Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

30 Agustus 2009

Kiai Ingin Mati Demi Kemerdekaan RI


Semasa revolusi memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, Almaghfurlah KA Sa’doellah Nawawie memobilisasi rakyat guna membendung agresi negara asing ke bumi Nusantara. Dengan sigap Ketua Umum Pondok Pesantren Sidogiri itu mengangkat senjata dan memimpin pasukan untuk mengusir kolonial Belanda.
Beliau bergabung dengan front perlawanan Hizbullah selaku komandan Kompi II untuk Divisi Timur. Tentara yang dipimpin sekitar 250 orang yang bermarkas di Pondok Pesantren Sidogiri, Sidogiri Kraton Pasuruan, kampung halamannya. Menurutnya, memerangi Belanda adalah peperangan suci untuk membela tanah air dari invasi kaum kafir.
Sebelum berangkat berperang, Kiai Sa’doellah membakar semangat pasukannya dengan orasinya. Ayat al-Qur’an yang sering disampaikan adalah, “Kullu nafsin dzâ’iqatul-maut! (Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati)(QS Ali Imron [3]: 185). Menurutnya, “Walau bagaimanapun juga, setiap manusia pasti akan merasakan kematian. Jadi jangan sampai takut mati dan susah. Pantang mundur, dan terus maju!”
Kemerdekaan Bangsa Indonesia dari belenggu kaum penjajah adalah tujuan utama perjuangan Kiai Sa’doellah. Hal ini tercermin dari perkataan beliau pada temannya tentang gugurnya Hadratussyekh KH Abd. Djalil bin Fadlil, kakak iparnya, “Seandainya Indonesia belum merdeka, saya juga ingin mati ditembak Belanda, tapi asalkan Indonesia merdeka.” []
Dimuat di Buletin SIDOGIRI edisi 32/Tahun IV/Syaban 1429.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar