Seruan Revolusi Santri

"Para santri harus diberi peluang untuk membuat revolusinya sendiri. Sebuah revolusi wacana. Revolusi pemikiran. Lahap semua buku, diskusi dan menulislah. Sekali lagi bikin revolusi."

(Dwy Sadoellah, penulis dan esais dari Pondok Pesantren Sidogiri)

Mempelajari Rahasia Ajaran Syiah dari Sumber Aslinya

on 31 Juli 2013

Oleh: Syamsu-l Arifyn Munawwir

Bila terdengar berita tentang demonstrasi menentang Syiah di daerah Tanah Air, sebagian orang menganggapnya sebagai tindakan berlebihan. “Padahal sama-sama Islam,” begitu komentar yang kerap terdengar.

Untuk dapat menilai dengan objektif tentang Syiah, tentu perlu pengkajian yang cermat dan kritis tentang ajaran Syiah itu sendiri. Tidak serta merta menyalahkan atau membela. Sebagaimana kata pepatah, “Jangan membeli kucing dalam karung,” begitu juga dalam menyikapi aliran semacam Syiah, jangan kita menilai tanpa meneliti dan mempelajarinya terlebih dahulu.

Sebagaimana diketahui, MUI Pusat sejak tahun 1984 telah memfatwakan bahwa ajaran Syiah berbeda dengan Sunni dan agar umat mewaspadai ajaran Syiah. Kemudian pada tahun 2012, MUI Jawa Timur telah mengeluarkan fatwa tentang kesesatan Syiah, lengkap dengan pertimbangan ilmiah berserta dalil-dalinya. Fatwa tersebut telah dibukukan dengan judul Fatwa MUI Provinsi Jawa Timur tentang Kesesatan Ajaran Syiah. Benarkah Syiah sesat?

 

Untuk menemukan jawabannya, menarik untuk dicermati Daurah (seminar) “Aqidah Syiah & Pencegahannya” pada Rabu (17/04/13) di Meeting Room Dinas Pertanian Jawa Barat, Jl. Surapati Bandung. Acara ini diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah dan dihadiri sekitar 70 orang undangan dari kalangan ulama dan ormas Islam. Sebagai pembicara, adalah seorang pakar peneliti gerakan Syiah, Syekh Ali al-’Amary dari Arab Saudi.

Menurut penjelasan Syekh Ali al-’Amary, di dalam kitab-kitab karya ulama panutan Syiah sendiri diterangkan bahwa rukun Iman dan rukun Islam Syiah ternyata berbeda dengan rukun Iman dan rukun Islam yang diyakini oleh kaum Muslimin Sunni.

Rukun Iman menurut Sunni–berdasarkan Hadis Sahih–ada enam. Yaitu (1) iman kepada Allah, (2) iman kepada para Malaikat, (3) iman kepada kitab-kitab Allah, (4) iman kepada para Rasul, (5) iman kepada Hari Kiamat, dan (6) iman kepada qadha dan qadar.

Berbeda menurut Syiah, Rukun Iman ada lima: (1) iman kepada keesaan Allah, (2) iman kepada Keadilan, (3) iman kepada Kenabian, (4) iman kepada Imamah, yaitu kepemimpinan 12 imam, dan (5) iman kepada Hari Ma’ad/Kiamat.

Sedangkan Rukun Islam menurut Hadis Sahih adalah (1) syahadat, (2) shalat, (3) zakat, (4) puasa, dan (4) haji. Tetapi tidak demikian menurut Syiah, Rukun Islam versi mereka adalah (1) shalat, (2) zakat, (3) puasa, (4) haji, dan (5) imamah.

Syiah juga menganggap murtad kafir Sayidina Abu Bakar, S. Umar bin Khattab, S. Utsman bin Affan, karena dianggap merebut “hak” kekhalifahan dari S. Ali bin Abi Thalib. Mereka suka melaknat tiga khalifah pertama tersebut, dari cintanya yang berlebihan kepada S. Ali.

Ironisnya, ternyata S. Ali sendiri tidak suka dan memberi hukuman berat kepada orang-orang Syiah yang berlebihan memuja dirinya.

Dan ternyata, S. Ali tidak benci kepada S. Abu Bakar, S. Umar, dan S. Utsman, sebagaimana klaim Syiah. Bahkan beliau senang pada para khalifah pendahulunya itu, sehingga memberi nama putra-putranya (dari istri selain Fatimah) dengan nama Abu Bakar bin Ali, Umar bin Ali, dan Utsman bin Ali.

Selain itu, banyak data dan fakta ilmiah yang diungkap berdasarkan sumber-sumber utama dari Syiah sendiri. Termasuk tentang keyakinan Syiah Imamiyah bahwa Imam 12 itu ma’shum seperti Nabi, al-Qur’an yang ada dianggap kurang karena tidak mengagungkan S. Ali, dan adanya pandangan ekstrem dari Syiah bahwa S. Ali adalah “tuhan”.

Benarkah demikian? Padahal bila ditanya, para pengikut Syiah membantahnya. Untuk hal ini, Syekh al-’Amary mengingatkan bahwa dalam ajaran Syiah terdapat anjuran, bahkan kewajiban untuk melakukan Taqiyyah. Yaitu menampakkan diri berbeda dengan kenyataannya, menutupi dengan dusta, dll.

Maka, bila ditanya, apakah ikut Syiah? Mereka akan menjawab tidak. Apakah Syiah mengkafirkan sesama Muslim? Mereka akan menjawab tidak. Padahal jelas dalam ajarannya bahwa orang yg tidak meyakini Imamah adalah dianggap kafir. Karena meyakini Imamah menurut Syiah adalah termasuk Rukun Iman.

Demikian Syekh yang fasih itu menjelaskan secara gamblang ajaran akidah Syiah dari sumber langsung kitab-kitab utama karya panutan Syiah sendiri, seperti al-Kafi karya al-Kulaini, at-Tahdzib, Biharul-Anwar, dll.

Namun, disamping mengingatkan akan bahaya ajaran Syiah, Syekh juga menganjurkan untuk menyikapi Syiah dengan menempuh jalan yang legal berdasarkan undang-undang dan bekerjasama dengan aparat yang berwenang. Bukan main hakim sendiri. []

Sumber: www.kompasiana.com/syamsu-l

Comments
0 Comments

0 komentar :

Poskan Komentar