Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

11 Maret 2009

Tahun Baru dengan Obama

Tahun baru Hijriah dan Masehi kali ini terjadi hampir bersamaan. Tahun baru 1430 Hijriah pada Senin 1 Muharam, sedangkan tahun baru 2009 Masehi pada Kamis 1 Januari. Terpaut tiga hari saja.

Pada 20 Januari 2009, momen yang sangat bersejarah akan terjadi. Barack Hussein Obama, akan dilantik sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat (AS). Obama, yang berayah seorang Muslim akan dilantik menjadi presiden di negara adidaya yang berperan sebagai “polisi dunia” itu. Dengan demikian ia akan resmi menjadi “kepala polisi dunia”.

***
Di bawah kepemimpinan presiden sebelumnya, George Bush, AS tampak doyan perang. Perang Irak, Perang Afghanistan, dan perang melawan terorisme adalah buah karyanya. Dan, celakanya, Islam kerap menjadi target “serangan”. Islam kerap dianggap melanggar HAM dan dicurigai identik dengan terorisme.

Karena sikap rezim Bush itulah AS banyak dibenci, terutama di negara Muslim. Demonstrasi anti AS kerap terjadi di berbagai negara. Bagi mereka, AS dianggap menerapkan standar ganda dalam perannya sebagai “polisi dunia”. Misalnya, AS menentang proyek listrik tenaga nuklir Iran yang diduga akan disalahgunakan untuk membuat senjata nuklir, tapi di sisi lain AS membiarkan Israel yang jelas-jelas memiliki senjata nuklir.

AS juga kerap berteriak atas dugaan pelanggaran HAM di negara-negara lain, tapi AS sendiri mengoperasikan penjara Guantanamo yang penuh dengan tahanan yang dipenjara tanpa pengadilan dan diinterogasi dengan cara-cara tidak manusiawi. AS kerap memperjuangkan HAM, bahwa semua manusia punya hak yang sama, tapi di AS sendiri suku asli Indian dan minoritas kulit hitam tak mudah menempati kedudukan-kedudukan penting.

Dengan citra AS seperti itu, ternyata pada pemilihan presiden AS November lalu calon presiden berkulit hitam—Obama—menang. Dan uniknya, presiden terpilih AS berkulit hitam itu bernama tengah Hussein, berayah kandung Muslim, dan pernah tinggal di negara Muslim, Indonesia!

***
Sikap Obama yang ramah, inspiratif, toleran, dan bersedia berdialog dengan negara-negara yang berseberangan dengan AS, membuatnya begitu menarik. Seruan Obama untuk membuat perubahan, membuat warga AS dan warga dunia begitu berharap padanya. Latar belakang Obama yang tak jauh dari Islam—meski juga tak mesti dekat—menambah daya tariknya bagi kaum Muslim dunia.

Tak heran, warga dunia ikut gembira dengan terpilihnya Obama. Banyak orang menangis terharu atas kemenangannya, bukan hanya di AS, tapi juga di negara lain—sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia.

Selain AS dan Kenya (negara asal ayah Obama), Indonesia adalah negara yang paling gembira dengan kemenangan Obama. Obama yang pernah tinggal dan bersekolah SD di Indonesia selama 4 tahun, diharap akan memperbaiki hubungan AS dengan dunia Islam, terutama dengan Indonesia.

Apalagi—seperti diungkapkan adiknya, Maya Soetoro-Ng—Obama sewaktu kecil di Indonesia pernah pakai sarung dan bermain di masjid dengan teman-temannya yang Muslim.

Kebijakan perang AS memunculkan sikap radikal dari sebagian orang. Muncul aksi-aksi terorisme yang diklaim sebagai jihad oleh pelakunya. Runtuhnya gedung WTC di AS pada 11 September 2001 pun menjadi alasan yang kuat bagi AS untuk menabuh genderang perang terhadap terorisme di seluruh dunia.

Di Indonesia, aksi-aksi terorisme juga terjadi, seperti Bom Bali dan pemboman kedutaan besar negara Barat. Pelaku—seperti Amrozi, Imam Samudera, dan Mukhlas—dan kelompoknya menganggap aksi terorisme yang dilakukan adalah jihad. Padahal di antara korbannya adalah saudara sesama Muslim.

Seorang korban Bom Bali yang Muslim mengatakan, “Kalau memang ingin berjihad, mengapa mereka tidak berperang saja di negara lain yang sedang mengalami perang, seperti Afganistan dan Irak? Kok malah membom orang sipil di sini.”

Tindakan terorisme semacam pemboman itu tidak dibenarkan oleh mayoritas ulama di Indonesia, dari ormas keagamaan MUI, NU, Muhammadiyah, dll.

Kalau AS lebih ramah pada dunia Islam, tentu para teroris tak punya alasan kuat untuk melakukan tindakan terorisme. Sehingga, aksi terorisme bisa ditekan, dan perang melawan terorisme juga bisa segera dihentikan.

Harapan besar dunia kini terpikul di pundak Obama. Pemerintahannya besar kemungkinan berbeda dengan pemerintahan Bush. Obama diharapkan dapat segera memulihkan krisis ekonomi global yang diakibatkan oleh krisis ekonomi di AS. Obama juga diharapkan menebar kedamaian dan toleransi ke seluruh dunia, termasuk ke negara-negara Muslim.

Pemerintahan Obama bisa ramah dan menghembuskan angin perdamaian. Tapi bisa juga mempertahankan sikap curiga dan mudah berperang seperti di masa Presiden Bush. Dan bisa juga bersikap abu-abu, ramah tapi juga masih garang. Yang jelas, dengan aksi (sikap) yang berbeda, tentu reaksi yang diterima juga akan berbeda.

Tahun baru menyiratkan harapan baru. Harapan akan hari depan yang lebih baik. Mari kita berharap dan berdoa dunia akan bertambah aman dan damai sejak tahun baru 1430 H/2009 M ini. Karena kekuatan harapan dan doa bisa memudahkan segalanya. Namun, juga jangan berharap terlalu besar, agar tidak kecewa terlalu besar saat harapan tak tercapai. []

Dimuat di Buletin SIDOGIRI edisi 35/TahunIV/Dzulhijah 1429 H. Juga bisa dibaca di www.sidogiri.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar