Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

03 November 2009

Mendirikan Madrasah dengan Istikharah

Sampai Hadratussyekh KH Abd. Djalil bin Fadlil menjadi Pengasuh, sistem pengajaran di PP Sidogiri hanya sorogan-bandongan, belum ada pendidikan madrasah. Lalu ada yang mengusulkan untuk mendirikan madrasah diniyah.

Mulanya Kiai Djalil kurang setuju. Di antara pertimbangan beliau, khawatir sisa-sisa kapur tulisan al-Qur’an dari papan tulis akan mudah diinjak. Dalam pandangan kiai yang dikenal wara’ itu, sisa-sisa kapur tulisan al-Qur’an masih dianggap al-Qur’an.

Namun karena santri semakin banyak dan tak memungkinkan ikut mengaji semua, akhirnya Kiai setuju. Kebetulan saat itu sudah ada guru tugas dari PP Tebuireng Jombang, namanya Ust Nahrowi, yang mengajar di kamarnya dengan sistem seperti madrasah di Tebuireng. Namun Kiai mewanti-wanti supaya tetap berhati-hati. Sebisanya sisa kapur penulisan al-Qur’an tidak diinjak.

Maka 14 Shafar 1357 H/15 April 1938 M, madrasah diniyah tingkat Ibtidaiyah resmi didirikan dengan nama “Madrasah Miftahul Ulum (Kunci Berbagai Ilmu)”, biasa disingkat MMU. Nama itu hasil istikharah Kiai Djalil. Yang diajarkan adalah pelajaran agama dengan menggunakan kitab-kitab salaf.

Dalam perjalanannya, MMU terus mengalami kemajuan. Pada Dzul Hijah 1378 H/Juli 1957 M, madrasah Tsanawiyah didirikan. Lalu 25 tahun berikutnya didirikan madrasah Aliyah, tepatnya 13 Muharam 1403 H/21 Oktober 1982 M. []

Dimuat di Buletin SIDOGIRI edisi 44/Tahun V/Syawal-Dzulqadah 1430 H


Tidak ada komentar:

Posting Komentar