Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

11 Maret 2009

Tali NU dari Kiai Nawawie Sidogiri


Salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) adalah Hadratussyekh KH Nawawie bin Noerhasan, Pengasuh PP Sidogiri. Tak banyak yang tahu beliau menjadi Mustasyar PB NU sampai akhir hayatnya, juga menjadi “pengikat” NU.

Setelah para ulama sepakat mendirikan NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari memerintahkan pada KH Ridlwan Abdullah, Surabaya, untuk membuat lambang NU. Lewat istikharah, Kiai Ridlwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Hasil itu segera ia laporkan kepada Kiai Hasyim. Kata Kiai Hasyim, “Gambar itu sudah bagus. Tapi saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawie di Sidogiri Pasuruan untuk meminta petunjuk lebih lanjut.”

Kiai Ridlwan segera menemui dan mengutarakan maksudnya kepada Kiai Nawawie, yang di kalangan ulama saat itu dikenal sebagai kiai yang waskita (mukâsyafah). Beliau menjawab dalam bahasa Jawa, “Saya setuju dengan gambar bumi dan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya. Dan juga ditambah tulisan ayat, ‘Wa‘tashimû bi-hablillâhi jamî’an wa-lâ tafarraqû’.” (QS Ali Imran [3]: 103)

Kiai Nawawie juga meminta agar tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat agak longgar. Setelah lambang itu disahkan, Kiai Nawawie di hadapan kiai-kiai berkata, “Selagi (filosofi) tali yang mengikat bumi itu masih kuat, maka sampai kiamat NU tidak akan habis dan selalu ada.” []

Disadur dari Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar