Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

21 April 2009

Pesantren, Berita, dan Sejarah

Dahulu, seorang ulama besar Mekah asal Indonesia suatu ketika ingin menulis sejarah ulama-ulama Indonesia. Tetapi beliau kesulitan untuk menulisnya, karena sulitnya mencari sumber. Kendala yang dialami ulama besar tersebut diakibatkan oleh kurangnya perhatian orang Indonesia sendiri untuk mencatat keadaan dan sejarah ulama di Indonesia. Kini, ketika orang-orang pesantren ingin menulis sejarah ulama atau sejarah pesantren, mereka juga seringkali kesulitan untuk menulisnya. Penyebabnya sama: cukup sulit mencari sumber (yang valid).
Pentingnya Mencatat
Santri dan keluarga para ulama kebanyakan memang tidak begitu tertarik untuk mencatat segala hal tentang ulama mereka, dan pesantren yang dikelola oleh ulama tersebut. Akibatnya, banyak sekali data dan fakta penting tentang ulama dan pesantren yang hilang di telan masa. Padahal hal itu sangat penting untuk penulisan sejarah di masa selanjutnya dan untuk dijadikan teladan oleh generasi penerus. 
Oleh karena itu, orang-orang pesantren perlu membiasakan diri untuk mencatat segala hal, segala peristiwa, dan segala perkembangan dan perubahan yang terjadi pada ulama dan pesantren yang dikelolanya. Catatan-catatan itu bisa berupa catatan-catatan pribadi, catatan-catatan resmi, dan catatan-catatan media. Catatan pribadi ditulis oleh individu orang pesantren. Catatan resmi ditulis dan disimpan oleh keluarga dan pengurus pesantren. Sedangkan catatan media ditulis dan dipublikasikan di media massa dalam pesantren oleh wartawan-wartawan pesantren, dan di media massa luar pesantren oleh wartawan-wartawan media cetak dan elektronik. 
Terkadang wartawan media massa cetak dan elektronik memang mencatat dan mempublikasikan hal-hal penting mengenai ulama atau pesantren. Tetapi itu sewaktu-waktu saja mereka lakukan. Dan ketika mereka melakukannya, kerap terjadi kesalahan yang cukup mengganggu dalam berita yang mereka buat tentang ulama dan pesantren. Misalnya tentang sebutan Pengasuh, jumlah santri, serta data dan fakta lainnya. 
Kesalahan itu bisa terjadi karena wartawan dari luar pesantren adalah “orang luar” yang tidak mengerti keadaan sebenarnya, dan seringkali terburu-buru dalam mencari berita. Bila catatan dan berita tentang ulama dan pesantren ditulis oleh wartawan di dalam pesantren sendiri, kesalahan-kesalahan semacam itu bisa dihindari. Bahkan catatan dan berita itu akan lebih “utuh”, “hidup”, dan “nyata”. Karena memang ditulis oleh orang pesantren sendiri, yang melihat sendiri, dan lebih memahami. 
Dibanding catatan pribadi dan catatan resmi, catatan media massa pesantren lebih mudah untuk dikonsumsi oleh semua orang. Catatan pribadi biasanya cuma bisa dibaca oleh penulisnya sendiri dan orang-orang dekatnya. Catatan resmi biasanya cuma bisa dibaca oleh keluarga dan pengurus, serta orang-orang yang mendapat izin dari mereka. Sedangkan catatan media massa pesantren bisa dibaca oleh semua orang yang hendak membacanya. Apalagi bila media massa pesantren itu berupa buletin atau majalah yang bisa dimiliki dan bisa dibawa ke mana-mana. 
Pentingnya Media Massa Pesantren
Keberadaan media massa pesantren adalah sesuatu yang penting, utamanya di era informasi seperti saat ini. Dengan adanya media massa pesantren, segala hal ihwal ulama dan pesantren bisa dipublikasikan dan diabadikan secara berkala. Baik secara mingguan, dwimingguan, bulanan, triwulanan, atau semesteran. Dengan demikian, media massa pesantren adalah pilihan yang tepat untuk mencatat dan mempublikasikan segala hal ihwal ulama dan pesantren.
Hal ihwal ulama yang penting untuk dicatat dan dipublikasikan adalah: (1) sejarah ulama pendahulu, (2) perkembangan keadaan ulama yang ada saat ini, (3) kebijakan-kebijakannya di pesantren, (4) pengajiannya, (5) fatwa dan tausiahnya, (6) kelahiran anggota keluarganya, (7) pernikahan anggota keluarganya, (8) wafatnya ulama atau keluarganya, dan (9) hal-hal lain yang perlu dan pantas diketahui pembaca tentang keluarga ulama tersebut.  
Sedangkan hal ihwal pesantren yang penting untuk dicatat dan dipublikasikan adalah: (1) program-program baru pesantren, (2) berlakunya undang-undang baru, (3) pelantikan dan pengenalan pengurus dan guru baru, (4) himbauan atau penjelasan pengurus pada santri, (5) pembangunan dan renovasi pesantren, (6) naik-turunnya jumlah santri/murid, (7) acara-acara pesantren, seperti peringatan Maulid Nabi, Haul Masyayikh, dan Ikhtibar, (8) acara-acara lembaga dan organisasi di pesantren, seperti pelantikan pengurusnya, kuliah umum/seminar, serta pendidikan dan pelatihan, (9) kunjungan tamu-tamu penting atau menarik, (10) ujian dan pembagian hadiah juarawannya, (11) lomba-lomba dan pembagian hadiahnya, (12) profil pengurus, juarawan dan orang-orang penting lainnya, dan (13) peristiwa-peristiwa menarik atau unik yang terjadi pada santri. 
Selain mempublikasikan hal ihwal ulama dan pesantren, media massa pesantren juga bisa mempublikasikan berita-berita dan hal-hal penting/menarik lainnya dari luar pesantren, yang perlu diketahui oleh orang-orang pesantren. Berita-berita itu bisa diambil dari internet atau media massa luar. Misalnya tentang (1) perkembangan dunia Islam internasional, (2) berita besar dalam negeri, (3) berita NU, pesantren, atau parpol Islam, dan (4) berita ringan yang Islami.
Selain sebagai media informasi yang mempublikasikan berita, media massa pesantren juga mempunyai fungsi lain yang tak kalah penting. Yaitu sebagai media kreativitas santri yang memuat karya-karya tulis santri, dan media pengetahuan alternatif yang memuat ilmu pengetahuan atau rubrik khusus konsultasi dan tanya jawab.
Dengan adanya media massa pesantren, perkembangan ulama dan pesantren akan bisa dipublikasikan dan diabadikan secara berkala, sehingga kelak bisa dijadikan salah satu sumber penulisan sejarah. Kehidupan di pesantren juga akan lebih “bergairah”, “terang”, dan “terbuka”. Orang-orang di dalam pesantren bisa lebih banyak tahu tentang dirinya dan lingkungannya, juga tentang dunia luar. Orang-orang luar juga bisa tahu dan tertarik pada perkembangan keadaan ulama dan pesantren. Dengan sendirinya, kelestarian dan kemajuan pesantren juga akan tampak dari waktu ke waktu, seperti bisa dilihat pada pesantren-pesantren besar yang telah lama mempunyai media massa. []
Dimuat di buletin AKHBAR, edisi 01/03 Zulhijah/1427 H, terbitan PP Kebunbaru Kacok Palengaan Pamekasan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar