Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

02 April 2009

Indonesia Terlambat Membubarkan Ahmadiyah


Yang mengherankan di Indonesia adalah masih relatif banyak umat Islam yang menolak pembubaran aliran sesat. Padahal Indonesia negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, serta banyak memiliki ulama dan organisasi keagamaan.

Ketika Ahmadiyah diberitakan hendak dibubarkan atas rekomendasi Bakorpakem (Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat), muncul beragam aksi mendukung pembubaran Ahmadiyah, tapi juga muncul aksi menentang pembubaran tersebut. Ada apa dengan Indonesia?


Tidakkah mereka yang menentang pembubaran itu tahu apa dan bagaimana Ahmadiyah? Mengapa mereka membelanya? Tidakkah mereka khawatir atas kemurnian akidah Islam, yang diubah-ubah oleh Ahmadiyah? Mungkinkah mereka tidak tahu apa itu akidah Islam?


Yang kontra pembubaran bukan hanya LSM dan tokoh Islam liberal, tapi juga Wantimpres (Dewan Pertimbangan Presiden). Adnan Buyung Nasution, anggota Wantimpres bidang hukum, terus terang mengungkapkan bahwa mayoritas anggota Wantimpres menolak pembubaran Ahmadiyah, dan hanya satu anggota yang mendukung pembubaran Ahmadiyah, yaitu KH Ma’ruf Amin.


Tentu saja Adnan mengundang kecaman. Sebab dalam undang-undang, Wantimpres tidak boleh menyebarluaskan apa yang direkomendasikannya pada Presiden. Lagi pula, menurut Ketua Tim Advokasi FUI (Forum Umat Islam) Munarman dalam dialog di SCTV, Presiden SBY pernah menyatakan dalam masalah agama akan mengikuti ulama.

***

Ahmadiyah didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad (MGA) di anak benua India pada 1889. Banyak kesesatan dalam ajaran Ahmadiyah. Yang paling utama adalah pengakuan MGA sebagai nabi. Pengakuan ini sudah cukup untuk menetapkan kebatilan, bahkan kekufuran Ahmadiyah.

Selain itu, masih banyak pernyataannya yang menyimpang. Seperti Siti Maryam hamil sebab zina; dan Nabi Isa tidak diangkat ke langit dan tidak mati disalib, tapi diturunkan dari salib, lalu pergi ke India, beristri dan berketurunan, salah satu keturunannya ialah MGA.


Setelah kematian Nuruddin, pengganti MGA, Ahmadiyah pecah menjadi Ahmadiyah Qadiyan dan Ahmadiyah Lahore. Ahmadiyah Qadiyan meyakini MGA sebagai nabi, Ahmadiyah Lahore hanya mengakuinya sebagai al-Mahdi dan mujadid. Keduanya sesat dan batil.


Ahmadiyah Qadiyan masuk ke Indonesia sekitar tahun 1925. Ahmadiyah telah difatwa sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dua kali, pada 1980 dan 2005. Ulama yang duduk di MUI berasal dari berbagai ormas keagamaan, termasuk NU dan Muhammadiyah.


Setelah Bakorpakem berdialog dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), dalam rapat Bakorpakem 15 Januari lalu Pengurus Besar JAI menyampaikan 12 poin penjelasan. Di antara isinya ialah pengakuan bahwa Nabi Muhammad r adalah nabi terakhir, MGA adalah guru dan pemimpin Ahmadiyah (bukan nabi), dan Tadzkirah bukan kitab suci Ahmadiyah, kitab sucinya adalah al-Qur’an.


Dengan adanya penjelasan ini, Bakorpakem memutuskan untuk mengevaluasi ajaran Ahmadiyah selama tiga bulan. Tapi, dari hasil rapat Bakorpakem pada Rabu (16/4), ternyata hasil evaluasi menunjukkan tidak adanya perubahan dalam ajaran Ahmadiyah. Seluruh cabang JAI masih mengakui MGA sebagai nabi.


Bakorpakem merekomendasikan untuk membubarkan Ahmadiyah. Pembubaran Ahmadiyah dilakukan dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung. Namun, sebagaimana disebutkan di atas, usaha pembubaran Ahmadiyah ini mendapat tentangan dari beberapa kalangan.

***

Bila pemerintah Indonesia membubarkan dan melarang Ahmadiyah pada tahun 2008 ini, sebenarnya itu terlambat puluhan tahun.

Pada 16-10 April 1974, Konferensi Organisasi Islam se-Dunia dibawah anjuran Rabithah al-Alam al-Islami menyatakan aliran Ahmadiyah keluar dari Islam. Dan di negara asal Ahmadiyah, Pakistan, sejak 7 September 1974 amandemen konstitusi telah menyatakan Ahmadiyah keluar dari Islam.


Pada April 1984, Presiden Pakistan Ziaul Haq mengundang-undangkan peraturan yang menetapkan peribadatan Ahmadiyah sebagai perbuatan yang dapat dihukum, kaum Ahmadiyah dilarang menyebut kepercayaan mereka sebagai Islam, dan menyebut tempat ibadah mereka sebagai masjid, dan dilarang menyebarluaskan ajarannya. Mereka yang melanggar diancam hukuman penjara tiga tahun.


Saat ini, kaum Ahmadiyah di Pakistan diharuskan mencantumkan agama “Ahmadiyah” di KTP dan paspornya, bukan Islam. Agar tak serupa dengan orang Islam.


Rabithah al-Alam al-Islami dalam pertemuan khusus 6-10 April 1994 merekomendasikan agar seluruh negara Islam menekan Ahmadiyah dengan berbagai cara, antara lain menyatakan Ahmadiyah Qadiyan sebagai aliran kafir yang menyesatkan, melakukan pemboikotan ekonomi, sosial, dan budaya terhadap mereka, dan mengusahakan mereka dilarang menunaikan ibadah haji ke Mekah.


Bila Indonesia membubarkan Ahmadiyah tahun ini, berarti terlambat puluhan tahun dari negara lain. Tetapi, terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Bila Indonesia tidak membubarkan Ahmadiyah, berarti pemerintah melakukan tindakan yang tidak tepat dan tidak cerdas.


Bila Al-Qiyadah Al-Islamiyah dan Komunitas Eden bisa dilarang dan diadili, mengapa Ahmadiyah tidak? Padahal sama-sama meyakini nabi palsu. Bahkan bahaya Ahmadiyah lebih luas, sebab warga JAI ditaksir berjumlah 80 ribu orang yang mengikat pada 3.000 cabang. Sedang pengikut Al-Qiyadah dan Komunitas Eden tidak sampai begitu. []


Dimuat di Buletin SIDOGIRI edisi 29/Tahun III/Jumadil Ula 1429

1 komentar:

  1. menanggapi fatwa kafir yang dikeluarkan oleh Rabithah Alam al Islami dan MUI terhadap Ahmadiyah berikut ada beberapa fakta sejarah yang menarik. Yang jelas fatwa itu tidak mengikat, karena bukan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw, bahkan seringkali Fatwa itu salah, seperti fatwa kepada Imam Husein r.a., Imam Malik bin Anas r.a. Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Bukhari. Perhatikanlah fakta sejarah berikut ini :

    1. Fatwa yang mengkafirkan Hadhrat Imam Husein r.a. berbunyi :

    “Bismillahirramanirrahiim”.

    ……………………., menurut saya sudah terbukti bahwa Husein bin Ali telah keluar dari agama Rasulullah Saw. (Islam) oleh karena itu wajiblah ia dihukum mati.

    Tanda tangan Qadhi,
    SYURAIH

    Note : Fatwa ini disertai stempel dan tanda tangan 100 orang Qadhi dan Mufthi (Jawahirul Kalam hal. 88 cetakan 1462 H, Ilmi Tibris, Iran)

    2. Fatwa yang ditujukan kepada Imam Malik bin Anas r.a. Akibat fatwa itu beliau disiksa dengan dicambuk 70 kali didepan khalayak ramai di kota Madinah hingga punggung beliau bermandikan darah, kemudian beliau diletakkan di atas punggung onta dan diarak keliling kota Madinah dalam keadaan bermandikan darah (Sirat Aimmah Arbiah oleh Mln. Syaid Rais Ahmad Jaffari hal. 293-294).

    3. Fatwa yang ditujukan kepada Imam Syafi’i. Akibat fatwa ulama Irak dan Mesir itu Hadhrat Imam Syafi’i dihina dan dianiaya. Beliau dibawa dari Yaman ke Bagdad dalam keadaan terbelenggu untuk dipenjarakan. Sepanjang perjalanan ribuan orang mencaci maki beliau dan meneriakan kematian beliau, sedang beliau hanya menundukan kepala (Kitab Harba’i Takfir hal. 23 cet. 2 April 1933).

    4. Fatwa kafir yang ditujukan kepada Imam Abu Hanifah. Akibat fatwa tesebut beliau disiksa dan dianiaya dengan sangat kejam sekali di dalam penjara. Akhirnya beliau diracun. Ketika efek racun itu terasa akan menyebabkan kematian, beliau segera bersujud sehingga beliau wafat dalam posisi sujud ke Hadhrat Allah swt. Lebih keji lagi, kuburan beliau digali lalu dimasukkan bangkai anjing bersama janazah beliau kemudian tempat itu dijadikan wc umum, nauzubillah (Kitab Najalisul Mukminin hal. 381, Siratun Nukman Sibli hal 63, Tarikhul Khulafa hal 141).

    5. Fatwa ulama-ulama Samarkand kepada Imam Bukhari r.a. sebagai kafir dan tidak bertuhan yang akibatnya beliau dibuang ke luar negeri.

    Kini, coba renugkan! Pantaskah para Imam tersebut dikafirkan? Boleh dikata semua orang Islam sekarang ini menghormati dan mengikuti ilmu yang mereka wariskan. Kalau fatwa itu dibenarkan berarti semua orang Islam sekarang ini kafir, karena mereka itu pengikut dan penerus mereka.

    Jika MAJELIS ULAMA di masa lalu berkali-kali salah vonis fatwa, mungkinkah MAJELIS ULAMA saat ini juga SALAH??

    Jadi... berpikirlah ulang!! Jangan taklid buta

    BalasHapus