Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

08 Juli 2013

Sebetulnya Santri itu Harus Facebook-an


Malam Selasa, 03-03-1434 H Maktabati mewawancarai Mas Syamsul Arifin Munawwir, Penulis Buku Islam Indonesia di Mata Santri, dan Admin Facebook Pondok Pesantren Sidogiri, via e-mail terkait situs jejaring sosial Facebook. Kami tertarik untuk mengangkat situs itu melihat "demam" Facebook-an yang terus menjamur di kalangan santri. Benarkah berteman ala FB akan menimbulkan sisi positif pada santri? Bagaimanakah berteman yang ideal ? Berikut transkrip wawancara lebih jelasnya dengan mantan Kepala Perpustakaan Sidogiri.

Berteman ala situs jejaring sosial kini menjadi tren di masyarakat secara umum dan santri secara khusus. Pandangan Anda?

Situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan lainnya ibarat pedang bermata dua. Bisa bermanfaat, bisa juga berbahaya. Kalau digunakan untuk hal-hal bermanfaat seperti dakwah, berbagi ilmu atau kata motivasi, berbagi karya tulis seperti puisi dan artikel, atau mencari teman lama yang tak diketahui di mana berada, tentu bagus.

Tetapi kalau digunakan untuk hal-hal buruk seperti penipuan, menghujat seseorang atau pihak lain, dll, tentu tidak baik. Kalau pinter-pinter menggunakannya, bermanfaat juga untuk dakwah, bisnis, dan lainnya.

Sebetulnya berteman yang ideal menurut Islam seperti apa?

Berteman yang ideal menurut Islam adalah yang bermanfaat dunia akhirat. Seperti dalam Hadis Nabi, "al-Mar'u 'alâ dîni khalîlihi, falyanzhur ahadukum man yukhaliluhu." Seseorang ikut pada agama atau perilaku teman akrabnya, maka perhatikanlah dengan siapa kalian berteman akrab.

Dalam konteks berteman di dunia maya seperti Facebook, berteman yang bermanfaat dunia akhirat itu seperti berteman untuk menimba ilmu serta pengalaman dari ulama dan tokoh, untuk mempererat silaturahmi dengan kerabat dan sahabat, dll.

Banyak orang beralasan menggunakan FB untuk berdakwah. Namun, faktanya malah sebaliknya. Bagaimana Mas melihatnya?

Memang antara niat dan kenyataan terkadang tak sejalan. Tetapi bila awalnya berniat baik, biasanya mudah untuk sadar atau disadarkan. Memang ada yang niat awalnya untuk dakwah, tetapi kemudian tidak. Atau malah sebaliknya, awalnya tidak untuk dakwah, tetapi akhirnya untuk dakwah.

Saya sendiri pada awalnya tidak mau membuat akun Facebook meski banyak yang menyarankan, karena fokus mengelola blog www.syamsu-l.blogspot.com (kini www.syamsulmunawwir.com). Sampai suatu saat ada yang bilang, "Facebook bisa juga dibuat promosi blog," baru mau Facebook-an. Lama-lama, ternyata lebih aktif Facebook-nya daripada blognya. Hehe.. Pada akhirnya Facebook banyak digunakan untuk berbagi pemikiran dan motivasi Islami dari al-Qur'an, Hadis, atsar, maqalah tokoh Islam, maupun renungan sendiri.

Saya terkesan dan terinspirasi Facebook para ulama yang bermanfaat, seperti KH. Mustofa Bisri, KH. Yahya Cholil Staquf, Habib Novel Alaydrus Solo, Ust. Sarwat, Ust. Idrus Ramli, dan terutama Facebook guru dan mentor saya, Kiai Mas d. Nawawy Sadoellah (Dwy Sadoellah) Sidogiri.

Bagaimana dengan grup-grup atau halaman-halaman tertentu yang bergaris besar dakwah di Facebook?

Saya kira bagus sekali. Banyak grup dan fanspage Facebook yang bisa mengobati kehausan umat akan ilmu agama dan benar-benar berpengaruh untuk dakwah. Seperti FB Pondok Pesantren Sidogiri, Buletin Sidogiri, Majelis Rasulullah, Ust. Sarwat, Alkisah, Terong Gosong, dll.

Kalau akun FB biasa, jumlah temannya terbatas sehingga otomatis jangkauan dakwahnya juga terbatas. Tetapi fanspage dan grup FB jumlah anggotanya tidak terbatas, bisa ratusan ribu bahkan jutaan, sehingga pengaruh dakwahnya tentu lebih luas. Apalagi dengan manajemen yang baik. Dan daripada grup, pengaruh fanspage lebih jelas dan luas.

Kita lihat, misalnya, fanspage Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam waktu relatif cepat sejak dibuat, kini sudah disukai oleh ribuan Facebooker. Update statusnya juga setiap hari, bahkan beberapa kali sehari. Selain info Sidogiri, kata mutiara, kisah hikmah, dll, yang paling menarik adalah kutipan pengajian KH. Nawawi Abd. Djalil, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Suatu hal yang menarik sekali, baik bagi alumni maupun umat secara umum. Layak ditiru oleh pesantren-pesantren lain.

Jika diteliti, apa dampak yang timbul dari Facebooker ala santri?

Dampaknya sebenarnya macam-macam. Tergantung orangnya, bagaimana dia memanfaatkan Facebook itu. Kalau untuk dakwah, tentu berpengaruh. Apalagi kalau dicantumkan di profil dan fotonya bahwa ia santri, tentu teman-teman Facebook-nya semakin percaya pada apa yang ia sampaikan.

Tetapi yang patut disayangkan, masih cukup banyak santri yang tidak mencantumkan sebagai alumni pesantren di Facebooknya dan memasang foto atau status yang kurang menunjukkan kesantriannya.

Bolehkah santri jadi Facebooker?

Kalau yang dimaksud itu santri yang masih aktif di pesantren, tergantung bagaimana kebijakan pesantrennya, boleh atau tidak. Sekarang banyak pesantren yang menugaskan santrinya atau kerabat kiainya untuk mengelola media sosial pesantren. Misalnya Facebook Pondok Pesantren Sidogiri, adminnya ada Kiai Mas d. Nawawy Sadoellah, beberapa santri senior, dan saya sendiri.

Kalau yang dimaksud adalah kaum santri, tentu boleh, bahkan santri harus Facebook-an untuk dakwah. Daripada dakwah di Facebook dilakukan oleh orang-orang yang bukan santri, lebih baik dilakukan santri. Karena yang punya ilmu agama lebih dalam dari sumber aslinya adalah santri.

Pesan Mas untuk menghilangkan sisi negatif dari pengguna FB oleh santri?

Kalau santri Facebook-an, baiknya tidak melupakan dua hal. Pertama, bagaimanapun juga orang tahu atau akan tahu bahwa Facebook-nya adalah milik seorang santri. Bagaimana sekiranya ia ikut membuat bangga pesantrennya dan kaum santri secara umum, bukan membuat malu.

Dan kedua, membuat status yang bagus akan diingat orang, membuat status yang jelek juga akan diingat orang. Sama-sama diingat, mending membuat status yang bagus, yang bermanfaat, yang bisa memotivasi dan menginspirasi orang lain untuk lebih baik. []

Sumber: Maktabati, edisi 15, Rabiul Awal 1434.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar