Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

21 Juli 2009

Ponpes Sidogiri Pasuruan Berkualitas dan Tetap Tawadhu'



Republika, Juli 2004

Bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Sidogiri (PPS), setiap tamu agaknya akan merasakan sangat 'terhormat'. Betapa tidak, para santri yang tengah lalu lalang di jalan masuk kompleks ponpes sepanjang 150 meter itu seketika berhenti begitu melihat sebuah kendaraan tamu datang atau pergi. Mereka segera menyilangkan tangan dan menghadap ke arah tamu-tamu yang lewat tersebut, seolah memberikan salam penghormatan.

Begitulah gambaran salah satu suasana Islami saban hari di pesantren tua yang terletak di Desa Sidogiri, Kraton, Pasuruan, Jawa Timur ini. ''PPS ini senantiasa menekankan sifat tawadhu'. Meski dilengkapi berbagai fasilitas pendukung pendidikan, para santrinya senantiasa mendepankan sifat-sifat mulia,'' tutur Drs HM Baharun SH MA, salah seorang pengajar PPS yang tinggal di Malang.

Keberadaan PPS ini bermula dari perjalanan seorang pemuda bernama Sayyid Sulaiman, perantau asal Cirebon, Jawa Barat, yang datang ke Sidogiri, 259 tahun silam. Dengan ditemani seorang santrinya bernama Aminulloh, putra pertama pasangan Sayyid Abdurrahman bin Umar bin Syaiban dan Syarifah Khadijah binti Syarif Hidayatullah (Sunan Gunun Jati) ini berhasil membangun pesantren kecil di wilayah yang waktu itu masih berupa hutan belantara. Mbah Sayyid, sebutan Sayyid Sulaiman, kemudian menamainya Sidogiri.

PPS yang kini diasuh oleh KH Abd Alim bin Abdul Djalil, generasi kedelapan dari Mbah Sayyid, memiliki sekitar 5.000 santri putra dan 3.000 satri putri. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia dan juga Malaysia.

Dengan menggunakan kurikulum klasik, PPS menerapkan pendidikan madrosiyah (diniyah-klasikal) dan ma'hadiyah (luar madrasah non-klasikal) dengan nama Madrasah Miftahul Ulum (MMU). MMU menerapkan empat tingkatan pendidikan. Yaitu, tingkat sifir yang harus diselesaikan dalam satu tahun dan tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) dalam 6 tahun. Selanjutnya tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang ditempuh dalam tiga tahun dan Madrasah Aliyah Tarbiyatul Muallimin (MATM) tiga tahun. Di samping itu, MMU juga memiliki jenjang pendidikan persiapan, IstiĆ¢€™dadiyah, yang memerlukan waktu belajar satu tahun.

MI MMU memiliki 1937 siswa dengan 74 tenaga pengajar. MI juga mempunyai madrasah filial (ranting) sebanyak 55 buah yang tersebar di wilayah Pasuruan dan 20 buah di luar Pasuruan. Sistem filial ini untuk mengantisipasi membludaknya para santri baru yang masuk ke PPS, di samping untuk kemajuan syiar pendidikan di wilayah lain.

MTs merupakan tingkat lanjutan bagi murid yang tamat MI. Jenjang ini memiliki 2082 murid dengan tenaga pengajar 83 orang. Sedangkan MATM mempunyai 435 orang siswa 34 orang pengajar. Sedangkan tingkat Istidaiyah merupakan sekolah persiapan bagi santri baru dengan masa belajar satu satu. Usai di jenjang ini mereka dapat meneruskan ke MI atau MTs, sesuai hasil tesnya. Jenjang ini memiliki 655 siswa 24 pengajar.

PPS juga memiliki kegiatan ekstrakurikuler bagi para siswa, seperti unit kegiatan pengembangan intelektual, Pers Madrasah, pengembangan bakat dan minat. Bahkan sejak 11 tahun lalu para santri MMU juga menerbitkan Majalah Ijtihad yang terbit setiap semester, dengan tiras rata-rata di atas 4.000 eksemplar. ''Informasi tentang PPS ini dapat dilihat di www.sidogiri.com,'' ujar salah seorang santri. Termasuk tentang Idrus Ramli, santri MMU PPS, yang mengadakan kuliah keliling selama dua bulan di Inggris, atas undangan PB NU.

Bagi siswa yang telah lulus MTs MMU diwajibkan mengajar di madrasah atau pesantren lain selama satu tahun. Program yang dinamai Urusan Guru Tugas (UGT) ini sebagai syarat untuk mendapatkan ijazah MTs dan melanjutkan ke MATM. Menurut M Baharun, program KKN ala MMU PPS ini sudah dilakukan sejak tahun 1961 silam dan hingga sekarang masih dijalankan. ''Program ini sangat bermanfaat bagi para santri dan juga masyarakat Islam dalam meningkatkan kwalitas pendidikan,'' ujar kandidat Doktor IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Meski menekankan perlunya giat belajar, PPS tidak menjadikan Ilmu pengetahuan sebagai target mutlak yang ingin dicapai. PPS juga mempunyai komitmen kuat mendidik moral-spiritual santrinya. Yaitu melalui pendidikan rohaniah yang dilakukan secara intens, seperti wajib shalat berjamaah, shalat dhuha, shalat tahajud, riyadhah batiniyah (gerak batin), dan zikir lainnya setelah shalat isya, tengah malam, dan setelah shalat Subuh, secara kolektif dan terpimpin.

Fasilitas pendidikan


Untuk menunjang pendidikan, MMU PPS mendirikan sebuah perpustakaan pada 1973. Perpustakaan pesantren terbesar di Indonesia ini memiliki koleksi sekitar 5.000 judul dengan lebih dari 12 ribu kitab dan buku, di samping juga ribuan kaset, CD video, dan software. Perpustakaan yang rata-rata dikunjungi tiga ribu orang setiap hari ini juga menjadi sarana pendidikan alternative. ''Untuk pengembangan, pengelola perpustakaan bekerja sama dengan berbagai perpustakaan perguruan tinggi negeri di Jatim,'' kata M Baharun.

Fasilitas lain yang ada di PPS adalah Lembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA). Melalui lembaga ini para santri mendapatkan keterampilan membaca, mendengar, berdialog, menulis, dan menerjemahkan dalam bahasa Arab dan Inggris. LPBA juga mendatangkan guru tugas dari Universitas Al Azhar, Mesir.

Tak hanya itu, PPS bahkan juga memiliki Balai Pengobatan Santri (PBS) yang ditangani oleh sejumlah tenaga dokter profesional dan spesialis di bidangnya. ''Santri tak dikenakan biaya check-up kesehatan, pengobatan, ataupun rawat inap. Seluruhnya gratis.'' Baharun menambahkan, untuk menunjang kemandirian pesantren selama ini, PPS memperoleh pendapatan dari SHU Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sidogiri yang didirikan pada 1961.

Bagaimana dengan pemukiman untuk santri yang mencapai ribuan itu? Baharun mengatakan PPS menyediakan asrama yang berada di lingkungan pesantren, terbagi dalam 14 blok, secara keseluruhan mencapai 276 kamar. ''Namun ada satu blok yang berada di Surabaya, secara khusus digunakan untuk menampung anak-anak yatim.''

Kuliah Umum Radikalisme Islam


''Yang saya tahu adalah polisi sudah mulai mengobok-obok pesantren. Termasuk menzalimi KH Abu Bakar Ba'asyir. Bagaimana itu Pak?'' Demikian salah satu pertanyaan yang diajukan santri MMU PPS dalam Kuliah Umum tentang ''Radikalisme dalam Islam, Fenomena Kemajuan Dakwah ataukah Kemunduran Langkah?'' yang dilaksanakan di gedung pertemuan PPS, beberapa waktu lalu.


Mendapat pertanyaan itu, DR H Untung S Rajab dari Mabes Polri, yang hadir sebagai pembicara bersama Ustadz Anshori dari PPS, mengatakan polisi tidak pernah melakukan hal itu. Polisi, katanya, hanya melakukan pemeriksaan sesuai prosedur. Jika misalnya ada kayu curian di pesantren, polisi hanya mengamankan saja dan bukan mengobok-obok. Mengenai penahanan KH ABB, yang disebut-sebut sebagai amir Al Jamaah Al Islamiyah dan terkait dengan terorisme, berilah kesempatan untuk memproses. Jika memang tidak bersalah, tentu dia akan dibebaskan. Lebih lanjut Untung mengatakan, ''Kita semua umat Islam ini adalah masuk dalam kategori jamaah islamiyah, namun bukan Al Jamaah Al Islamiyah.''

Sementara itu, Ustadz Anshori menyesalkan pemerintah tidak mengungkap motif di balik semua tindakan pemboman di Tanah Air. ''Apa sebenarnya yang melatari tindakan tersebut, itu yang perlu diungkap.''


Selama ini, kata dia, umat Islam hanya menjadi korban, menjadi kayu bakar atas merebaknya isu terorisme yang dihembuskan oleh Amerika. Ada propaganda Barat yang seolah tindakan terorisme itu mewakili Islam. ''Saya bersyukur dari pesantren-pesantren yang diduga terkait terorisme itu tak ada orang-orang dari kultur NU,'' ujar Anshori mengakhiri ceramahnya. (sam/dokrep/Juli 2004)

Sumber: Republika Online, Kamis, 08 Januari 2009

1 komentar:

  1. emm,apa benar dulu itu pertama kali mw mwndirikan pps kiainya sempat bertarung dengan jin penghuni tanah sidogiri, hehehe

    BalasHapus