Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

26 April 2009

Hitam Putih Film Dakwah


Zaman yang semakin maju membuat berbagai hal yang dulu tak mungkin kini menjadi mungkin. Di antaranya, merekam gambar dan suara dalam bentuk film. Di Indonesia, dulu industri perfilman berjaya, kemudian merosot, hingga bangkit lagi sejak suksesnya film Ada Apa Dengan Cinta. 
Film-film itu berpengaruh terhadap masyarakat. Karena nyata pengaruhnya, film pun diperhitungkan sebagai media dakwah. Muncul Kiamat Sudah Dekat, Ayat-Ayat Cinta, Kun Fayakun, dll, seperti munculnya film Sembilan Wali di masa lalu. Ampuhkah film sebagai media dakwah? Dan sesuaikah film dakwah dengan syariah?

Kontroversi Film Dakwah

Secara obyektif, tampaknya kita tidak dapat menilai seluruh film itu buruk, atau seluruh film itu baik. Karena dalam kenyataannya, terdapat berbagai jenis film dan hasil akhirnya juga bermacam-macam. 

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia (1990), film dalam batasan sinematografi sepanjang sejarahnya memberikan keluasan tema bila dilihat dari isi sasaran atau tujuannya. Terdapat berbagai jenis film, di antaranya film instruktif, film penerangan, film jurnal, film gambar atau animasi, film boneka, film iklan, film dokumenter, dan film cerita.

Selanjutnya dijelaskan, film instruktif dibuat dengan isi berupa pengarahan yang berkaitan dengan sebuah pekerjaan atau tugas. Film penerangan merupakan film yang memberi kejelasan suatu hal, misalnya mengisahkan pentingnya program keluarga berencana. Film jurnal dibuat untuk mendukung sebuah berita, misalnya yang ditayangkan dalam acara “Dunia dalam Berita TVRI”.

Film gambar atau animasi dibuat dari gambar-gambar tangan (ilustrasi), seperti Donald Duck. Film boneka ditampilkan dengan pemain berupa boneka, misalnya film seri TVRI Si Unyil. Film iklan isinya mempropagandakan produk-produk tertentu, yang ditawarkan produk benda atau jasa. Film dokumenter berisikan rekaman segala sesuatu sesuai dengan apa yang dilihat. Biasanya berisikan peristiwa penting yang diperkirakan tak akan terulang kembali.

Dan film cerita adalah film yang berisi kisah manusia (roman) yang dari awal sampai akhir merupakan suatu keutuhan cerita dan dapat memberikan kepuasan emosi kepada penontonnya. Film cerita dapat berupa satu film dengan satu masa putar, dapat pula berupa film serial dengan masa putar lebih dari satu kali. Film serial biasanya ditujukan untuk penayangan televisi.

Dari berbagai jenis film tersebut, setidaknya lima jenis layak digunakan untuk dakwah. Yaitu (1) film instruktif, misal film tata cara salat; (2) film penerangan, misal film Harun Yahya tentang kesalahan Teori Evolusi Darwin, dan film profil pesantren; (3) film iklan, misal film iklan pakaian islami dan iklan puasa Ramadhan; (4) film dokumenter, misal film dokumenter ceramah dan pertemuan ulama; dan (5) film cerita, misal film cerita dakwah Islam The Message dan dakwah Walisongo.

Bagaimana film-film dakwah yang ada? Kenyatannya, banyak sorotan terkait film dakwah/religi yang telah beredar. Ada tiga hal utama yang disorot. Pertama, isi atau materi film yang tidak sesuai dengan syariah. Misalnya, film-film sinetron religi yang lebih menonjolkan hal-hal mistis daripada pesan agama. Bukan hanya ulama, aktor Deddy Mizwar juga menyayangkan maraknya sinetron bertema mistis mengenai jin dan setan. Menurutnya, “Sekarang ini banyak sinetron yang katanya sinetron religius, tapi sebetulnya bukan. Sinetron semacam itu, hanya akan menjadi sosialisasi yang menyesatkan, karena agama bukan mistis melulu.” Mengenai kehadiran ustad dan ayat al-Qur’an dalam sinetron-sinetron tersebut, menurutnya hal itu hanya sekedar “bumbu”.

Contoh lain, Perempuan Berkalung Surban (PBS). Film yang disutradarai Hanung Bramantyo ini dianggap memberikan citra yang buruk terhadap Islam, sehingga MUI meminta film ini ditarik dari peredaran untuk diubah sejumlah adegannya. "Film itu memberikan citra yang buruk tentang Islam, yang kedua citra yang buruk tentang pesantren. Maka, untuk tidak lebih banyak protes dari masyarakat, agar tidak banyak keresahan yang ditimbulkan, saya menyarankan stop dulu," kata pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof. KH Ali Mustafa Yaqub, di Jakarta (Republika Newsroom, Sabtu 07/02/09)

Satu contoh lagi adalah sinetron Hareem. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat meminta pada Indosiar untuk segera memperbaiki isi sinetron Hareem. Jika tidak, KPI berencana menghentikan sementara sinetron itu. Penegasan tersebut tertuang dalam surat peringatan KPI Pusat pada Indosiar, Rabu (4/2/09), menyusul pengaduan MUI dan 145 masyarakat. Dalam surat itu juga diterangkan masukan MUI yang menyatakan bahwa sinetron tersebut melecehkan citra Islam. Adegan dalam sinetron ini dinilai sangat tidak senonoh, misalnya tentang seorang anak berebut istri keempat ayahnya. (NU Online, 5/02/09)

Kedua, pengambilan adegan film yang tidak sesuai dengan syariah. Misalnya, aurat artis terbuka, aktor dan artis yang tak terikat pernikahan beradegan sebagai suami-istri, aktor pria berperan kebanci-bancian, dll.

Ketiga, orientasi bisnis yang lebih dominan daripada dakwah. Dalam Konperensi Islam yang digelar Universitas Manchester dan Universitas Surrey, di Inggris, Muzayin Nazaruddin dari Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta menyatakan, "Bagaimanapun konteks paling kuat yang melatarbelakangi maraknya sinetron religius adalah kekuatan pemodal di balik proses produksinya (production house, pengelola stasiun televisi, dan pengiklan) yang menjadikan Islam sebagai komoditas untuk diperdagangkan."

Menurut Muzayin, bagi pemodal tidak penting apakah isi sinetron religius sesuai dengan ajaran Islam atau tidak, yang penting adalah apakah sinetron itu laku atau tidak. Sejak Ayat Ayat Cinta sukses meraup penonton hingga empat juta lebih, produsen lain pun tak mau tertinggal. (www.antara.co.id, 21/09/08)

Karena orientasi bisnis itulah tak jarang dalam film dakwah yang lebih tampak hal-hal non dakwah. Misal dalam film Sembilan Wali tahun 1985, film ini tampak lebih menekankan sisi action. Sutradaranya, Djun Saptohadi, dan penulis skenarionya, Alim Bachtiar, mengakuinya. Menurut Alim, pada masa itu, film yang gampang laku adalah film silat dan seks. ''Kalau tak ada bumbunya, tak akan dilihat,'' katanya. (Gatra, Nomor 05-06, Kamis 13 Desember 2001)

Potensi Film Dakwah

Kendati mendapat sorotan, film dakwah memiliki banyak potensi. Pertama, pesan yang disampaikan dalam bentuk film lebih mudah dipahami, misalnya dalam film tata cara salat. Kedua, film dapat mengubah persepsi masyarakat. Misalnya di Indonesia, kini perempuan bercadar tak lagi dianggap “teroris”, sebab tokoh Aisyah dalam film Ayat Ayat Cinta bercadar. 

Dan di Amerika, sebagaimana diberitakan situs dakwatuna.com (11/5/08), film telah mengubah persepsi masyarakat Amerika terhadap Islam. Hal ini terkait lomba pembuatan film pendek tentang Islam via internet yang diselenggarakan website “Link Tv” bekerjasama dengan Lembaga Sosial Islam “Ummatan Wahidah”. Salah satu juri yang juga aktor Amerika terkenal, Dani Glofer, berkomentar, “Film adalah sarana yang sangat efektif dalam mempengaruhi pemikiran dan bisa merubah persepsi dengan drastis. Saya sangat terinspirasi dari pembuatan fim ini. Saya sangat terpengaruh dengannya…”

Ketiga, film mampu mengubah gaya hidup masyarakat. Misalnya, masyarakat kota kini terbiasa dengan gaya hidup islami semacam berjilbab, berucap “Alhamdulilah” dan “Insya Allah”, karena film mencontohkannya. Keempat, dakwah dengan media film memiliki sasaran dakwah lebih luas daripada dakwah dengan tulisan dan ceramah. Kelima, film dakwah dapat abadi dan terus ditonton meski para pembuatnya telah meninggal.

Untuk menghasilkan film dakwah yang sesuai syariah, insan perfilman dan ulama harus membina hubungan baik. Dosen Universitas Al-Azhar Mesir, Syekh Dr. Ahmad asy-Syarbashi, dalam kitab Yas’alunaka fid-Din wal-Hayat mengatakan, bahwa para ulama Al-Azhar menganggap bioskop (baca: film) seperti senjata yang mempunyai dua sisi.

Asy-Syarbashi melanjutkan, “Para ulama Al-Azhar berharap agar para penanggung jawab bioskop yang ada di dunia timur maupun barat mau memperhatikan suara-suara agama, akhlak, dan tanah air. Sehingga dengan begitu mereka akan memperbanyak film-film yang berkarakter kuat, lurus, dan bersih…. Mereka juga berharap terjalinnya hubungan yang baik antara para ulama dengan para seniman atas dasar usaha untuk menghidupkan nilai-nilai agama pada satu sisi dan mengangkat nilai-nilai kesenian pada sisi yang lain.”

Selain itu, para pelaku pembuatan film dakwah diharapkan beragama dengan baik dan berniat dakwah. Dalam hal ini, patut diteladani syarat audisi pemain film Ketika Cinta Bertasbih, yaitu harus bisa membaca al-Qur’an. []

Dimuat di Buletin SIDOGIRI edisi 38/Tahun IV/Rabius Tsani 1430

Tidak ada komentar:

Posting Komentar