Seruan Revolusi Santri

"Para santri harus diberi peluang untuk membuat revolusinya sendiri. Sebuah revolusi wacana. Revolusi pemikiran. Lahap semua buku, diskusi dan menulislah. Sekali lagi bikin revolusi."

(Dwy Sadoellah, penulis dan esais dari Pondok Pesantren Sidogiri)

Menjaga dari Maksiat dengan Menyendiri

on 14 April 2009

Pada masa mudanya, Hadratussyekh KH Abd. Alim Abd. Djalil jarang bergaul dengan teman sebayanya. Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) itu senang bertafakkur menyendiri. Ini memang dianjurkan oleh Hadratussyekh KH Cholil Nawawie, pamannya, karena khawatir tak sempat mengaji kitab. “Ojo kumpulan karo are’ ndak ngaji, engkuk melok ndak ngaji koen ‘Lim!” kata Kiai Cholil.

Pada usia 12 tahun, Kiai Lim pergi sendiri ke Sampang, Madura dengan tujuan minta ijazah wiridan Songai Rajeh pada seorang kiai. Songai Rajeh suatu wirid yang ampuh dan cukup berat resikonya. Orang yang mengamalkannya harus menjaga diri dari berhubungan badan dengan wanita yang tidak halal. Kalau tidak, ia akan terkena tuahnya: tubuhnya akan rusak, rontok sedikit demi sedikit sampai meninggal. Kiai Lim sengaja mengamalkan Songai Rajeh ini untuk menjaga diri dari maksiat.

Kemudian, setelah menuntut ilmu ke beberapa pesantren dan ulama yang mumpuni, beliau belajar sendiri dan berdiam diri dalam kamar di Daerah (asrama PPS), seperti santri. Bahkan untuk makan beliau dikirim ke kamarnya, karena di dalem banyak santri perempuan berkeliaran. Kiai Lim sangat menjaga diri dari bercampur dengan perempuan.

Setelah menjalani hidup sebagai pemuda yang menjaga diri, di masa tuanya beliau menjadi kiai yang disegani. []


Disadur dari IJTIHAD, edisi 22/ Th. XII/Rabiul Awal/1426

Dimuat di Buletin SIDOGIRI edisi 26.

Comments
0 Comments

0 komentar :

Poskan Komentar