesat oleh MUI pada 1980 dan 2005.

Kedua, Syiah. Syiah lahir pada masa kekhalifahan Sayidina Ali, namun baru menarik perhatian dunia setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979. Syiah sesat karena memiliki rukun Iman yang berbeda dengan rukun Iman kaum Muslimin; meragukan kesempurnaan al-Quran, bahkan mengubah beberapa ayatnya; serta mencela dan mengafirkan para Sahabat Nabi. Pada 1984, MUI telah mengingatkan agar umat Islam waspada dan berhati-hati pada Syiah. 

Ketiga, Salamullah (Komunitas Eden). Aktif sejak 1995, pendirinya Lia Aminuddin. Sesat karena Lia, pendirinya, mengaku bertemu malaikat Jibril, lalu mengaku sebagai Bunda Maria, dan akhirnya mengaku sebagai Jibril; Lia mengangkat anaknya, Ahmad Mukti, sebagai Nabi Isa; dan mempunyai kitab suci tersendiri. Salamullah (Komunitas Eden) telah difatwa sesat oleh MUI pada 1997. 

Keempat, Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Aktif sejak 2001, pendirinya Ahmad Mushaddeq. Sesat karena tidak menjalankan rukun Islam: shalat hanya sekali sehari pada malam hari, tidak wajib puasa, zakat, dan haji; menganggap musyrik orang di luar Al-Qiyadah; punya rasul baru—Ahmad Mushaddeq—bergelar Almasih Almaw’ud; dan mempunyai syahadat baru: Asyhadu an lâ ilâha illallâh, wa asyhadu anna Almasîh Almaw’ûd Rasûlullâh. Al-Qiyadah telah difatwa sesat oleh MUI pada 2007. 

Kelima, Jemaah Ngaji Lelaku. Muncul di Malang, aktif sejak 2005. Pendirinya Yusman Roy. Sesat karena mengajarkan shalat dalam dua bahasa, Arab dan Indonesia. Telah difatwa sesat oleh MUI pada 2005.

Keenam, Negara Islam Indonesia (NII). Sesat karena mengganti kewajiban shalat dengan kewajiban mencari anggota baru, menghalalkan segala cara untuk bisa berinfak ke organisasi, dan mengancam anggota yang mundur. Aliran ini telah difatwa sesat oleh MUI pada 2003.

Ketujuh, Islam Jamaah/Lemkari/LDII. Aktif sejak 1970-an. Pendirinya Nur Hasan Ubaidah. Telah dilarang oleh pemerintah pada 1971. Kemudian pada 1991 aliran ini berubah nama menjadi Lemkari dan Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII). Sesat karena menganggap musyrik umat di luar Islam Jamaah, pakaian dan tubuh yang tersentuh umat lain harus disucikan, dan tidak mau shalat bersama umat di luar kelompoknya. 

Kedelapan, Al-Quran Suci. Sesat karena tidak mengakui Hadis Nabi, tidak melakukan kewajiban dalam rukun Islam, memisahkan jamaah dari keluarganya, dan menarik infak yang besar dari anggotanya. 

Kesembilan, Islam Sejati. Di antara kesesatannya adalah melarang shalat Jumat.
Kesepuluh, Ingkar Sunah. Sesat karena mengingkari Hadis dan Sunah Nabi. Hanya mengakui al-Quran. 

Kesebelas, Manunggaling Kawula-Gusti. Muncul di Jawa pada abad ke-13, diperkenalkan oleh Syekh Siti Jenar. Sesat karena meyakini konsep wahdatul wujûd, yaitu menyatunya Tuhan ke dalam diri manusia.

Kedua belas, Islam Hakikat. Sesat karena tidak melaksanakan shalat sebagaimana diajarkan Rasulullah. Menurut aliran ini, shalat cukup dilakukan dengan hanya mengingat Allah.  

Ketiga belas, Islam Liberal. Mulai aktif menampakkan diri sejak didirikannya Jaringan Islam Liberal (JIL). Sesat karena mempertanyakan kebenaran al-Quran dan Hadis, menafsiri al-Quran tidak berdasarkan kaidah tafsir, mengampanyekan “relativisme kebenaran” (tak ada yang mutlak benar, walaupun itu agama), dan selalu memenangkan akal bila hasil pemikiran akal bertentangan dengan ajaran agama. Aliran ini telah difatwa sesat oleh MUI. 

Selain tiga belas aliran di atas, ada sejumlah aliran sesat lain di Indonesia, namun kebanyakan dalam skala kecil atau bersifat lokal. Semua aliran sesat itu mengancam akidah umat. 

Mewaspadai Aliran Sesat

Mengapa aliran sesat banyak bermunculan di Indonesia? Jika menilik sejarah dan meneliti di daerah-daerah, sebenarnya kebanyakan aliran sesat itu tidak baru muncul. Memang sebagian kecil baru muncul, namun sebagian besar telah muncul sejak lama, hanya saja baru ramai diberitakan (atau ramai diberitakan lagi) akhir-akhir ini.

Mengapa aliran sesat masih laku? Secara faktual, lakunya aliran sesat biasanya karena bermodalkan salah satu dari tujuh hal. Pertama, mengajarkan diskon ibadah, seperti tidak wajib shalat lima waktu, haji tidak harus ke Mekah, shalat tidak harus berbahasa Arab, dan lain-lain. Kedua, menjanjikan kesaktian atau banyak rezeki. 

Ketiga, menampilkan ceramah atau diskusi yang logis dan menarik. Keempat, memperbolehkan hal-hal yang dilarang syariat, seperti zina. Kelima, menampilkan pemimpin sebagai juru penyelamat, Ratu Adil, atau Imam Mahdi. Keenam, menjanjikan kedamaian dan ketenangan hati dengan ikut aliran tersebut. Dan ketujuh, diproklamasikan dan disebarkan oleh tokoh yang karismatik.  

Lalu bagaimana cara mereka menarik pengikut? Cara pemasaran atau penyebaran aliran sesat bermacam-macam, tergantung kebijakan pimpinan dan tuntutan kondisi di lapangan. Biasanya dilakukan dengan pendekatan persuasif sebagai teman, lalu ajakan untuk menghadiri pengajian atau acara aliran, lantas meningkat pada obrolan atau diskusi menarik seputar agama, kemudian ajakan untuk masuk dalam aliran tersebut. Ini dilakukan misalnya oleh Al-Quran Suci, Al-Qiyadah Al-Islamiyah, dan Islam Liberal. Tak jarang pula aliran sesat memakai cara paksaan dalam menambah pengikut.  

Dengan modal dan cara pemasaran semacam itu, tak mengherankan bila aliran sesat laku pada sebagian umat, walaupun nyata kesesatannya. Ditambah dengan masih banyaknya umat yang awam dalam masalah agama, hingga mudah terkena tipu daya aliran sesat yang cukup meyakinkan. 

Untuk menyelamatkan diri dan keluarga dari tipu daya aliran sesat, tiga hal berikut penting dilakukan. Pertama, memahami bahwa aliran yang benar dalam Islam adalah Ahlusunah wal Jamaah. Yaitu aliran yang diikuti mayoritas umat Islam di seluruh dunia. Ahlusunah wal Jamaah ini dalam Akidah mengikuti ajaran Imam al-Asy’ari dan Imam al-Maturidi; dalam Fikih mengikuti ajaran salah satu dari empat mazhab: Syafii, Hanafi, Maliki, atau Hanbali; dan dalam Tasawuf mengikuti ajaran Imam al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi. 

Kedua, bila ada aliran atau ajaran baru yang dikhawatirkan sesat, maka dilihat dulu apakah bertentangan dengan ajaran Ahlusunah wal Jamaah yang diikuti mayoritas umat? Atau apakah aliran itu masuk dalam kriteria aliran sesat yang dikeluarkan MUI? Bila bertentangan dengan Ahlusunah wal Jamaah atau masuk dalam kriteria dari MUI, berarti aliran itu memang sesat. Sepuluh kriteria aliran sesat menurut MUI itu adalah:  

1. Mengingkari rukun iman dan rukun Islam 
2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (al-Quran dan as-Sunah) 
3. Meyakini turunnya wahyu setelah al-Quran 
4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi al-Quran 
5. Melakukan penafsiran al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir 
6. Mengingkari kedudukan Hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam 
7. Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul 
8. Mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir 
9. Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah 
10. Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i. 

Ketiga, bila masih dirasa sulit untuk menilai ajaran itu sesat atau tidak, maka cara paling mudah adalah menanyakannya pada ormas Islam seperti NU atau MUI, atau pada kiai, habib, ustad, dan guru agama yang terpercaya. []

Dimuat di Buletin SIDOGIRI edisi 24/Tahun III/Dzul Hijjah 1428

Tidak ada komentar:

Posting Komentar