Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

26 April 2009

Pentingnya Berdakwah Melalui Sastra

Jika orang mendengar atau melihat kata “dakwah”, biasanya yang langsung terpikirkan adalah pidato-pidato atau ceramah-ceramah keagamaan. Dan ini sudah “universal”, orang desa orang kota langsung terpikir ke sana tentang dakwah. Kalau pun lebih dari itu, paling-paling yang terpikirkan tiga macam dakwah: dakwah bil-lisan, bil-qalam, dan bil-hal. Atau dakwah lisan, dakwah tulisan, dan dakwah teladan. Ketiga-tiganya pun langsung bisa ditebak konotasinya: dakwah lisan adalah pidato dan ceramah, dakwah tulisan adalah artikel dan buku/kitab, dan dakwah teladan adalah perbuatan dan perkataan yang baik.

Adakah orang yang benaknya secara otomatis mengartikan dakwah tulisan adalah dakwah melalui sastra? Bisa jadi tidak ada. Kalau pun ada, itu pastilah orang khusus yang terbiasa menulis sastra dengan niat dakwah. Ini adalah kenyataan yang ironis, bila kita memerhatikan dengan seksama apa yang bisa dilakukan sebuah karya sastra terhadap manusia dan peradabannya.

Berpengaruh

Berdasarkan bentuknya, sastra terbagi tiga: puisi, prosa dan drama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), puisi adalah ragam sastra yang terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Prosa adalah karangan bebas, tidak terikat seperti puisi (di antaranya cerita pendek, novel, dan esai). Sedangkan drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan.

Masing-masing dari tiga bentuk karya sastra tersebut mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam peradaban manusia. Dalam puisi, banyak nama-nama besar yang berpengaruh, di antaranya al-Farazdaq, Jalaluddin ar-Rumi, Mohammad Iqbal, dan Taufik Ismail. Al-Farazdaq (w. 732) termasuk pengikut keluarga Ali bin Abi Thalib. Puisi-puisinya yang berpengaruh membuatnya diusir dari Basra, kemudian juga dari Madinah. Ia diusir dari Basra karena menyerang kabilah Ziad, kabilah Gubernur Basra, sehingga ia lari ke Kufah kemudian ke Madinah. Syair-syair satirenya yang sangat kuat dan tajam memang besar sekali pengaruhnya. Kemudian setelah 10 tahun tinggal di Madinah, ia diusir oleh Khalifah Marwan bin Hakam karena sajak-sajak birahinya (erotic poetry).

Jalaluddin ar-Rumi (1207-1273) bukan penyair sufi pertama, namun dianggap terbesar dari para penyair sufi. Kebesaran ar-Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuannya mengungkapkan perasaannya dalam bentuk puisi yang sangat indah dan memiliki makna mistis yang sangat dalam. Di samping itu, puisinya juga mengandung filsafat dan gambaran tentang inti tasawuf yang dianutnya. Karya besarnya yang terkenal, al-Masnawi, berpengaruh besar terhadap perkembangan tasawuf sesudahnya. Buku ini telah diterjemahkan dan diberi komentar oleh para ahli dari berbagai bangsa. Puisi-puisi ar-Rumi banyak dikutip dalam tulisan tasawuf dan non tasawuf.

Sir Mohammad Iqbal (1873-1938) mengungkapkan filsafatnya dengan puisi dalam bahasa Urdu dan Persia. Dalam syair-syairnya ia mendorong umat Islam supaya bergerak dan jangan tinggal diam. Intisari hidup adalah gerak. Oleh karena itu, Iqbal berseru agar umat Islam bangun dan menciptakan dunia baru. Pemikiran-pemikiran Iqbal mempengaruhi dunia Islam pada umumnya, terutama dalam pembaharuan di India. Syair-syairnya banyak dikutip sebagai pembangkit semangat umat Islam.

Taufik Ismail (1937-) penyair Indonesia yang terkenal dengan sajak-sajak bernada protes. Dengan sajak itu ia berperan dalam menumbangkan Orde Lama saat terjadi proses pergolakan politik oleh mahasiswa pada 1966, juga dalam menumbangkan Orde Baru saat terjadi proses pergolakan politik kedua kalinya oleh mahasiswa pada 1998. Sajak-sajaknya yang bernapaskan keagamaan merupakan contoh sajak-sajak yang mengandung nilai dakwah dan juga memperlihatkan kesadaran sosial dan sejarah yang tinggi. Beberapa sajak religiusnya dinyanyikan oleh kelompok musik Bimbo.

Dalam prosa, banyak novel dan cerpen yang berpengaruh. Novel-novel kritik sosial dan politik di Indonesia pada masa penjajahan berpengaruh menumbuhkembangkan rasa nasionalisme dan semangat perjuangan melawan Belanda. Misalnya Max Havelar (1860) karya Multatuli dan Student Hidjo (1919) karya Mas Marco Kartodikromo. Roman-roman kasih tak sampai seperti Sitti Nurbaya (1922) karya Marah Rusli, Dian yang Tak Kunjung Padam (1932) Sutan Takdir Alisyahbana, dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1938) Hamka, berpengaruh dalam mengubah persepsi masyarakat tentang pernikahan paksa. Novel Satanic Verses (1989) Salman Rushdie berpengaruh menimbulkan kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Kumpulan cerpen yang berpengaruh di Indonesia misalnya karya-karya religius A Mustofa Bisri dan karya-karya “lendir” Djenar Maesa Ayu. Sedangkan esai yang berpengaruh, misalnya esai-esai Catatan Pinggir Goenawan Mohamad di majalah Tempo yang juga dibukukan.

Sedangkan dalam drama, yang paling berpengaruh adalah drama-drama karya William Shakespeare (1564-1616) dari Inggris, salah seorang dari raksasa-raksasa sastra dunia. Meskipun ia hidup dan berkarya sejak abad ke-16 hingga abad ke-17, karya-karyanya tetap abadi dan banyak dipelajari serta dipentaskan di seluruh pelosok dunia. Misalnya Hamlet (1600-1601) dan Romeo and Juliet (1594-1595). Shakespeare berpengaruh sampai ke bidang ilmu pengetahuan (psikologi) dan filsafat. Di bidang filsafat, L. Syestow sering bersandar pada ucapan tokoh-tokoh karangan Shakespeare.

Inilah Saatnya

Karya sastra memang mempunyai banyak kelebihan dibandingkan karya tulis lainnya. Pertama,—seperti disebutkan di atas—karena bisa berpengaruh besar. Pengaruhnya bukan hanya pada rasa estetis manusia, tapi juga pada peradaban dan ilmu pengetahuan. Kedua, karena universal. Karya sastra dapat dibaca dan dinikmati siapapun, tanpa melihat suku, agama, bangsa, ras, dan golongan. Terbukti, misalnya, karya-karya para penyair sufi dibaca, dinikmati, dan dikaji para penikmat sastra, sastrawan, dan ilmuwan Barat; dan karya-karya sastrawan Barat juga dibaca, dinikmati, dan dikaji orang-orang Timur, termasuk orang-orang Islam.

Ketiga, karena berpengaruh ke dalam hati. Orang bisa menikmati karya sastra bila ia membaca dengan hati, baru dengan pikiran. Bila orang membaca karya sastra dengan pikiran lebih dahulu, atau dengan pikiran saja tanpa hati, ia tak akan merasakan keindahan dan kenikmatan sastra. Keempat, karena dapat mempengaruhi bahasa. Bahasa Arab, Inggris dan Indonesia diakui atau tidak banyak dipengaruhi oleh pilihan kata dan gaya bahasa para sastrawan, baik di masa lalu maupun masa kini. Kelima, karena abadi. Sekali ditulis, karya sastra yang baik akan terus dibaca, dikutip, dan ditafsirkan orang, tak peduli penulisnya masih hidup atau sudah tiada.

Dengan kelebihan-kelebihan di atas, apa lagi yang memberatkan kita untuk berdakwah melalui sastra? Jika semakin banyak orang Islam yang berdakwah melalui sastra, betapa akan mudahnya Islam diterima dan berpengaruh pada berbagai kalangan, dan bahasa Indonesia akan lebih “Islami” lagi. Tapi mengapa sekarang yang banyak justru karya-karya sastra picisan dan sastra lendir? Mengapa orang-orang pesantren diam dengan keluarnya novel semacam “Maixxx” yang menyudutkan pesantren? Mengapa masih jarang sekali kiai dan santri yang menulis sastra?

Di dunia Melayu, termasuk Indonesia, pada mulanya aspek ajaran Islam disampaikan melalui karya sastra. Hal tersebut membuat kesusastraan tumbuh menjadi fondasi kebudayaan Islam di wilayah itu. Melihat rusaknya moral bangsa dan lunturnya budaya Islam di Indonesia, mungkin inilah saatnya sastra Islam dan sastra pesantren lebih unjuk gigi lagi. Bisa dengan “sembunyi-sembunyi” atau terang-terangan. Seperti Hamka membawa karya sastra pada agama, atau seperti Gus Mus membawa agama pada karya sastra. Yakni seperti Hamka yang banyak menulis novel cinta yang disangkaut-pautkan dengan agama (baik setting tempat, lingkungan, jalan cerita, dll); atau seperti Gus Mus yang banyak menulis tentang agama dalam bentuk karya sastra. Tujuannya sama: membumikan ajaran langit. []

Dimuat di majalah IJTIHAD edisi 25/Sya’ban/Tahun XIII/1427

Tidak ada komentar:

Posting Komentar