Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

27 September 2009

KH Fuad Noerhasan: Tak Pernah Minta Duit Pemerintah





Majalah TEMPO, edisi 21-27 September 2009

PONDOK Pesantren Sidogiri, Kraton, Pasuruan, adalah potret dunia pendidikan klasik yang mendobrak kultur masa lalu. Pondok yang identik dengan urusan kitab dijungkirbalikkan di Sidogiri. Bisnis dipelajari seperti lazimnya mengaji gramatikal bahasa Arab. Bagaimana bisnis dibangun hingga bermetamorfosis menjadi koperasi raksasa, KH Fuad Noerhasan, 53 tahun, pengasuh Sidogiri, menjelaskannya kepada wartawan Tempo, Muhammad Taufik. Berikut petikannya:

Apa sesungguhnya fondasi Pondok Pesantren Sidogiri?
Sejak didirikan, kami ingin memberikan pelayanan terbaik bagi umat.
Konkretnya apa?
Apa pun, mulai pelayanan pendidikan, sosial dengan membuka lembaga amal, pelayanan kesehatan dengan mendirikan klinik pengobatan, hingga urusan ekonomi melalui Koperasi Pondok Pesantren.
Apakah hingga sekarang selaras dengan cita-cita para pendiri?
Cita-cita para kiai tak muluk-muluk. Hanya ingin mencetak santri ibadillah ass-shalihin, santri yang kelak menjadi manusia saleh, patuh pada perintah Allah SWT. Selebihnya, mereka yang akan mengembangkannya sendiri.
Bagaimana semua itu dilakukan? Bukankah perlu biaya?
Benar. Biaya terbesar mengelola pesantren ini adalah dari para santri. Tiap tahun, santri ditarik iuran.
Berapa?
Tidak besar. Bahkan iuran di pondok ini paling kecil dibanding pondok pesantren lain. Kelas ibtidaiyah (SD) hanya ditarik Rp 130 ribu per tahun. tsanawaiyah (SMP) Rp 140 ribu, dan aliyah (SMA) Rp 150 ribu. Sebagian dana dipakai mengembangkan dan membuka unit usaha seperti Koperasi Pondok Pesantren itu.
Apakah iuran itu cukup untuk membiayai pendidikan santri?
Buktinya cukup. Iuran itu juga kita gunakan untuk membayar bisyaroh pengajar, kiai, ustad, dan pengurus. Sebagian lainnya untuk membangun sarana fisik.
Apakah ada bantuan dari pemerintah?
Sejak pondok ini berdiri, tak pernah minta dan berharap bantuan pemerintah. Kami berusaha mandiri. Belajar berwirausaha, mendirikan Koperasi Pondok Pesantren. Kami menghindari uang subhat dari pemerintah, karena hasilnya tidak barokah. Agar yang kita harapkan mendapat rida Allah, semuanya harus bersih. Tapi bukan kami membenci pemerintah.
Usaha apa lagi yang akan dikembangkan Kopontren?
Tahun ini, selain terus mengembangkan semua jaringan bisnis dan air minum kemasan, kami akan membangun Rumah Sakit Sidogiri. Sudah mulai jalan pembangunannya. Semoga bisa terwujud sesuai dengan harapan. []
Sumber: TEMPO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar