Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

30 November 2009

Tausiyah Majelis Keluarga Sidogiri tentang Aliran Islam

Tausiyah

Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri



السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ:

Bapak/Ibu/Saudara/Saudari sekalian… sebagai penerima amanah perjuangan para Masyayikh Pondok Pesantren Sidogiri, kami merasa selalu dituntut untuk senantiasa melakukan tawashau bil-haq kepada masyarakat, khusus para santri, alumni, wali santri, dan simpatisan Pondok Pesantren Sidogiri, saling mengingatkan agar perjalanan hidup kita secara bersama-sama tidak terlepas dari jalur yang benar dalam meyakini, memegang dan mengamalkan ajaran-ajaran dalam agama kita. Jika kita senantiasa memegang dan menerapkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana yang diperintahkan dalam al-Qur’an dan Hadis, insya-Allah kemurnian ajaran yang kita pegang akan terjaga dengan baik untuk kita, keluarga, kerabat, masyarakat dan umat seluruhnya.

Akhir-akhir ini kehidupan beragama kita banyak mendapat tantangan dari berbagai aliran-aliran yang berkembang dan marak di tengah-tengah kita sekalian. Menyikapi hal tersebut, Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri mengimbau kepada segenap santri, alumni, wali santri, wali murid, simpatisan dan segenap masyarakat agar memiliki perhatian besar terhadap hal ini, mengambil posisi dan sikap yang terarah dan terpikirkan dengan matang, tidak membiarkan aliran-aliran itu berkembang begitu saja dan tidak pula mereaksinya dengan cara-cara yang tidak benar.

Maka dari itu, Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri mengimbau, khususnya kepada santri, alumni, wali santri, wali murid dan simpatisan Pondok Pesantren Sidogiri agar:

1. Semangat dan tidak putus asa membentengi ajaran Ahlusunah Waljamaah dalam diri sendiri, keluarga, famili, teman, dan masyarakat; dengan ilmu bagi yang memiliki ilmu, dengan harta bagi yang memilikinya, dengan pengaruh bagi memilikinya, dengan wewenang bagi yang memilikinya, dan lain sebagainya. Hal ini merupakan kewajiban bagi kita sekalian sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam Surat at-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka.

Sementara itu, dalam Hadis-Hadis Rasulullah saw telah dinyatakan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan. Satu golongan yang dimaksud dalam Hadis Rasulullah tersebut adalah Ahlusunah Waljamaah.

2. Jangan mudah heran dan kagum terhadap aliran-aliran baru yang tampak luar biasa. Begitu pula dengan aliran-aliran yang aneh, memiliki kemampuan luar biasa, misalnya seperti bisa tahu isi hati kita sebelum diberi tahu, atau bisa terbang dan berjalan di atas air sekalipun. Jangan tertipu dengan keajaiban-keajaiban semacam itu, karena keajaiban tidak tentu menjadi petunjuk bagi kebenaran. Keajaiban bisa datang sebagai tipu daya setan, semisal sihir, sulap dan lain sebagainya. Jika ajaran yang mereka bawa atau amal yang mereka lakukan tidak sesuai dengan syariat, maka keajaiban apapun yang mereka miliki berarti adalah tipu daya setan. Jangan pula mudah terpukau oleh penampilan dari berbagai aliran yang berkembang saat ini, dengan tujuan-tujuan yang mereka gembar-gemborkan, atau kesan baik yang mereka tanamkan di awal. Akan tetapi, telitilah terlebih dahulu: bagaimana pahamnya secara utuh, kitab atau buku apa yang dijadikan pegangan, siapa pendirinya, siapa tokoh-tokoh yang mereka anut, siapa guru-gurunya, bagaimana sejarah aliran tersebut, dari mana berasal, dan lain sebagainya. Sebab, dalam berguru ilmu agama kita harus hati-hati dan mencari orang yang tepat, sebab jika tidak maka kita akan terjerumus ke dalam kesesatan.

3. Semangat menolak beberapa paham di negeri kita yang sangat jelas bertentangan dengan Ahlusunah Waljamaah, di antaranya: (a) paham yang mengatakan bahwa Allah itu bersemayam dalam diri kita; bahwa orang yang mencapai tingkat spiritual tertentu sudah tidak berkewajiban melakukan salat/amal dengan tubuh tapi cukup dengan hati, atau sudah tidak berkewajiban melaksanakan syariat tapi cukup dengan hakikat; (b) paham yang suka menafsirkan al-Qur’an murni dengan akal tanpa mengikuti penafsiran dari para ulama; mendahulukan akal daripada al-Qur’an, Hadis, Ijmak atau pendapat dari para ulama salaf; mengupayakan kesetaraan laki-laki dan perempuan hingga merusak pengertian nas-nas al-Qur’an dan Hadis; membela kemaksiatan dan kesesatan atas nama hak asasi manusia; (c) paham yang selalu mengagung-agungkan Sayidina Ali bin Abi Thalib ra dan mengecam Sahabat-Sahabat Rasulullah saw yang lain; menganggap bahwa kekhilafahan Abu Bakar as-Shiddiq ra, Umar bin al-Khatthab ra dan Utsman bin Affan ra tidak sah; salat dilaksanakan hanya dalam tiga waktu; menganggap bahwa al-Qur’an yang ada sekarang masih kurang; tidak mau menerima Hadis-Hadis dalam kitab al-Bukhari dan Muslim; (d) paham yang menyatakan bahwa seluruh umat Islam ini kafir kecuali kelompok mereka yang sangat kecil; (e) paham yang menyatakan masih ada nabi atau rasul setelah Nabi Muhammad saw; dan paham-paham lain yang jelas-jelas bertentangan dengan Ahlusunah Waljamaah.

4. Berupaya memberantas paham-paham tersebut juga paham-paham lain yang tidak sesuai dengan Ahlusunah, dengan cara-cara yang baik dan sebisa mungkin menjauhi tindakan-tindakan kekerasan yang dapat menimbulkan masalah yang lebih besar. Bila cara-cara lembut dan baik tidak berhasil sementara perkembangan aliran tersebut bisa menimbulkan keresahan maka sebaiknya berhubungan dengan pihak-pihak yang berwenang untuk melakukan langkah-langkah yang sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Pemerintah.

5. Merawat organisasi/jamaah yang telah diwariskan oleh para ulama-ulama Ahlusunah di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama. Bila terdapat hal-hal yang mengecewakan di tubuh jamaah tersebut maka lakukanlah pembenahan dengan: (a) memperbaiki diri sendiri dan orang di sekitar kita, karena baiknya kehidupan jamaah sangat bergantung kepada orang perorangan jamaah itu sendiri; (b) memberikan saran serta sumbangan pikiran, tenaga, maupun harta kepada jamaah, bukan justru membuat kesan tidak percaya, menyatakan keluar atau melakukan penggembosan terhadap jamaah tersebut; (c) bagi yang memiliki wewenang agar berupaya menghindarkan jamaah NU dan semisalnya, dari orang-orang yang dianggap memiliki paham-paham menyimpang, atau bisa membawa jamaah menyimpang dari jalur perjuangan dan khitah yang telah digariskan.

Demikian imbauan dari Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri. Semoga imbauan ini bermanfaat bagi kelestarian akidah Ahlusunah Waljamaah dan disambut dengan perbuatan-perbuatan nyata oleh segenap pihak di kemudian hari. Semoga ajaran dan paham Ahlusunah senantiasa tegak di muka bumi, khususnya di negeri kita tercinta ini. Semoga Allah melindungi kita, keluarga kita, kerabat kita, dan segenap masyarakat dari aliran dan ajaran-ajaran yang sesat. Semoga Allah memberikan taufik dan maunahnya kepada kita untuk mengetahui kebenaran dan mengikutinya.

اللَّهُمَّ اَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اِتِّبَاعَهُ وَاَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ



Pasuruan, 17 Ramadan 1430 H

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Majelis Keluarga

Pondok Pesantren Sidogiri


ttd

KH. A. Nawawi Abd. Djalil / d. Nawawy Sadoellah

Rois dan Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri / Katib


Sumber: www.sidogiri.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar