Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

29 Agustus 2009

Membeli dan Menjual dengan Kasih Sayang

Meski menjadi sesepuh Pondok Pesantren Sidogiri, al-Arif Billah KH Abd. Adzim bin Oerip suka berbelanja sendiri ke pasar. Dalam jual-beli, kiai yang masyhur kewaliannya itu tak hanya berpikir untung-rugi untuk dirinya sendiri. Beliau membeli dan menjual dengan pertimbangan kasih sayang (syafaqah) pada sesama manusia. Terbukti kalau ada penjual yang ketepatan jualannya tidak laku, maka Kiai Abd. Adzim membeli semua barang dagangan orang itu.

Beliau juga sangat bijak dalam menjual barang, tidak suka merugikan orang lain. Suatu ketika, beliau menentukan harga kuda pada KH Baqir, menantunya, sebesar Rp 2.500 (harga waktu itu). Ternyata kuda itu ditawar orang dengan harga Rp 2.000. Kiai Baqir tidak memperbolehkannya, sebab harganya tidak sampai pada harga yang ditetapkan oleh Kiai Abd. Adzim.

Keesokan harinya, kuda itu mati. Melihat kejadian itu, Kiai Baqir melaporkan pada Kiai Abd. Adzim dan mengatakan, “Kok seandainya kuda itu diberikan, maka kita masih untung dan mendapatkan uang.” Apa tanggapan Kiai? “Justru karena tidak kamu berikan, kita mendapat keuntungan. Karena tidak merugikan orang lain.” []

Dimuat di Buletin SIDOGIRI edisi 31/Tahun IV/Rajab 1429

Tidak ada komentar:

Posting Komentar