Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

08 Juli 2009

Pondok Pesantren Kauman: Jejak NU Di Kota Bondowoso

Majalah AULA, Mei 2008

Pukul 02.00 dini hari. Kiai Syamsul Arifin didatangi dua orang utusan yang membawa pesan Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Mereka tidak lain adalah putranya sendiri yang sedang belajar di Tebuireng. Pesan yang dibawa cukup singkat, agar Kiai Syamsul masuk NU (kala itu masih Masyumi).

Setelah mendengar pesan pada dini hari itu, segera ia bangunkan seluruh santri yang ada, lalu semuanya diperintahkan untuk pulang. Mereka dibebani tugas khusus untuk mengabarkan kepada seluruh kerabat mereka masing-masing, bahwa Kiai Syamsul telah masuk NU.

---------

Nama lengkap pesantren ini adalah Pondok Pesantren Kauman Alhasani Allatifi. Terletak di tengah kota Bondowoso. Tepatnya sekitar 200 meter dari Masjid Agung. Orang biasa menyebutnya dengan Pondok Kauman, sesuai dengan nama daerahnya. Selintas, pesantren ini tidak begitu terlihat dari jalan, karena harus melewati gang kecil yang menjadi pintu masuknya. Beruntung ada papan nama pesantren yang dipasang di atas pintu gang yang bisa menjadi petunjuk.

Meski tidak begitu terlihat dari jalan, namun bisa dipastikan orang Bondowoso akan mengenal nama Pondok Kauman, sebab pondok itu termasuk pondok kuno. Didirikan pada tahun 1842 M (1263 H) oleh KH Abdul Latief. Nama Pondok Kauman juga erat kaitannya dengan PCNU Bonsodowo, karena generasi kedua pesantren ini, KH Cholil, adalah salah seorang pendiri NU Bondowoso dan menjabat rais syuriah yang pertama (1935). Begitu juga dengan saudara kandungnya, KH Syamsul Arifin, pernah menjabat rais syuriah tiga periode.

Pada masa-masa selanjutnya, pesantren ini juga pernah mendapatkan guru tugas dari PBNU yang waktu itu masih di Surabaya. Tidak main-main, guru tugas itu bernama HA Hamid Widjaja, yang kelak akan menjadi Ketua Umum PP GP Ansor beberapa periode dan juga pernah menjabat sebagai Sekjen PBNU. Hubungan besan dengan keluarga besar Pesantren Sidogiri turut menambah kentalnya nafas NU di pesantren ini.

Dan, orang akhirnya mengenal nama HM Anshary Syams -- tokoh Pandu Ansor, Sekjen Missi Islam, Sekjen PBNU, pengelola koran Duta Masyarakat dan Majalah Risalah Islamiyah, sekaligus politisi kawakan NU. Di pesantren inilah dia dilahirkan dan dibesarkan.

Meski sudah berumur satu abad lebih, namun pemandangan di pesantren ini masih tampak biasa-biasa saja. Hingga kini ndalem Kiai Tuan Abdul Latief (pendiri pertama) yang dulu sekaligus digunakan sebagai langgar pesantren, masih tampak kokoh dan utuh.

Rumah kuno yang terbuat dari bahan kayu ukuran besar dengan anyaman bambu tebal rajutan kasar dan besar itu masih tetap sebagaimana aslinya. Rumah berukuran 12 m x 17 m dengan tinggi plafon 6 meter itu bagaikan pendopo besar yang bisa dipergunakan untuk pertemuan berskala besar.

Ketika Aula berkunjung ke pesantren ini, sebagian bangunan pesantren sedang dilakukan renovasi. Banyak bahan bangunan masih berserakan di sana-sini. Sebagian di antaranya menutup jalan dan memenuhi halaman. Namun demikian aktivitas pesantren tidak sampai terganggu. Para tetap mengaji sebagaimana biasa.

Ada pemandangan tidak lazim yang tampak di sana. Banyak tentara berlalu-lalang di dalam areal pesantren. Termasuk di ndalem KH Imam Hasan, pengasuh saat ini. Mereka tampak sudah terbiasa dan sangat akrab dengan santri dan kiai. Mobil dinas dengan plat hijau juga diparkir di dalam pesantren. “Mereka sudah biasa di sini, sudah seperti rumah sendiri,” kata Mas Alwi Hasan, Ketua Majelis Keluarga Pesantren Kauman.

Seorang warga Bondowoso menuturkan, hubungan Batalyon 514/ Kostrad dengan Pondok Kauman memang sudah terjalin sejak lama. Tidak hanya para prajurit yang sering datang ke pesantren, tapi juga Danyon dan Wa Danyon. Keduanya tidak asing dengan lingkungan pesantren ini.

Memang, selain dikenal sebagai ulama yang mengajarkan ilmu agama, Kiai Imam juga dikenal memiliki kelebihan dalam hal ketabiban. Alumnus Pesantren Sidogiri itu juga terlihat menjaga jarak dari dunia politik dan ceramah di podium.

Tetap Menjaga Ruh Salaf

Meski berada di tengah kota, namun Pesantren Kauman tetap menjaga ruh salafnya. Setiap hari para santri tetap terbiasa akrab dengan sarung, kopiah dan baju lengan panjang. Pengajian yang diberikan juga menggunakan pegangan kitab kuning ala pesatren pada umumnya. Mereka juga akrab dengan wirid dan amalan rutinan ala NU.

Pesantren ini sengaja tidak membuka sekolah umum, karena sudah banyak sekolah umum yang berada di sekitarnya. Maklum, letaknya di tengah kota. Sedangkan di pesantren hanya ada sekolah diniyah. Meski demikian, pesantren tetap memberikan kebebasan pada santri yang ingin menempuh pendidikan umum. “Bagi santri yang ingin sekolah umum, dipersilakan, tidak jauh dari pesantren, silakan milih sendiri,” kata KH Imam Hasan, pengasuh pesantren saat ini.

Menurut Kiai Imam, “hukum” masuk sekolah umum di Pesantren Kauman adalah boleh dan dipersilakan, sedangkan masuk sekolah diniyah yang ada di pesantren adalah harus. “Pesantren memberikan kelonggaran, asal tidak meninggalkan yang utama,” lanjut Kiai Imam.

Selain pendidikan agama, para santri Pondok Kauman juga dibiasakan dengan shalat berjamaah dan membaca wirid bersama di masjid. Namun Kiai Imam menolak kalau para santrinya akan diarahkan untuk menjadi tabib. Mereka hanya diarahkan pada keikhlasan dan sikap istiqamah pada pengamalan. “Ikhlas, itulah kunci semuanya,” tutur Kiai Imam yang saat ini mengasuh sekitar 700 orang santri putra dan putri. (M. Subhan
)

Catatan: KH. Abdul Latief adalah Pendiri dan Pengasuh PP Kauman Alhasani Allatifi, Kauman Bondowoso. Di antara putranya adalah KH. Syamsul Arifin, yaitu Pendiri dan Pengasuh PP Tholabuddin, Kauman Bondowoso. Dua pesantren ini lokasinya berdekatan.

Sedangkan putra KH. Syamsul Arifin yang disebut sebagai utusan KH. Hasyim Asy'ari adalah KH. Chafidz Syams. Dan Mas HM. Anshary Syams yang disebut sebagai Sekjen PBNU adalah adik dari KH Chafidz Syams, sekaligus kakak dari KH Munawwir Syams, Kauman Bondowoso.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar