Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

15 Agustus 2009

Seandainya Kita belum Merdeka


Buletin Sidogiri edisi 32/Tahun IV/Syaban 1429

Ketika bulan Agustus tiba, tiba-tiba saja bendera Merah Putih berkibar di mana-mana. Bendera-bendera itu ada yang berukuran kecil, sedang, besar, ada juga yang panjang dalam bentuk umbul-umbul seperti di zaman Majapahit.

Lomba-lomba agustusan banyak digelar. Tua-muda semua gembira menyambut hari kemerdekaan. Mengingatkan pada 63 tahun lalu, betapa gembiranya bangsa Indonesia saat mendengar Proklamasi Kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945.

Sungguh tak terbayangkan betapa gembira dan bahagianya mereka bisa merdeka, setelah perjuangan ratusan tahun lamanya dengan darah dan air mata. Kegembiraan dan kebahagiaan itu seakan menyirami seluruh jiwa dan raga mereka.

***

Kemerdekaan adalah satu hal yang sangat penting untuk disyukuri. Dengan kemerdekaan itu, kita bisa dapat hidup enak, layak, damai, dan tenteram. Tanpa ketakutan dan ketertindasan.

Bila membaca, mendengar, atau menonton sejarah Indonesia pra kemerdekaan, akan sangat terasa betapa memang kemerdekaan Indonesia adalah anugerah terindah yang harus disyukuri.

Seandainya kita belum merdeka sampai saat ini, banyak hal yang tak dapat kita lakukan. Dan banyak penderitaan yang akan kita rasakan. Dalam masalah pendidikan, kita mungkin tidak bisa bersekolah. Tidak bisa mendapat ilmu pengetahuan dengan mudah. Sebab di masa penjajahan, sekolah yang ada hanya untuk anak-anak penjajah dan anak-anak priyayi.

Dalam masalah pekerjaan, kita tidak bisa memilih pekerjaan sesuai kemampuan, bakat, dan minat kita. Sebab pekerjaan-pekerjaan yang mapan, hanya diperuntukkan untuk bangsa penjajah dan kaum ningrat yang sudah bersekolah.

Dalam masalah politik, kita tidak bisa bebas menyuarakan pendapat. Bahkan tak diberi banyak kesempatan berbicara, atau tak dianggap suaranya. Suara yang didengar oleh pemerintah penjajah hanya suara dari bangsa mereka sendiri (bangsa penjajah) dan suara yang sesuai dengan kepentingan mereka.

Di zaman penjajahan itu, nenek moyang kita hidup prihatin. Banyak yang menderita dan tersiksa, padahal mereka hidup di negeri sendiri, di tanah sendiri. Penjajahan oleh bangsa asing yang kafir adalah penyebabnya. Belanda, Portugis, Inggris, dan Jepang telah menjajah berbagai daerah di Nusantara dan memerintah dengan kejam.

Dari penjajah-penjajah tersebut, yang paling banyak disebut adalah Belanda dan Jepang. Sebab kedua bangsa kafir itu menjajah sedemikian banyak wilayah Nusantara dan sangat terasa kekejamannya.

Ketika Belanda mencanangkan program Culturesteel atau Kerja Tanam Paksa, ribuan rakyat pribumi terpaksa bekerja demi kepentingan penjajah dengan mengorbankan tanah, tenaga, bahkan juga nyawa mereka.

Pembangunan jalan raya dan jembatan proyek penjajah juga harus dilaksanakan tanpa bisa membantah. Karena keletihan, kelaparan, dan penyakit yang mendera, banyak pekerja paksa itu yang akhirnya meregang nyawa. Menyusul mereka yang telah dibunuh oleh penjajah hanya karena kesalahan kecil.

Ketika Jepang datang dan mengusir Belanda, bangsa Indonesia pada awalnya gembira. Sebab Jepang datang dengan propaganda bahwa mereka adalah penyelamat, dan bangsa Indonesia waktu itu memang membutuhkan “bantuan” untuk segera bebas dari penjajahan Belanda.

Namun, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, tak lama kemudian Jepang menampakkan wajah aslinya. Bangsa kafir Jepang yang menyembah Matahari itu ternyata bukan pahlawan, ia sama saja dengan bangsa kafir Belanda yang beragama Kristen Protestan: sama-sama datang hanya untuk memperbudak bangsa Muslim Indonesia.

Dan terbukti kemudian Jepang lebih biadab dari Belanda. Di masa penjajahan Jepang ribuan rakyat dipekerjakan paksa sebagai romusha. Tentara Jepang banyak menyiksa anak-anak bangsa Indonesia dan memperkosa anak-anak gadis bangsa Indonesia. Bukan hanya menyiksa, mereka juga mudah membunuh dengan kejam.

***

Seandainya kita belum merdeka, mungkin kita tak bisa hidup aman dan damai. Tak bisa sekolah. Tak bisa bekerja dengan layak. Tak bisa bertani dengan penghasilan penuh. Tak bisa berdagang dengan bebas. Tak bisa bekerja dengan tenang, karena banyaknya pajak dan pungutan liar lainnya. Tak bisa bebas bergerak dan berbicara.

Tak bisa naik haji, karena dipersulit oleh Belanda. Tak bisa sowan pada kiai-kiai, karena kiai-kiai banyak dipenjarakan Belanda maupun Jepang. Tak bisa membela diri saat dihina atau dilecehkan oleh penjajah. Tak bisa melawan dan membela diri saat kita atau keluarga kita hendak disiksa dan dibunuh oleh penjajah. Atau bahkan tak bisa memiliki hidup kita sendiri, karena diperjualbelikan sebagai budak oleh penjajah.

Betapa menderitanya mereka yang hidup menderita pada masa penjajahan itu. Dan betapa besar nikmat dari Allah pada kita yang berupa kemerdekaan ini. Tanpa petunjuk dan kekuatan dari-Nya dan tanpa kehendak-Nya, kita tak akan hidup dalam alam kemerdekaan, kebebasan, dan kedamaian seperti saat ini. Karena itu, sangatlah patut kita syukuri nikmat anugerah besar kemerdekaan ini.

Inna lillâh kita ucapkan bagi nenek moyang yang terbunuh atau tersiksa oleh penjajah. Dan alhamdulillah kita ucapkan bagi diri kita yang bisa hidup pada masa kemerdekaan saat ini. Juga tak lupa, syukran jazîla kita ucapkan bagi para pahlawan dan pejuang. Tanpa mereka, mungkin kita tak akan pernah merasakan nikmatnya kemerdekaan ini. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar