Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

16 Oktober 2012

Taujihat Majelis Keluarga Sidogiri dalam Silatnas ke-4 IASS



Taujihat
Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri
dalam Silaturrahim Nasional ke-4
Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS)

Sabtu, 27 Dzulqadah 1433 H



السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله  الحمد لله  والصلاة والسلام على رسول الله   وعلى أله وصحبه ومن والاه. أما بعد

Alhamdulillah, pertemuan yang sangat penting ini bisa terlaksana secara rutin dari yang semula tiga tahun menjadi lima tahunan. Bagi para alumni, Silaturrahim Nasional ibarat sebuah hari raya, suatu momentum di mana kita harus hadir untuk menunjukkan solidaritas dan kekuatan kita, serta memahat citra bahwa kita memiliki semangat untuk bergerak dan berjuang secara bersama-sama. Citra semacam ini sangatlah penting bagi kita, khususnya karena hal tersebut bisa mempengaruhi opini dan menggiring pikiran publik untuk ikut bersama-sama dengan kita.

Bagi agama, massa yang besar adalah sebuah syiar yang sangat ampuh; dan bagi bangsa, merupakan kedaulatan yang sangat kokoh.

Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara alumni sekalian… Mengenai prinsip keorganisasian, ada suatu teladan dari Almaghfurlah Kiai Nawawie bin Noerhasan pada masa-masa pembentukan organisasi Nahdlatul Ulama. Konon, saat beliau dimintai pendapat mengenai pendirian Nahdlatul Ulama di Surabaya, ada dua masukan penting yang beliau sarankan. Yang pertama, beliau menyatakan: Tidak usah memakai uang. Masukan beliau ini, konon, diamini oleh para ulama saat itu.

Kenapa beliau menyampaikan hal tersebut sebagai masukan pertama!? Yang jelas, maksud beliau bukanlah hendak menafikan pentingnya urusan finansial, karena hal itu merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Dalam penafsiran saya, maksud beliau menyatakan hal tersebut adalah sebagai pesan kepada kita sekalian agar tidak meletakkan urusan uang di depan. Uang itu sangat penting, tapi jangan kita letakkan sebagai landasan, sebagai judul, sebagai tema, sebagai tujuan, apalagi sebagai segala-galanya.

Kita harus belajar meletakkan urusan finansial sebagai sarana, bukan sebagai inti. Maka dari itu, jangan sekali-kali berpikir bahwa tanpa adanya dana, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Jangan sampai karena minimnya dana kemudian kita jadi pesimis dan kehilangan semangat untuk bergerak.

Kiai Abd. Alim Abd. Djalil pernah memberi peringatan waktu itu, ketika banyak yang mengatakan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri bertahan hingga sekarang karena dukungan finansial Kopontren Sidogiri. Kata beliau, Sidogiri ada bukan karena dukungan finansial dan hebatnya manajemen. Tapi, Sidogiri ada karena ikhlasnya perjuangan dan kesungguhan para masayayikh. Karena doa-doa beliaulah, Sidogiri tetap dipercaya dan dihormati keberadaannya. Bukan karena lainnya.

Perlu kita ingat, bahwa hasil perjuangan dan jasa-jasa besar para ulama kita yang abadi hingga saat ini, sangat jauh dari pengutamaan urusan finansial. Yang menjadi pondasi mereka adalah semangat dakwah, keteguhan prinsip, ketulusan hati dan keteladanan diri. Selebihnya dari itu hanyalah sarana penunjang atau aksesoris pelengkap belaka.

Prinsip semacam ini sangat penting untuk kita perkental kembali ke dalam tradisi kita. Sebab, itulah yang menjadi pembeda utama antara santri dan bukan santri; antara pesantren dan bukan pesantren. Orang sukses sejati bukanlah orang yang memiliki kekayaan materi, sehingga ia bisa membeli apapun. Yang benar-benar orang sukses sejati adalah orang yang memiliki kekayaan hati, sehingga ia tidak bisa dibeli dengan apapun.

Oleh karena itu, dalam kalimat-kalimat visi yang ditegaskan oleh para Masyayikh kita, semua isinya adalah tentang kesalehan. Ketika Almaghfurlah Kiai Hasani Nawawie menulis takrif santri, isinya adalah kepatuhan kepada al-Qur’an, Sunnah, dan keteguhan prinsip. Ketika beliau menulis tentang as-Sa’adah al-Haqiqiyah, atau kebahagiaan dan kesuksesan sejati, beliau secara tegas menyatakan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah harta yang melimpah, tapi keimanan dan ketakwaan yang kokoh. Ketika para Masyayikh kita merumuskan visi Sidogiri, beliau-beliau menyatakan: Mencetak santri hakiki atau ibadillahis-shalihin, hamba-hamba Allah yang saleh.

Jelas sekali, bahwa pondasi keberhasilan Sidogiri sama sekali bukan terletak pada kesuksesan duniawi yang fana, semisal kesejahteraan, karir, nama besar dan semacamnya. Kesuksesan Sidogiri adalah mengenai sejauh mana santri dan alumninya memiliki keyakinan yang benar dan perilaku yang baik. Jika hal itu sudah tercapai, maka berikutnya adalah sejauh mana para santri dan alumni Sidogiri bisa membawa perubahan yang baik di tengah-tengah masyarakatnya.
Seperti telah kita ketahui bersama bahwa visi dari IASS ini adalah khidmah lil ma’had dan khidmah lil ummat, atau pengabdian kepada Pesantren dan Umat. Sidogiri sangat bangga bila ada alumni yang bisa memberikan manfaat kepada Pesantren dan Perjuangan, bukan malah memanfaatkan pesantren demi kepentingan.

Kita dituntut untuk berkiprah melakukan sesuatu untuk kepentingan agama, dan membawa perubahan yang baik di tubuh umat ini. Dan, untuk mencapai hal tersebut, tentu saja kita harus memulainya dari diri kita sendiri. Di tengah-tengah kita ini, terlalu banyak orang yang berpikir keras untuk mengubah dunia dan orang lain, tapi sedikit sekali yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri.

Maka, pondasi paling penting bagi kita adalah bagaimana kita tetap menjadi santri, di manapun kita berada, serta apapun profesi dan status sosial kita. Kalau jiwa santri melekat pada diri kita, maka apapun yang kita hadapi dan apapun yang kita alami, semua itu akan membawa kebaikan dalam hidup ini. Oleh karena itu, Sidogiri selalu dan akan terus mengurus ibadah santri, bukan mengurus makan, kesejahteraan dan karir mereka. Bagi Sidogiri, tidak ada masalah, santrinya menjadi apa saja. Apakah dia kaya atau miskin, apakah dia tokoh terhormat atau rakyat jelata; tidak ada masalah, asalkan dia tetap bisa memelihara jiwa kesantriannya. Sebab, kalau jiwanya sudah salah, maka miskin akan menjadi masalah besar, dan kaya akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi dan kalau menjadi orang besar akan seenaknya sendiri, menjadi orang kecil mengganggu ke sana ke mari. Namun, kalau jiwanya sudah baik, maka apapun posisi dan status dia, hal itu akan menjadi penunjang baginya untuk menjadi semakin baik, semakin dekat kepada Allah, atau bahkan membawa manfaat yang besar bagi orang lain.

Sidogiri ada bukan untuk mengantar santrinya menjadi pejabat, pengusaha, dan semacamnya. Namun, Sidogiri menyiapkan jiwa santri, agar kalau menjadi pejabat, dia bisa menjadi pejabat yang baik; kalau menjadi pengusaha, dia bisa menjadi pengusaha yang baik; kalau menjadi petani, dia bisa menjadi petani yang baik; dan begitulah seterusnya.

Oleh karena itu, kami senantiasa mendukung alumni untuk berkiprah di bidang apa saja, asalkan sesuai dengan koridor agama yang telah diajarkan di Pesantren ini. Silakan berkiprah di bidang apa saja: pendidikan, politik, ekonomi, sosial, budaya dan seterusnya, kami akan mendukungnya dengan doa. Dan, kita memang harus saling mendukung, saling mensupport, saling melengkapi dan saling memberi masukan. Jangan sampai saling menjegal, saling menyepelekan, atau saling meninggikan diri. Kerendahan hati saat kita berhasil meraih kesuksesan, itulah sesungguhnya hakikat dari kesuksesan itu sendiri.

Kita ikut bergembira dengan kiprah alumni di bidang ekonomi, meskipun fokus Sidogiri bukan di ekonomi. Alumni telah membuat lembaga keuangan BMT yang diakui secara nasional, dan kita patut memberikan apresiasi terhadap hal itu. BMT MMU dan BMT UGT ini memang bukan milik Pondok Pesantren Sidogiri, namun sangat perlu kita apresiasi karena didirikan dan dikelola oleh para alumni Sidogiri. Jika ada kekurang-sempurnaan dalam teknis pelaksanaannya, maka kita harus memberikan saran dan masukan yang membangun, dan harus diterima dengan cara yang dewasa, tanpa saling memusuhi.

Masing-masing pihak harus bersikap dewasa, menjauhi sikap pro dan kontra yang membabi buta. Harus ada kemauan untuk saling berkomunikasi, duduk bersama, dan mencari titik temu.

Sangat penting bagi saya menyatakan hal ini, karena kita seringkali terjebak ke dalam perpecahan yang tidak perlu, hanya gara-gara pola pikir yang salah. Hanya karena perdebatan dalam masalah-masalah yang berhukum sunnat, kita kadangkala terjatuh ke dalam permusuhan yang berhukum haram. Karena terlalu teliti terhadap hal-hal kecil, akhirnya kita lupa akan hal-hal yang jauh lebih besar. Orang-orang kita sangat suka ribut dengan masalah poligami yang halal, daripada ribut dengan masalah pacaran dan perzinahan yang jelas-jelas marak dan haram. Seperti halnya kita ribut dengan transaksi yang berbau hilah, tapi tenang dengan riba dan rentenir yang sudah lumrah  menguasai desa-desa dan kota-kota kita.

Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara alumni sekalian… Mengenai kekayaan dan karir yang telah saya uraikan tadi, hal itu akan menjadi nilai plus yang sangat istimewa bagi seseorang apabila bisa menjadi sarana untuk meningkatkan ibadah, kepedulian sosial, dan semangatnya dalam membantu kebaikan. Sebaliknya, jika kekayaan dan karir tersebut membuat dia terlalu sibuk dengan urusan duniawi sehingga melalaikan kewajiban dan perjuangan agama, maka kekayaan dan karir tersebut merupakan bentuk lain dari kemurkaan Allah yang semakin menjauhkan dia dari-Nya.

Selama di Pesantren dulu, kita semua sudah sering mendengar dari guru-guru kita tentang kisah Tsa’labah di masa Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Ketika masih miskin, dia begitu rajin beribadah dan salat berjemaah, tapi ketika menjadi kaya raya, dia begitu sibuk mengurus ribuan hewan ternaknya, sampai lupa salat, dan enggan memberikan zakat. Seperti juga Alumni, jangan bersemangat mendidik di masyarakat ketika masih pengangguran saja. Tapi ketika telah mepan secara finansial malah melupakan tugas utama sebagai santri. Betapa sangat naif dan mengenaskan, apabila hidup ini berakhir dengan su’ul khatimah gara-gara tidak kuat dengan godaan kekayaan. Naudzu billah min dzalik.

Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara alumni sekalian… Sidogiri bisa bertahan sampai ratusan tahun ini, karena dibangun dengan hati, bukan dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Dibangun dengan sesuatu yang tampak biasa-biasa saja tapi sebenarnya sangat luar biasa, seperti keistikamahan, ketulusan, ketabahan, kesederhanaan, dan berbagi kepribadian mulia lain yang telah biasa diteladankan oleh para Masyayikh kita sejak dulu hingga sekarang. Sidogiri tidak dibangun melalui kehebatan retorika yang memukau, tapi dengan kerendahan hati yang mempesona. Dari segi tampilan, tampaknya tidak ada yang menonjol, tapi sebenarnya sangatlah berat , karena harus berperang melawan diri sendiri.

Kiai Cholil Nawawie pernah menyatakan, beliau sangat bangga terhadap alumni yang masih menyempatkan diri untuk mengajar mengaji. Menurut saya, konteks dari dawuh beliau ini, menerobos jauh ke depan, melebihi masa beliau saat itu. Sebab, nyatanya dewasa ini, posisi guru ngaji, bahkan juga guru madrasah diniyah, sudah tampak sangat disepelekan oleh masyarakat. Atau, jangan-jangan sudah disepelekan oleh kalangan santri sendiri. Padahal, menjadi guru ngaji, merupakan pondasi paling mendasar dari seluruh bangunan keilmuan dan amal ibadah dalam agama kita ini.

Posisi guru ngaji jelas merupakan suatu yang sangat mulia, atau bahkan bisa menjadi paling mulia. Akan tetapi, kenyataannya, seringkali diabaikan oleh kita sekalian, boleh jadi karena tidak bergensi dan nyaris tidak memiliki keuntungan duniawi apapun. Padahal, sesungguhnya melalui ketekunan terhadap pengabdian-pengabdian yang sederhana semacam inilah, kita bisa lebih mudah mendapatkan kemuliaan sejati, daripada melalui kiprah-kiprah yang melambungkan popularitas dan mendatangkan keuntungan duniawi yang melimpah.

Mengenai ketekunan alumni dalam berkiprah bagi umat ini, saya pribadi memiliki gagasan, agar pada momen reuni berikutnya, perlu diadakan penghargaan untuk alumni-alumni yang dianggap memiliki jasa besar bagi perjuangan. Bukan hanya menilik kepada hasilnya, tapi juga menekankan pada kualitas diri, kepedulian dan ketekunan dirinya terhadap perjuangan.

Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara alumni sekalian… Hal kedua yang disarankan oleh Kiai Nawawie bin Noerhasan dalam proses pendirian NU adalah pemberian tali yang mengelilingi bumi di lambang Nahdlatul Ulama. Konon, beliau berpesan agar simpul tali itu tidak dibuat terlalu erat. Entah apa filosofi yang dimaksudkan oleh beliau dengan simbol tersebut. Namun, setidaknya menurut tafsiran saya, beliau mengingatkan akan pentingnya sebuah ikatan dan jaringan dalam gerakan dakwah. Akan tetapi, ikatan tersebut tidak boleh terlalu kaku, eksklusif dan serba tertutup. Sangat penting bagi kita membentuk sebuah ikatan, sebuah organisasi, dan sebuah komunitas, namun harus tetap dengan prinsip terbuka untuk berdialog dan berinteraksi dengan komunitas yang lain.
Tanpa kesediaan untuk berinteraksi, boleh jadi kita hanya akan menjadi katak dalam tempurung dan terjebak ke dalam fanatisme buta yang sangat tidak penting. Kita memang diperintahkan untuk memiliki fanatisme setinggi-tingginya terhadap prinsip kebenaran, tapi tidak terhadap hal-hal yang lain, apalagi untuk sesuatu yang hanya bersifat atribut, aksesoris, dan ornamen-ornamen belaka.

Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara alumni sekalian… Kami Majelis Keluarga menyambut baik dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap berbagai upaya yang telah dilakukan oleh para alumni di berbagai daerah. Sudah banyak jasa perjuangan yang dihasilkan oleh alumni, baik secara personal maupun secara kolektif keorganisasian. Entah sudah berapa banyak pesantren dan madrasah, khususnya di Jawa Timur, yang dikelola oleh alumni. Ini merupakan tonggak perjuangan yang sangat penting untuk mempertahankan ajaran Islam yang benar, di tengah derasnya arus pemikiran dan paham-paham keagamaan yang menyimpang.

Secara kolektif, para alumni juga sudah menghasilkan beberapa jasa pengabdian yang nyata. Di antaranya, berdirinya Darul Aitam Sidogiri di Surabaya, dan insya Allah sebentar lagi juga akan berdiri di Lumajang dan Pasuruan. Kemudian juga, berdirinya Pesantren Darul Khidmah  Sidogiri, di Jakarta dan Surabaya. Juga, badan sosial Laziswa Sidogiri dan DIM Sidogiri, yang saat ini sudah berjalan dan berkiprah dengan lumayan baik di tengah-tengah masyarakat. Juga, MMU Ranting, Urusan Guru Tugas dan Dai, Buletin SIDOGIRI, Penerbit Pustaka SIDOGIRI, yang semua itu berkaitan erat dengan kiprah alumni secara kolektif dan personal.

Majelis Keluarga juga menyambut baik berdirinya Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri yang disingkat dengan HMASS, yang diresmikan pada bulan Sya’ban lalu. Majelis Keluarga meresmikan organisasi mahasiswa ini  dengan harapan besar agar membawa perubahan di perguruan tinggi. Kalau tidak bisa membawa perubahan, minimal mereka tidak berubah oleh kecenderungan yang menghilangkan identitas kesantriannya. Saat mahasiswa-mahasiswa dari kalangan alumni Sidogiri bisa berkumpul dalam satu wadah organisasi, maka kemungkinan untuk tetap Sidogiri sangatlah besar. Secara sosiologis, manusia cenderung terpengaruh oleh komunitas yang mendominasi. Apapun yang datang dari pihak dominan akan cenderung diikuti oleh pihak yang didominasi. Kalau kita datang sendirian ke kandang singa, maka sebentar lagi kita akan habis menjadi mangsa. Tapi, kalau kita datang beramai-ramai ke sana, maka kemungkinan besar kita akan berhasil menjinakkannya, atau bahkan menjadikannya sebagai macan sirkus.

Bagi kami, pada masa-masa seperti ini, menjadi santri yang mahasiswa adalah sesuatu yang sangat lumrah dan biasa, namun menjadi mahasiswa yang santri merupakan suatu yang sangat istimewa dan luar biasa.

Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara alumni sekalian… Semua perkembangan positif dalam gerakan alumni ini merupakan hasil jerih payah, kerjasama dan semangat alumni untuk membantu perjuangan Sidogiri. Khidmah tersebut bisa memilin ikatan batin yang kuat antara kita dengan Pondok Pesantren Sidogiri, dan dengan para Masyayikh yang telah bersusah payah membangun perjuangan ini.

Merupakan salah satu pemandangan yang sangat indah bagi Majelis Keluarga jika melihat para alumni kompak, guyup dan berkumpul bersama-sama dalam kebaikan. Melihat hal itu, kami tak kalah bahagia dan tenteram ketimbang seorang ibu di desa saat momen hari raya, ketika dia kedatangan semua anak-anaknya yang tinggal saling berjauhan di mana-mana.

Maka, marilah kita jaga kekompakan kita. Jangan mudah diadu domba dan termakan oleh isu-isu yang berpotensi memecah belah kerukunan alumni. Sebesar apapun jumlah kita, jika kita terpengaruh dengan adu domba, maka pastilah hancur. Jumlah yang besar justru akan mendatangkan kekacauan yang jauh lebih besar, jika terpecah ke dalam kubu-kubu yang saling menyudutkan dan saling menyerang.

Kedepankan tujuan besar yang ada di hadapan kita, dan selalu lihatlah arah kiblat kita, jangan mudah dipalingkan oleh persoalan-persoalan kecil yang sudah lumrah terjadi dalam setiap hubungan sosial antara satu orang dengan orang yang lain. Tidak ada masalah besar, jika kita menganggapnya kecil; dan tidak ada masalah kecil jika kita menganggapnya besar.

Kekompakan alumni adalah ujung tombak bagi Sidogiri untuk tetap dipercaya oleh masyarakat. Karena alumni adalah miniatur kecil Sidogiri di tengah-tengah mereka. Jika alumni harum, maka nama Sidogiri juga akan ikut harum. Harus selalu kita sadari, bahwa setiap orang dari santri dan alumni selalu memanggul nama Sidogiri ke manapun dia pergi. Alhamdulillah, dari tahun ke tahun, kepercayaan masyarakat terhadap Sidogiri rupanya semakin tinggi. Bukti kongkritnya adalah jumlah santri  baru yang setiap tahun terus meningkat. Alhamdulillah, sejak pendaftaran baru dibuka sekitar satu setengah bulan yang lalu, jumlah santri baru yang mendaftar sudah mencapai angka 1300 orang. Hal ini, salah satunya, adalah karena alumni Sidogiri berhasil menjadi miniatur kecil yang indah bagi Sidogiri.

Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara alumni sekalian... Kita harus memberikan perhatian besar dalam merespon hal-hal penting yang terjadi di masyarakat, khususnya yang terkait dengan Sidogiri. Baru-baru ini, kiai-kiai kita telah dicemooh, dicaci maki, dan bahkan dikafirkan oleh orang lain. Namun, sepertinya kita terkesan acuh tidak acuh dalam menyikapi hal tersebut.

Kita lebih takut terjadinya hal-hal anarkisme, hingga kita rela melunglai sebelum berikhtiar apa-apa untuk membela kiai kita. Padahal ada banyak cara menyelesaikan masalah untuk menjaga harga diri dan harkat orang-orang yang katanya kita hormati, tanpa harus dengan cara anarkis. Tapi, nampaknya kita memilih alasan-alasan yang besar dan seram untuk menutupi ciutnya nyali kita sebagai santri.

Kita memang jangan sampai terjebak melakukan anarkisme. Karena anarkisme seringkali menjebak kita, sehinga niat baik dan nilai perjuangan kita yang mulia nampak buruk dan menangnya sendiri di mata mereka. Maka dari itu, jaga, jangan sampai diantara kita bertindak anarkis dalam merespon persoalan-persoalan di masyarakat, tapi jangan pula menggunakan anarkisme sabagai alasan kita untuk bersembunyi karena takut.

Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara alumni sekalian... hal lain yang sangat penting untuk kita perhatikan dan kita respon dengan sungguh-sugguh adalah masalah akidah. Karena ini merupakan ikatan yang niscaya, bersifat final, dan jauh berada di atas ikatan-ikatan yang lain. Urusan akidah masih lebih urgen daripada urusan syariat. Urusan haq dan batil masih lebih urgen daripada urusan halal dan haram. Urusan benar dan sesat masih lebih urgen daripada urusan baik dan buruk.

Oleh karena itu, perhatian kita terhadap urusan akidah haruslah seratus persen, tidak boleh setengah-tengah, sebab inilah urusan yang paling prinsip dan tidak bisa ditawar lagi. KH A. Nawawi bin Abd. Djalil pernah dawuh, Kiai Cholil Nawawie beberapa kali menyampaikan kepada para kiai agar Bahtsul Masail di Nahdlatul Ulama tidak hanya menyangkut persoalan-persoalan fikih. Namun, harus juga menyangkut persoalan-persoalan akidah, khususnya yang berkembang secara nyata di tengah-tengah masyarakat.

Kita ini, seringkali lebih semangat ketika membela kontestan pemilu atau pilkada ketimbang membela akidah Ahlusunah Waljamaah. Oleh karena itu, dalam struktur keorganisasian IASS ini memang sengaja tidak ada bidang politik, sebab tanpa disuruhpun, syahwat politik kita sudah mudah bangkit. Suatu saat nanti, kalau syahwat politik kita sudah menurun, mungkin di IASS mulai perlu adanya bidang politik.

Entah kenapa, semangat dan keberanian kita dalam percaturan politik begitu menggebu-gebu, sementara semangat dan nyali kita dalam wilayah pertarungan akidah tampak begitu lesu. Padahal, politik hanyalah kepentingan sementara, dan akidah adalah kepentingan abadi yang menjadi segala-galanya.
Bagi kita, akidah harus menjadi kriteria mutlak. Sehingga, meskipun tidak tercantum secara tertulis di dalam AD-ART, akidah Ahlusunah Waljamaah merupakan kriteria yang tidak bisa ditawar lagi. Maka, jika ada alumni Sidogiri sudah menjadi penganut paham-paham yang menyimpang, secara otomatis dia sudah putus dengan Sidogiri, dan secara esensial sudah tidak diakui sebagai alumni Sidogiri lagi. Statusnya sebagai alumni Sidogiri, pada hakikatnya, sudah gugur dengan sendirinya.

Jadi, marilah urusan akidah ini kita jadikan sebagai puncak dari berbagai cita-cita yang dibangun melalui IASS. Semuanya mengarah ke sana. Jangan mudah termakan dengan tudingan-tudingan miring seperti intoleransi, ekstrem, ekskulsif dan semacamnya, jika kita berada dalam konteks membela kebenaran. Yang terpenting, kita membelanya dengan cara yang baik, memakai landasan keilmuan yang kuat dan menjauhi tindakan-tindakan anarkis. Kita harus tegas menyatakan bahwa yang haq adalah haq, dan yang batil adalah batil, tanpa perlu risau dengan risiko apapun. Karena, inilah penghubung yang paling kokoh antara kita dengan para Masyayikh kita.

Semoga keberadaan IASS ini bisa menjadi jembatan khidmah yang menghubungkan kita dengan perjuangan para Masyayikh, serta menjadi jendela bagi kita untuk menengok ke luar dan memasukkan udara yang segar ke dalam rumah kita.

Semoga kegiatan ini bisa menyuntikkan inspirasi kepada kita sekalian untuk menyadari pentingnya bergerak secara bersama-sama. Semoga segala khidmah kita bisa menjadi ikatan kuat yang mengumpulkan kita dengan para Masyayikh, pada saat masing-masing umat manusia dikumpulkan dengan orang-orang yang mereka cintai dan mereka teladani.

Semoga kita semua mendapatkan taufik dan pertolongan dari Allah untuk tetap melangkah dan berjalan di titian yang benar. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita, menjadikan keluarga dan anak-anak kita sebagai orang-orang saleh yang berilmu tinggi dan berakhlak mulia. Semoga Allah menenteramkan hidup kita dengan rezeki yang halal dan barokah, rezeki yang mudah saat dicari, terasa cukup saat di hati, dan membawa kebaikan saat digunakan sehari-hari.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . آمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْن .

Pasuruan, 26 Dzul Qa’dah 1433 H

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


d. Nawawy Sadoellah
Katib Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri


Sumber : Halaman Facebook Pondok Pesantren Sidogiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar