Seruan Revolusi Santri

"Para santri harus diberi peluang untuk membuat revolusinya sendiri. Sebuah revolusi wacana. Revolusi pemikiran. Lahap semua buku, diskusi dan menulislah. Sekali lagi bikin revolusi."

(Dwy Sadoellah, penulis dan esais dari Pondok Pesantren Sidogiri)

Catatan Editor "Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri I"

on 15 September 2011

Catatan Editor
Syamsu-l Arifyn Munawwir





“Sidogiri insya Allah akan abadi sampai Kiamat.” Ungkapan ini muncul dari beberapa kiai dan habib tentang Pondok Pesantren Sidogiri. Entah siapa yang pertama mengatakannya. Sekilas ungkapan ini tampak “berlebihan”. Tetapi, bagi orang yang mengenal betul Sidogiri, ungkapan ini rasanya tidak berlebihan.

***

Lahir dari perjuangan Sayid Sulaiman, wali Allah keturunan Sunan Gunung Jati, Sidogiri terus bertahan tanpa pernah mati sejak lebih dari dua ratus tahun lalu, yakni tahun 1718 atau 1745.

Bermula dari sebuah masjid yang dibangun di bekas hutan, Sidogiri terus berkembang. Dari segelintir santri sampai menjadi ribuan; dari pengajian kitab saja sampai dilengkapi madrasah; dari asrama santri putra saja sampai beberapa pondok putri; dari madrasah di Sidogiri saja sampai ratusan madrasah ranting filial di berbagai kabupaten; dari kios kecil koperasi pracangan sampai belasan unit koperasi beromzet puluhan miliar rupiah; dari pengiriman beberapa guru tugas (GT) sampai pengiriman 800 guru tugas dan dai ke berbagai propinsi dan luar negeri; dari menulis di papan tulis sampai menulis di media massa dan internet; dari pendidikan agama sampai pelatihan komputer, jurnalistik, falakiah modern, bisnis, dll; dari santri dalam negeri sampai adanya santri dari luar negeri—semua itu terjadi di Sidogiri.

Apa yang membuat pesantren tua ini mampu bertahan sekian lama? Tak lain faktor utamanya adalah tanahnya yang diyakini keramat dan berkah, atau barokah kata orang Madura. Hal ini diakui sendiri oleh kiai Sidogiri. Beberapa waktu sebelum Pengasuh PP Sidogiri KH Cholil Nawawie wafat, beliau mengatakan, “Sidogiri iku kramat pancen krono tanahe, duduk krono aku. Delo’en le’ aku nggak ono’, Pondok Sidogiri tambah gede (Sidogiri keramat bukan karena saya, tapi karena tanahnya. Lihat saja setelah saya tidak ada, Pondok Pesantren Sidogiri akan bertambah besar).”

Selain itu, faktor utama lainnya adalah para masyayikhnya. Masyayikh atau kiai-kiai Sidogiri kental dengan keilmuan dan pengamalan Fikih sekaligus Tasawuf. Ini yang membedakannya dari kiai-kiai lain, yang banyak kental dengan keilmuan dan pengamalan Fikih atau Tasawuf saja. Dan uniknya, kiai-kiai Sidogiri yang berpengaruh itu memiliki dua ciri khas: istikamah dalam ibadah dan khumul atau low profile, yakni tidak suka menonjolkan diri. Hal ini dapat dilihat dalam riwayat hidup mereka, seperti dalam buku Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri jilid pertama ini.

Dari khumul-nya, kiai-kiai Sidogiri biasanya tak begitu dikenal orang. Yang lebih dikenal adalah pesantrennya daripada kiainya. Dan dari khumul-nya kiai Sidogiri, dalam pergantian Pengasuh di Sidogiri kerap terjadi perebutan. Bukan perebutan untuk menjadi Pengasuh, tetapi perebutan untuk tidak menjadi Pengasuh (!).

Nama-nama yang terkenal tak mau menjadi Pengasuh yang tercatat dalam sejarah pesantren salaf ini adalah KH Abd. Adzim bin Oerip, KH Noerhasan Nawawie, dan KH Hasani Nawawie. Mereka mempunyai ilmu yang dalam, karisma yang besar, dan keistikamahan ibadah yang tinggi, tetapi mereka tak mau menjadi Pengasuh. Tampuk kepengasuhan mereka serahkan pada kiai-kiai yang lain, bahkan yang lebih muda.

Demikianlah Sidogiri. Ia memiliki berbagai keunikan yang khas. Keunikan itu dapat dibaca dalam buku ini, meski sejatinya banyak keunikan lain yang belum ter-cover dalam buku ini. Dan keunikan itu terus berlanjut sampai masa kini.

***

Dalam buku ini terangkum riwayat hidup 9 kiai Sidogiri, yakni (1) Sayid Sulaiman, Pendiri dan Pengasuh pertama; (2) KH Nawawie bin Noerhasan, Pengasuh dan salah satu pendiri NU; (3) KH Abd. Adzim bin Oerip, Sesepuh dan menantu Kiai Nawawie; (4) KH Abd. Djalil bin Fadlil, Pengasuh dan menantu Kiai Nawawie; (5) KH Noerhasan Nawawie, putra tertua Kiai Nawawie dan anggota Panca Warga; (6) KH Cholil Nawawie, Pengasuh dan anggota Panca Warga; (7) KH Siradj Nawawie, anggota Panca Warga dan Penasehat Majelis Keluarga; (8) KA. Sa’doellah Nawawie, anggota Panca Warga dan Ketua Umum; dan (9) KH Hasani Nawawie, anggota Panca Warga dan Penasehat Majelis Keluarga.

Dalam riwayat hidup mereka juga terdapat sejarah penyebaran agama dan ilmu agama, perjuangan kemerdekaan RI, berdiri dan berkembangnya NU serta lembaganya, dan perkembangan keagamaan serta pendidikan di Pasuruan dan Jawa Timur.

Pada edisi revisi ini, terjadi beberapa penyempurnaan (penambahan, pengurangan, pemberian terjemah, dll) isi dan tata bahasa, serta penambahan catatan kaki.

Di antara penyempurnaan itu, dalam biografi Sayid Sulaiman ditambahkan keterangan bahwa menurut riwayat yang masyhur di kalangan Keluarga Sidogiri, Kiai Aminullah menikah dengan Nyai Indah binti Sayid Sulaiman, bukan dengan Nyai Masturah binti Rofi’i bin Umi Kultsum binti Hazam bin Sayid Sulaiman. Dan dalam biografi KH Hasani Nawawie, ditambahkan kisah ucapan Kiai Hasani, “Pilih! Mati sekarang masuk surga, atau mati 70 tahun lagi juga masuk surga.” Kisah ini dimuat dalam majalah IJTIHAD, tetapi “tertinggal”, tak termuat dalam buku ini pada cetakan-cetakan lalu.

Sebagai mantan Redaksi dan Pengarah majalah IJTIHAD yang menangani rubrik Dzikra Masyayikh Sidogiri—cikal bakal buku ini—terasa jelas bagi saya dua hal. Pertama, ada beberapa keterangan sejarah yang setelah dipublikasikan ternyata memunculkan koreksi dari beberapa pihak. Hal ini dapat dipahami dari kenyataan bahwa sebelum dimuat di IJTIHAD, tak ada buku/catatan sejarah resmi yang komprehensif tentang Masyayikh Sidogiri dan PP Sidogiri. IJTIHAD-lah yang pertama mengumpulkan dan menyusun berbagai serpihan sejarah itu dari hasil wawancara dan peninggalan dokumentasi.

Apabila terdapat kekurangan dalam penyusunannya, hal itu tak dapat mengurangi bobot manfaat dan keutamaannya. Ini sama dengan sejarah lainnya—baik sejarah Walisongo, RI, Majapahit, dll—yang awalnya tak sempurna, kemudian semakin sempurna setelah penelitian ulang bertahun-tahun oleh para sejarawan.

Kedua, penyusunan dan publikasi riwayat hidup kiai-kiai Sidogiri di IJTIHAD dan buku ini telah berpengaruh besar, baik bagi Sidogiri sendiri maupun bagi pihak di luar Sidogiri. Di antara pengaruh itu, muncul kesadaran yang semakin tinggi akan pentingnya penyusunan dan penyempurnaan sejarah Sidogiri, tersusunnya riwayat Sayid Sulaiman yang menjadi ahli dakwah dan pendiri/kakek dari beberapa pesantren besar, sadarnya masyarakat akan peran penting Sidogiri dalam berdirinya NU dan kemerdekaan RI, dan terbukanya satir penutup hubungan nasab Masyayikh Sidogiri dengan Sayid Abu Bakar Basyaiban dari Hadramaut dan Sunan Gunung Jati (salah satu Walisongo) dari Cirebon.

Dan yang patut diacungi jempol, pengumpulan data dan penyusunan riwayat hidup Masyayikh itu murni dilakukan oleh santri, bukan oleh sejarawan yang ahli sejarah. Dengan demikian, Sidogiri bukan hanya mampu mendidik calon-calon ulama, tetapi juga  mampu mendidik calon-calon sejarawan.

Akhir kata, selamat membaca buku ini. Anda tak akan rugi membaca buku ini, bahkan akan mendapatkan banyak manfaat, insya Allah. 
 
Sidogiri, 09 Muharam 1429 H
06 Januari 2009 M


Sumber: "Jejak Langkah Masyayikh Sidogiri jilid 1", terbitan Pustaka Sidogiri, Pasuruan.

Comments
0 Comments

0 komentar :

Poskan Komentar