Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

01 Juni 2009

Tak Mau Menukar Uang pada Pejabat

Suatu ketika KH Abd. Djalil bin Fadlil menyuruh khadamnya, Bukhori asal Bondowoso, untuk menukar uang Rp 10.000 pada Mas Mu’in, pedagang yang terkenal wara’ (menjauhkan diri dari dosa dan perkara syubhat) di Pasar Sidogiri.

Sesampai di depan toko Mas Mu’in, ternyata sedang tutup. Namun di sana Bukhori bertemu adik Mas Mu’in, yakni Mas Imad yang menjabat kepala desa Sidogiri.

“Hendak ke mana?” sapa Pak Kades.


“Disuruh menukar uang oleh Kiai, Pak,” jawab Bukhori.


Lalu Pak Kades menawarkan uang kecil, dan Bukhori setuju. Pikir Bukhori, apa bedanya uang Mas Mu’in dengan uang Pak Kades.


Ketika uang itu diberikan kepada Kiai, Kiai menanyakan apa betul uang itu ditukarkan pada Mas Mu’in. Bukhori menjawab uang itu ditukarkan pada Pak Kades. Ternyata Kiai tak berkenan menerimanya.


Karena sifat wara’-nya, Pengasuh PP Sidogiri itu tidak menerima uang Pak Kades yang berasal dari sumber yang tidak jelas halal-haramnya, alias syubhat. Walaupun itu hanya menukar uang.


Lalu, tanpa menyentuh uang itu beliau menyuruh Bukhori mengembalikannya. Segera ia berangkat mencari Pak Kades. Namun Pak Kades sudah lupa terhadap uang Kiai, sebab sudah bercampur dengan uang lain. Bukhori pun kembali melapor.


Wis, nggak usah dipek. Nggak opo-opo (Sudah, tidak usah diambil. Tidak apa-apa),” kata Kiai enteng. Padahal Rp 10.000 saat itu, akan bernilai jutaan rupiah saat sekarang.
[]

Dikutip dari Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri, dimuat di Buletin Sidogiri



Tidak ada komentar:

Posting Komentar