Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

01 Juni 2009

Pesantren Salaf: antara Berbenah dan Berubah

Kedudukan pondok pesantren—sebagaimana diungkapkan Drs Marwan Saridjo dalam Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia—hampir-hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam Indonesia. Lembaga pendidikan Islam tertua ini sudah dikenal semenjak agama Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriah, atau antara abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Adalah Maulana Malik Ibrahim, salah satu Walisongo, yang dianggap sebagai pendiri pondok pesantren pertama di Indonesia.

Mulanya, metode belajar-mengajar pesantren hanya berupa (1) sorogan, kiai membacakan kitab pada seorang santri, lalu santri itu mengulang bacaannya; (2) bandongan, kiai membacakan kitab pada sekelompok santri; dan (3) musyawarah, sistem belajar untuk membahas setiap masalah yang berhubungan dengan pelajaran santri. Kemudian sistem madrasah diperkenalkan dengan didirikannya Madrasah Adabiyah di Sumatera Barat, pada 1907 atau 1909, diikuti Madrasah Salafiyah di PP Tebuireng Jawa Timur, pada 1916. Dalam perkembangannya, setelah kemerdekaan, beberapa pesantren juga mendirikan sekolah-sekolah umum, bahkan perguruan tinggi. Tujuannya agar bisa bersaing, karena sejak akhir tahun 40-an Depag RI mulai menyelenggarakan sekolah-sekolah agama, seperti SGHA dan PHI dan seterusnya IAIN.

Kendati demikian, beberapa pesantren bersikukuh menyelenggarakan pendidikan ala sorogan, bandongan, musyawarah dan madrasah saja. Akhirnya dalam masyarakat muncul dikotomi pesantren salaf dan pesantren modern. Menurut hemat penulis, secara sederhana pesantren salaf ialah pesantren yang orientasinya pendidikan keagamaan tradisional. Sedangkan pesantren modern ialah pesantren yang orientasinya pendidikan umum. Sehingga apabila ada pesantren berlabel “salaf” namun orientasinya pendidikan umum, maka ia sebenarnya adalah pesantren modern.

BERBENAH

Pesantren salaf dalam pengertian di atas seringkali mendapat kritik keras dari kalangan akademisi, bahkan dari orang-orang muda pesantren sendiri. Pesantren salaf dianggap ketinggalan zaman, rendah diri, eksklusif, kumuh, dsb. Sebagian pesantren salaf panas hati dan marah mendapat kritik demikian. Sebagian menanggapinya dengan serius dan berusaha berbenah. Sebagian lagi malah cuek dan tidak peduli.
Sikap yang bijak adalah sikap kedua. Diakui atau tidak, pesantren salaf memang harus berbenah dalam beberapa hal. Ini sejalan dengan kaedah pesantren salaf sendiri, “al-Muhafazah ‘ala al-qadim ash-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah,” mempertahankan hal-hal lama yang baik dan melengkapi dengan hal-hal baru yang lebih baik. Beberapa hal yang perlu dibenahi atau diadakan adalah:

1. Organisasi dan kepengurusan

Perlu diadakan struktur kepengurusan serta pembagian tugas dan wewenang, dengan tetap menjadikan kiai (pengasuh) sebagai pemimpin tertinggi. Majelis atau Dewan Keluarga beranggotakan kiai dan saudara-saudaranya, perlu dibentuk untuk wadah musyawarah dan membantu kiai. Pengurus pondok juga perlu diperlengkap, setidaknya ada (1) ketua pondok dan wakil; (2) pengurus kesekretarisan dan administrasi; (3) pengurus keuangan; (4) pengurus kegiatan kemadrasahan; (5) pengurus asrama dan keamanan; (6) pengurus pengajian dan ibadah; dan (7) pengurus kesehatan, kebersihan, dan sarana-prasarana. Selain itu, harus disusun undang-undang pesantren dan madrasah.

2. Pengkaderan penerus pesantren

Untuk menghindari kevakuman pimpinan dan matinya pesantren sepeninggal kiai, maka perlu (1) dibentuk Dewan Keluarga seperti di atas, sehingga sepeninggal kiai, Dewan Keluarga bisa memilih kiai penerus; dan (2) pendidikan khusus bagi putra-putri dan cucu kiai perihal keagamaan tradisional dan kepemimpinan, agar mereka siap saat dibutuhkan. Kalau perlu dikirim belajar ke luar negeri atas biaya pesantren.

3. Pendirian organisasi santri

Santri pesantren perlu dibiasakan berorganisasi, agar setelah keluar dari pesantren mereka bisa menjadi aktivis-aktifis yang kritis, baik dalam ormas keagamaan, LSM, parpol, dll. Dengan demikian orang-orang pesantren bisa memberi warna keagamaan tersendiri dalam masyarakat maupun negara.

4. Pelatihan dan kursus

Perlu banyak diadakan pelatihan dan kursus keorganisasian (manajemen, pembagian tugas, administrasi, dll), metode belajar-mengajar tambahan (diskusi, quantum teaching, quantum learning, dll), dan keterampilan (tahsinul khat, pidato, hadrah, komputer, bengkel, kerajinan tangan, dll), dengan pelatih dan pengursus yang ahli. Namun ini tak perlu menjadi kurikulum pesantren, cukup disediakan untuk yang memerlukan saja.

5. Kuliah umum dan seminar

Perlu diadakan kuliah umum atau seminar berkala bagi santri-santri senior, untuk memperdalam pengetahuan tentang hal-hal penting dan aktual, minimal dua kali setahun. Undang narasumber yang bertolak belakang, misalnya satu salaf satu modern. Dengan demikian santri bisa membandingkan dengan kritis.

6. Perpustakaan

Perlu dibuat perpustakaan yang memadai dengan koleksi kitab dan buku dalam berbagai bidang, serta media massa. Tujuannya sebagai tempat pendidikan alternatif dan tempat rekreasi ilmiah santri. Semakin lengkap koleksi perpustakaan tersebut, maka santri akan lebih siap bersaing dengan orang-orang luar pesantren.

7. Memperlengkap sarana-prasarana

Pesantren salaf juga perlu melengkapi sarana-prasarana lainnya, seperti kantor sekretariat, kamar mandi dan wc umum, dapur umum, balai kesehatan dan rawat inap santri, balai tamu, ruang rapat, dll.

8. Sumber dana tetap

Untuk membiayai segala pembangunan dan keperluan pesantren, maka perlu diusahakan sumber dana tetap. Misalnya koperasi, persawahan dan perkebunan, usaha-usaha kerajinan tangan, dll, yang dikelola santri secara profesional.

9. Penerbitan-penerbitan

Ulama-ulama dahulu banyak meninggalkan karya tulis yang abadi sampai sekarang; untuk melatih kreativitas santri dan mengkader ulama-ulama penulis, maka santri harus dibiasakan dengan tulis-menulis. Misalnya dengan penerbitan majalah-majalah dinding, buletin, majalah, buku, situs internet, dll.

10. Badan penelitian dan pengembangan (Litbang) pesantren

Litbang perlu diadakan, guna mengetahui kelebihan dan kekurangan pesantren, beserta kemungkinan solusinya. Litbang juga bisa mengusulkan hal-hal inovatif untuk kemajuan pesantren, serta menjaring dan mengusulkan kader-kader potensial untuk menjadi pengurus pesantren.

11. Pembinaan rasa kebangsaan dan kemasyarakatan pada santri

Karena pesantren punya tanggung jawab sejarah dan moral untuk turut memikirkan bangsa dan masyarakat. Jika ada pengurus khusus untuk ini, maka ia juga bisa menangani masalah-masalah dengan masyarakat dan pemberdayan masyarakat sekitar pesantren.

12. Pemberdayaan alumni

Alumnus-alumnus pesantren perlu diberdayakan untuk turut serta memikirkan dan mengusahakan kesinambungan dan kemajuan “almamater”-nya, dengan cara dan kemampuan masing-masing. Selain itu, perlu ditumbuhkan solidaritas sesama alumni. Pendirian organisasi alumni akan sangat membantu.

BERUBAH?

Selain berbenah, pesantren salaf bisa juga merubah orientasi pendidikannya dari pendidikan keagamaan tradisional menjadi pendidikan umum, dengan mendirikan sekolah-sekolah umum dan perguruan tinggi. Kelebihannya, pesantren bisa menggaet banyak santri yang ingin bersekolah umum sekaligus belajar di pesantren. Kekurangannya, pesantren secara faktual bisa terseret dan ‘terlupa’ akan jati dirinya sebagai tempat tafaqquh fiddin (pendalaman ilmu agama) dan pencetak ibadillahis shalihin (orang-orang agamis dan ahli ibadah). Karena itulah pesantren salaf yang demikian oleh masyarakat jarang disebut pesantren salaf lagi.

Adalah sangat disayangkan bila pesantren salaf kehilangan jati dirinya dan (mungkin akan) hilang dari peredaran. Sebab ia adalah lembaga pendidikan Islam tertua di negeri ini, sebagai peninggalan Walisongo yang patut untuk dilestarikan. Karenanya, pesantren salaf perlu berbenah dan melengkapi segala kekurangannya, namun tidak perlu berubah menjadi pesantren modern.
Pesantren salaf harus mempertahankan identitas dan ciri khasnya, yakni: berorientasi pendidikan keagamaan tradisional; pengkajian kitab-kitab berbahasa Arab karya ulama abad pertengahan; sistem sorogan, bandongan dan musyawarah; penghormatan pada kiai, kitab, dan guru; penitikberatan pendidikan akhlak; pemakaian atribut kesantrian, seperti kopyah/kerudung dan sarung; pendidikan kemandirian, seperti menanak nasi dan mencuci sendiri; dan tradisi bahtsul masa’il.

Saat ini pesantren salaf memang dihadapkan pada tantangan yang cukup kompleks, di satu sisi ingin mengikuti tuntutan zaman, di sisi lainnya ingin mempertahankan nilai-nilai kultur ketradisionalannya. Maka menarik untuk digarisbawahi solusi dari salah seorang “kiai muda” PP Sidogiri Pasuruan, “Bukannya kita (kaum tradisional) yang mengikuti arus modernisasi, tetapi arus modernisasi itulah yang harus mengikuti kita”. Dan itu bisa tercapai jika pesantren salaf berbenah, bukan berubah. []

Dimuat di Buletin Sidogiri, edisi 01/Sya’ban-Ramadhan/1426

Tidak ada komentar:

Posting Komentar