Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

02 April 2009

Sidogiri Tak Dukung Partai Tapi Dukung Pemilu

Sidogiri Tak Mendukung Partai, Tapi Mendukung Pemilu

Pemilu 2009 akan dilaksanakan tanggal 9 April. Puluhan partai politik dan ribuan caleg DPR/DPD/DPRD siap dipilih. Di beberapa daerah muncul isu-isu bahwa Pondok Pesantren Sidogiri mendukung salah satu partai, caleg ini, atau caleg itu.


Muncul pula kabar Sidogiri tak lagi mencalonkan anggota DPD.Bagaimanakah sebenarnya? Berikut wawancara Syamsu-l Arifyn Munawwir dari Buletin SIDOGIRI dengan Sekretaris Umum Pondok Pesantren Sidogiri, Ust HM. Masykuri Abdurrahman, untuk menjelaskan hal itu.


Pemilu 2009 akan dilangsungkan pada 9 April (13 Rabius Tsani), apakah Pondok Pesantren Sidogiri (selanjutnya disebut Sidogiri) mendukung salah satu partai politik peserta Pemilu?

Tidak. Sidogiri netral. Tapi Sidogiri mendukung pelaksanaan Pemilu. Karena Pemilu itu untuk memilih calon pemimpin, baik di legislatif maupun eksekutif. Pemilu adalah salah satu sarana untuk menyeleksi calon-calon pemimpin terbaik.



Tentang isu di sebagian kabupaten, bahwa Sidogiri mendukung salah satu partai, itu tidak benar. Kalau isunya mungkin benar, tapi kenyataannya tidak benar. Ya namanya saja isu. Sidogiri masih seperti yang dulu, tetap netral. Sidogiri tidak ke mana-mana. Isu itu kan dari orang lain yang melihat potret Sidogiri. Kalau ada isu, seperti, “Sidogiri memilih salah satu parpol,” mohon langsung dicek yang menyebarkan apakah memang dari Sidogiri atau itu hanya isu menyesatkan.


Seingat saya, dalam Tausiyah Majelis Keluarga Sidogiri pernah disampaikan: kalau ada yang mengaku didukung Sidogiri sebagai lembaga, maka dia jangan didukung. Karena itu istilahnya mengganggu, mengaburkan, terhadap netralitas Sidogiri dan keberadaan Sidogiri itu sendiri.


Jangan percaya itu. Sidogiri kan dari dulu pondok yang terkenal netral. Tidak ke mana-mana. Apapun partai itu, partai baru atau partai lama, tidak ada hubungan dengan Sidogiri. Sidogiri tidak akan menceburkan diri dalam partai. Tidak akan ikut campur.


Pokoknya dengan yang namanya partai, Sidogiri tidak ada hubungan. Monggo partai-partai punya hubungan dengan perseorangan secara pribadi, tapi itu tidak ada kaitannya dengan Sidogiri. Sidogiri itu tidak ada hubungan dengan partai politik.



Sebagian caleg DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota mengaku didukung oleh Sidogiri, apakah itu benar?


Itu harus dibedakan, dapat dukungan Pondok Pesantren Sidogiri atau orang Sidogiri. Kalau dapat dukungan dari perorangan, tidak salah. Kalau didukung Pondok Pesantren Sidogiri, perlu dipertanyakan. Itu bertentangan dengan netralitas Sidogiri. Sebagaimana pernah disampaikan beberapa waktu lalu, Sidogiri tetap netral, itu sudah harga mati.



Banyak yang menanyakan, mengapa Sidogiri tidak mencalonkan anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) lagi?


Itu wewenang dari Majelis Keluarga. Pondok Pesantren Sidogiri mau mencalonkan DPD atau DPR secara resmi, itu wewenang Majelis Keluarga. Dulu Ust H. Mahmud Ali Zain dicalonkan karena masih pertama kali bukan partai politik bisa mencalonkan anggota dewan, sebagai wakil masing-masing provinsi. Karena Majelis Keluarga melihat itu adalah sebuah peluang bagi kita untuk ikut andil membangun bangsa lewat lembaga legislatif (DPD).


Tapi setelah jadi, kok peran DPD menurut undang-undang tidak seperti yang kita inginkan. Tidak sebesar peran DPR. Maka sekarang Sidogiri tidak mencalonkan lagi. Terus yang saya tahu juga, pertimbangannya karena DPD itu memang bukan parpol, tapi dilihat ada selintas dampak politiknya juga, yakni di masyarakat bisa memecah belah umat. Sehingga periode ini Majelis Keluarga tidak mencalonkan lagi.



Kalau suatu saat peran DPD lebih besar, apakah Sidogiri akan mencalonkan DPD lagi? Apa katanya Majelis Keluarga, nanti.



Lalu apakah di Pemilu kali ini Sidogiri mendukung salah satu caleg DPD?


Tidak. Wong dari dalam tidak mengutus calon sendiri, apalagi mendukung dari luar. Jadi Sidogiri tidak mendukung salah satu calon DPR/DPD.


Mengapa Sidogiri tidak mencalonkan anggota-anggota DPR/DPD/DPRD, padahal bila jadi mereka bisa mengusulkan undang-undang dan peraturan daerah yang bermanfaat bagi agama dan umat?


Ya Sidogiri kan sudah netral, tidak mendukung ke mana-mana. Umpama ada alumni-alumni yang menjadi anggota DPR atau DPD tanpa melibatkan Sidogiri kan tambah bagus, daripada melibatkan Sidogiri yang sudah ketahuan netral.


Dalam Tausiyah Majelis Keluarga pernah disampaikan, bahwa Sidogiri tidak perlu mencetak politikus, pengusaha, eksekutif, dll secara langsung, tapi bagaimana agar mereka yang dididik di sini mengamalkan ilmu-ilmu yang ada di Sidogiri sebagai apa saja. Bagaimana sekiranya mereka mengimplementasikan apa-apa yang telah diajarkan oleh Masyayikh.



Pada Pemilu kali ini santri Sidogiri mencoblos di pondok atau di kampung halamannya?


Di mana saja sebenarnya sama. Sebab mereka punya hak memilih, sebagai warga negara. Cuma kan kembali pada pendataannya. Kalau dulu didata di pondok, ya harus mencoblos di pondok. Tergantung datanya. Kalau santri mendapat panggilan Pemerintah untuk mencoblos di tempat asalnya, maka Pengurus Sidogiri akan memberi izin sesuai dengan ketentuan yang ada.


Tapi kalau bisa di sini, kenapa harus pulang? Sebab kalau pulang, bisa mengganggu pendidikannya dan mengurangi jatah jam pendidikannya di pondok.



Sebagian masyarakat menanyakan, apakah Sidogiri mewajibkan santri untuk memilih partai tertentu?

Mosok sudah netral masih mewajibkan?



Pandangan Sidogiri terkait aturan baru di Pemilu 2009, bahwa caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak dan memilih dengan cara mencontreng?



Sebenarnya kalau masalah sistem semacam itu, Sidogiri tidak berkompeten di dunia itu. Yang jelas, hasil undang-undangnya sudah diberikan oleh ahlinya. Itu yang terbaik. Sidogiri tidak ada kepentingan langsung dengan hal itu.


Kalau pandangan masyarakat, sistem suara terbanyak itu memicu dan memacu para caleg untuk lebih giat mensosialisasikan dirinya, programnya, dsb. Setiap calon mempunyai hak yang sama untuk terpilih.


Adakah himbauan Sidogiri kepada santri, alumni, dan masyarakat dalam menghadapi Pemilu 2009?

Himbauan Sidogiri kepada santri, alumni, dan masyarakat adalah: mari kita sukseskan Pemilu dan pilih wakil rakyat yang benar-benar bisa membela rakyat. Bukan sekedar terpaku pada janji-janjinya. []

Dimuat di Buletin SIDOGIRI edisi 38/Tahun IV/Rabius Tsani 1430. Juga bisa dibaca di www.sidogiri.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar