Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

25 Juli 2013

Kata Pengantar Editor Buku “Ah, Santri”



Buku "Ah, Santri; Kumpulan Esai dan Puisi Dwy Sadoellah"
Jika Anda pernah mendengar bahwa Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, adalah pesantren yang maju dalam mencetak banyak penulis dan menerbitkan kitab, buku, dan berbagai media massa, maka perlu Anda ketahui bahwa hal itu tak lepas dari inisiatif dan motivasi dari seorang penulis dan kiai muda bernama pena Dwy Sadoellah
Mas Dwy Sadoellah adalah seorang penyair, esais, dan jurnalis yang berpengaruh. Dua bukunya telah menginspirasi para santri untuk melakukan "Revolusi Santri" atau "Revolusi Pena Santri". Dua buku itu adalah Ah, Santri; kumpulan esai dan puisi Dwy Sa'doellah (1426 H) dan Catatan Tidur dan Hal Lain (1433 H). Seruan Revolusi Santri di header blog ini adalah kutipan dari bukunya, "Ah, Santri". Suatu kehormatan bagi saya menjadi editor dari buku tersebut. Berikut ini kata pengantarnya.

***
Saat pertama kali mendengar tulisan Mas Dwy Sa’doellah akan dibukukan, senyum di bibir saya langsung tersungging. Saya tak bisa menahan senyum itu. Bukan hanya karena saya merasa cukup dekat mengenalnya, tetapi karena pada akhirnya kumpulan tulisan inspirator santri untuk menulis ini akan segera dapat dibawa ke mana-mana.
Mas Dwy Sa’doellah seakan memang dilahirkan demi menginspirasi santri untuk menulis. Ia tokoh di balik layar lahir dan besarnya majalah IJTIHAD di Pondok Pesantren Sidogiri (PPS). Ia kerap mempublikasikan esai dan puisinya di majalah tersebut, juga di jurnal MaktabatunA Perpustakaan Sidogiri. Setelah dua media besar itu lahir, media-media kecil, mading dan buletin, segera mengejar. Tulisan Mas Dwy Sa’doellah pun tiba-tiba menjelma mahabbah yang menarik para penulis baru untuk bermunculan.
Cara menulisnya yang khas, segar, dan unik—bahkan aneh di mata santri yang takjub—terasa begitu membangkitkan air liur untuk membaca esai dan puisinya dengan lahap dan nikmat. Dari nikmatnya, beberapa pembacanya sampai hapal di luar kepala kata-kata dalam karya Mas Dwy Sa’doellah. Misalnya, puisi Sambangi: Sebuah batu kali/Terlempar ke dalam mimpi/Ada Nyanyian/Ada janji/Di sini aku sendiri - katamu/Dan sebatang rokok ini/Tanpa api.
Sambangi yang dipublikasikan di IJTIHAD edisi 06 ini, pada 1418 H begitu memukau pembaca, sampai-sampai sebagian dari mereka 'tak sengaja' menghapalnya. Saat itu, puisi-puisi yang beredar hanyalah puisi 'biasa', dalam artian tanpa sesuatu yang memesona, yang membuat mulut menganga dan 'tak berdaya'. Puisi saat itu hanyalah beberapa baris kata yang dirangkai indah seperti bunga, tapi sayangnya bunga plastik yang tak segar. Tanpa imaji, tanpa simbol.
Di sinilah kekuatan puisi Mas Dwy Sa'doellah. Selain puisinya mengandung imaji yang merangsang secara indrawi, ia juga mengandung simbol-simbol yang merangsang secara intelektual. Ketika membaca "Sebuah batu kali'' misalnya, orang akan segera terhenti dan mereka-reka apa yang dimaksud 'batu kali? Lalu saat membaca "Terlempar ke dalam mimpi", orang akan bertanya-tanya kenapa 'terlempar ke dalam mimpi? Terlemparnya itu dilempar ataukah 'terlempar' dengan sendirinya? Dst, dsb, dll.
Dalam puisi SOWANKU, tiba-tiba saja Mas Dwy Sa'doellah membawa tanda titik dua ke dalam puisi: //: biarkan tanpa kata-kata/agar dusta tak lagi membuat luka. Ini sangat mengherankan bagi pembaca_yang masih terbiasa menulis puisi dengan gaya biasa. Sehingga setelah itu, sebagian santri sampai tergila-gila menulis satu puisi yang penuh dengan tanda titik dua dalam hampir semua lariknya (!).
Di saat lain, Mas Dwy Sa'doellah memakai cara lain mengungkapkan isi hati. Tanpa simbol, namun tetap dengan imaji yang kuat dan memesona. Biasa tapi tetap tak biasa. Dalam sajak istri, ia ungkapkan: andai aku tahu/bahwa kamu 'kan jadi istriku/'kan kutunggui kelahiranmu/kusiapkan berkalengkaleng susu... Alangkah manisnya!
Ah, saya sampai lupa kalau pesona dalam buku ini juga berbentuk esai. Ada empat esai dimuat dalam buku ini: Ah, Santri; Plong; Kekejaman yang Melahirkan Pahlawan; serta Do'a. Dalam esai-esai Mas Dwy Sa'doellah, kita akan mendapatkan pesona puisi yang 'mengartikel', atau artikel yang 'memuisi', seperti yang kita rasakan saat kita membaca Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohamad.
 Selain mendapatkan puisi yang 'mengartikel' dan artikel yang 'memuisi', dalam buku ini kita juga akan mendapatkan 'mangkel' dan 'pusing' apabila beberapa kalimat tak langsung terjangkau oleh nalar kita. Tapi justru di situlah asyiknya membaca karya Mas Dwy Sa'doellah: kita akan 'terpaksa' mengulang dan mengulang membacanya, sebelum akhirnya kita akan meluncur cepat di atasnya bak meluncur di atas salju yang licin—tanpa henti.
Kalaupun akhirnya kita tetap tak mengerti, paling tidak kita telah merasakan pesonanya. "Puisi yang baik selalu merupakan misteri. Inilah pesona puisi. Puisi yang baik kadang memang ditulis tidak untuk dimengerti" (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1990). Puisi Mas Dwy Sa'doellah adalah misteri, demikian pula esainya, sebab esainya adalah puisi yang panjang. Menghayatinya seperti membayangkan wajah gadis misteri, samar tapi indah.
Saya melihat esai dan puisi Mas Dwy Sa'doellah sebagai guru. Sejak kemunculannya yang pertama, keduanya telah memberi teladan tak langsung akan tulisan yang asyik dan unik untuk dibaca; memberi motivasi bahwa menulis seperti Goenawan Mohamad atau Chairil Anwar itu gampang; dan mendorong santri untuk menulis juga seperti dirinya—dengan cara yang benar. Misalnya, bahwa kata-kata karya sastra itu harus padat dan terpusat; bahwa setiap kata, setiap tanda baca, dan setiap pemotongan kalimat memiliki arti khusus dan konotatif.
Karena itulah dengan senang hati saya bekerja dengan Ust. Bahrullah Shodiq, dkk, Tim Penyusun buku ini. Karena tulisan Mas Dwy Sa'doellah adalah sebuah mahabbah, sebuah fenomena, sebuah keajaiban. Keajaiban yang memunculkan keajaiban-keajaiban lain.

Sidogiri, 1 R. Awal 1426 H

Syamsu-l Arifyn M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar