Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

04 April 2009

KH Hasani Nawawie: Sufi yang Zuhud dan Khumul

Suatu hari, seorang tamu bertanya pada santri Pondok Pesantren Sidogiri (PPS), di mana dalem KH Hasani Nawawie. Maka tamu itu diantar ke rumah di timur masjid Sidogiri. Rumah itu kecil, tampak tua, dengan jendela dan pintu bercat cokelat. Di halamannya tampak beberapa pohon pisang dan pagar gedek yang agak rusak. Sang tamu hampir tak percaya, ternyata Kiai Hasani, kiai karismatik yang pondoknya besar, rumahnya kecil dan sederhana.
Kiai Hasani lahir tahun 1924 M, putra KH Nawawie bin Noerhasan, salah satu pendiri NU. Selain rumah, kesederhanaan Kiai Hasani juga tampak dari pakaian dan makanannya. Beliau berpakaian seperti orang biasa. Yang sering dipakai baju hitam atau bergaris hitam-putih, dengan songkok hitam. Makanannya sehari-hari nasi putih, kecap, dan kerupuk. “Hanya dengan nasi putih, kecap, dan kerupuk rasanya sudah sangat nikmat sekali. Saya heran dengan orang-orang sekarang yang dicari hanya kenikmatan perut dan di bawah perut,” ujar beliau.
Kiai Hasani memang suka hidup sederhana. Sejak muda, beliau selalu zuhud (tidak cinta dunia) dengan menjauhi kemewahan duniawi. Memang zuhud tetap bisa dilakukan walaupun kaya, dengan cara hati tak terpengaruh dengan kekayaan, tapi beliau memilih zuhud dengan hidup sederhana. 

Beliau berpesan, “Jangan sampai kau ketahui uang yang masuk ke sakumu, agar kamu tidak bersandar pada uang.” Sesuai pesannya, beliau sendiri tak menghitung uang yang dimiliki. Bila membayar becak, beliau mengambil Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu dari sakunya tanpa dihitung. Selain itu, ketika keponakannya meminjam uang Rp 500 ribu, beliau mengambil uang dari sakunya tanpa dihitung, dan ternyata jumlahnya pas.  

Selain zuhud, Kiai Hasani juga khumul (tidak suka tampil/dikenal orang). Beliau tak suka diistimewakan sebagai kiai, juga tak berkenan dakwah dengan berpidato. Dakwahnya dengan uswah hasanah dan kunjungan ke rumah masyarakat. Dari khumul-nya, beliau menolak menjadi Pengasuh PPS setelah kakaknya, KH Cholil Nawawie, wafat. Akhirnya, keponakannya, KH Abd Alim Abd Djalil, yang menjadi Pengasuh. 

Kiai Hasani seorang waliyullâh yang tenang, khusyuk, dan disegani. Beliau sedikit sekali bicara dan sejak usia 7 tahun bisa khusyuk dalam shalat. Beliau sangat memperhatikan shalat santri. Dan tak suka masjid sebagai tempat ibadah dibuat ramai-ramai/bergurau. Beliau disegani ulama-ulama lain, karena lurus dan tegas. 

Kiai Hasani banyak mengingat akhirat dan minta didoakan segera mati. Karena beliau dekat dengan Allah swt dan rindu segera bertemu. Tetapi beliau dianugerahi umur panjang, 77 tahun, wafat Selasa 13 Rabiul Awal 1422 H/05 Juni 2001 M. Tampaknya, Allah tak segera mencabut nyawa Kiai Hasani karena masih sangat dibutuhkan oleh PPS, masyarakat, dan ulama lain. 

Sepuluh hari sebelum wafat, beliau bercerita mimpi didatangi Imam Ghazali—ulama sufi terkemuka—dan bersalaman dengannya. Lalu sehari sebelum wafat, meski sakit beliau menghadiri Maulid Nabi di masjid Sidogiri. Pada 40 hari wafatnya, Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi menyebut Kiai Hasani ulama yang âlim amaliyah dan âmil ilmiyah, karena ilmu dan amalnya sesuai. []

Dimuat di buletin Tauiyah, edisi XV/12 Shafar 1428 H

3 komentar:

  1. Saya pernah meminta doa karna sedang dalam ujian kelulusan ibtidaiyah(imni)maunya sih didoakan supaya lulus. ternyata beliau hanya mendoakan "mandar mugo manfaat"

    BalasHapus
  2. tak ada yang dapat saya komentari tentang beliau. bagiku beliau sangat perfect. salam kenal buat syamsul, saya juga pernah mondok di sidogiri makanya saya rada-rada ingat muka. saya boyong tahun 2002an terakhir kelas 2mts dengan wali kelas Usd. Abd. Qadir Mahrus. so..! kirim-kirim kabar ya tentang pesantren atau teman-teman yang lain ke alamat email saya di ariyanto.furada@ymail.com sukran.

    BalasHapus
  3. @ Asa: Insya Allah doanya mustajab. Amiin...
    @ Ariyanto: Beliau memang luar biasa...
    Kirim kabar, ga janji ya, karena hampir setiap hari ada kabar baru.
    Untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman-teman, bisa juga via Facebook.
    Ada grup Sidogiri-nya juga di sana.
    Udah gabung Facebook?

    BalasHapus