Seruan Revolusi Santri

"Para santri harus diberi peluang untuk membuat revolusinya sendiri. Sebuah revolusi wacana. Revolusi pemikiran. Lahap semua buku, diskusi dan menulislah. Sekali lagi bikin revolusi."

(Dwy Sadoellah, penulis dan esais dari Pondok Pesantren Sidogiri)

Jangan Lupakan KH. Abd. Alim Abd. Djalil

on 01 September 2012

Ahad siang pukul 14.30 wis, Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) bergemuruh.  Ahad 28 Dzul Hijjah 1425 H itu santri-santri diberitahu suatu kabar yang sangat buruk: Pengasuh PPS KH Abd. Alim Abd. Djalil wafat! Sekitar 10.000 santri putra-putri pun bertanya-tanya lalu terdiam. 
Kiai Lim—panggilan akrab KH Abd. Alim—pergi tanpa kata-kata. Semasa hidupnya, Kiai Lim memang orang yang tidak banyak bicara. Dan tak seorangpun menyangkal akan hal itu. Ia adalah sosok yang unik. Setidaknya ada lima kata yang bisa menggambarkan diri Kiai Lim; ‘alim, shamuth, khumul, istiqamah, tawadlu’.
Pertama, ‘alim (ahli ilmu agama). Seperti dikatakan anggota DPD RI KH Mahmud Ali Zain, sesuai dengan namanya, Kiai Lim adalah seorang kiai yang alim. Hal ini tak mengherankan, mengingat lebih dari 20 tahun ia mengajarkan Ihya’ Ulumiddin dan kitab-kitab besar lainnya. Sejak dahulu, saat mondok di PP Al-Anwar, Sarang Rembang Jawa Tengah, Kiai Lim sudah mendalami ilmu fikih. Di sana ia sering diajak oleh KH Maimun Zubair, putra kiainya, untuk menghadiri berbagai Bahtsul Masail.
Tak heran bila kemudian, setelah menjadi Pengasuh PPS, Kiai Lim tampak sangat teguh berpedoman dengan isi kitab-kitab salaf dalam langkah-langkahnya. Bila dalam referensi kitab disebutkan sesuatu itu haram, maka Kiai Lim akan mengatakan sesuatu itu haram. Ia seakan tak peduli dengan hal lain, bila itu bertentangan dengan isi kitab yang ditelaahnya.
Kedua, shamut (pendiam). Kiai Lim telah diakui oleh banyak kalangan sebagai seseorang yang tak banyak bicara dan tak suka mempergunjingkan orang lain. Konon ia pernah mengatakan, apa gunanya alim kalau masih sering mempergunjingkan orang lain. Kiai Lim memang tak suka banyak bicara, bahkan dengan keluarganya sekalipun. Bila menemui tamu, tamunyalah yang lebih banyak berbicara dibandingkan dirinya. Meminjam istilah Wakil Ketua FKB DPRD Jatim Ust. Anwar Sadad M.Ag, Kiai Lim adalah kiai yang secara sengaja, “menjaga untuk tak banyak bicara.” (Duta Masyarakat, Selasa 11/01/05).
Kiai Lim tak banyak bicara bukan hanya karena itulah sifat asalnya, tapi karena ia memang menjaga lidahnya dari bicara yang tidak baik dan tidak berguna. Itulah sebab mengapa Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf, Pasuruan, dalam pidato usai pemakaman Kiai, mengatakan bahwa Kiai Lim adalah kiai yang senantiasa mengamalkan Hadis Nabi, “Man kana yu’minu billah wal-yaumil-akhir, falyaqul khairan au liyashmut! (Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka berbicaralah yang baik atau diamlah!).
Ketiga, khumul (low profile). Sebagaimana tradisi dan umumnya para masyayikh Sidogiri, Kiai Lim adalah kiai yang khumul atau low profile. Tidak suka menampilkan diri. Bahkan Kiai Lim jarang keluar rumah. Tak heran bila kemudian banyak orang yang tidak mengenalinya saat berjumpa langsung dengannya.
Selain pada waktu pengajian kitab, Kiai Lim memang jarang menampakkan diri di tengah khalayak, baik itu santri maupun masyarakat, sehingga ketika ia berjalan di jalan pesantren, banyak santri yang tidak mengenalinya sehingga tidak minggir memberi jalan dan menghormatinya sebagaimana lazimnya sikap santri pada para kiai. Sebab mereka tidak mengenali bahwa ia adalah Pengasuh PPS.
Keempat, istiqamah. Semasa hidup sebagai Pengasuh PPS, Kiai Lim tidak pernah secara sengaja meninggalkan dua hal yang menjadi keistikamahannya, yakni mengimami salat berjamaah dan mengajar kitab pada santri. Bahkan saat sakitpun ia paksakan diri untuk tetap berjamaah dan melaksanakan pengajian kitab para santri di Surau H. Bila tak mampu mengimami salat berjamaah di Surau, ia mengimami salat berjamaah bersama beberapa khadam di ruang tamu dalemnya (rumahnya).
Dari istikamahnya mengajar kitab, saat sakitnya makin memarah, kiai terus dan terus mengajar kitab dari dalem memakai mik, dengan suara serak dan lemah. Baru ketika sangat parah, Kiai Lim terpaksa tidak melaksanakan pengajian. KH Abdul Adzim Kholili, keponakan Kiai Lim yang tinggal di Bangkalan Madura, pernah mengatakan bahwa Kiai Lim memang sangat menjaga keistikamahannya mengajar kitab para santri di Surau, sampai-sampai Kiai Lim sering menolak undangan dari luar karena dikhawatirkan mengganggu aktivitas pengajian yang diasuhnya.
Dan kelima, tawadlu’ (rendah hati). Karakter Kiai Lim yang juga menonjol adalah sifat dan sikapnya yang tawadlu. Ketika menemui para tamu wali santri dan alumni, Kiai Lim memakai bahasa Jawa yang halus (sopan). Kepada KH. Izzuddin (Gus Din), menantunya, Kiai Lim juga berbahasa Jawa halus. Karena dahulu, KH Bahruddin Thoyyib (Mas Bahar), adik ipar Kiai, pernah mondok di pesantren asuhan ayah Gus Din di Pare Kediri.
Kalau diminta menjadi wali nikah atau membawakan doa dalam suatu acara, Kiai Lim tidak akan mau bila masih ada kiai lainnya. Ketika menerima tamu-tamu penting, Kiai Lim-lah yang lebih dulu mengulurkan tangan untuk bersalaman dan membungkukkan badan dengan tawadlu, seakan ia bukan seorang kiai besar pengasuh pesantren tertua di Jawa Timur, yang mempunyai puluhan ribu santri dan alumni.
***
Kini Kiai Lim telah tiada. Jasadnya telah disemayamkan di Pesarean Masyayikh yang sejuk di belakang Masjid Sidogiri. Ia telah berkumpul dengan para masyayikh Sidogiri pendahulu. Senyum ramahnya tak akan lagi dapat kita lihat. Suara khas dan batuknya tak akan lagi kita dengar saat pengajian kitab. Karena ia telah tiada.
  Yang bisa kita lakukan saat ini adalah mencatat semua yang kita kenang dan kita tahu tentangnya, sebagai pengobat rindu dan pedoman langkah kita. Apakah itu tingkah-laku, wiridan-wiridan, kata-kata mutiara, atau lainnya. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah mendaftar kesalahan dan dosa kita padanya, untuk dapat kita mintakan maaf dengan mengaji di Pesarean dan minta kerelaan keluarganya. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berdoa dan berharap agar kita diakui sebagai santrinya. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengingat dan meneladani dirinya. Karena itu, jangan lupakan Kiai Lim. []

Sumber: Islam Indonesia di Mata Santri (2012) karya Syamsu-l Arifyn Munawwir.

Comments
2 Comments

2 komentar :

al-bab dhany mengatakan...

aku tidak pernah lupa pada guru guru ku ter cinta......trutama pada masyaih sidogiri...semoga beliua di terima di sisi nya...alfatehah....

ghazali.ga mengatakan...

ya Allah...ya robbi. siramilah hambamu ini dengan barokah beliau.

jadi teringat masa dlu ketika mondok di sidogiri.
ketika itu aku masih dikelas 2 tsanawiyah.
sore hari,tiba2 bumi sidogiri sunyi senyap, tenang tak ada suara.walawpun area pondok ramai dengan santri yang di pulangkan dari madrasah.
namun aku tidak mendengar suara ramainya santri yang pulang.
semuanya diam sunyi senyap dengan memendam rasa tak percaya akan wafatnya beliau.

tak lama ketika senja mulai redup, langitpun menitikkan grimis kesedihan. pertanda para malaikat ikut menangisi kepergian wali Allah swt.
ya syaikhi wa murobbi ... aku benar benar merindukanmu.untuk menuntun jalan hidupku menuju hidup yg saadah.
ALLOHUMMAGFIRLAHU WARHAMHU WA'FU 'ANHU..Amin Amin Yarobbal Alamin.

Poskan Komentar