Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

27 September 2013

Bila Berpolitik demi Agama dan Rakyat

KH. Sa’doellah Nawawie pernah menjadi DPRD Kab. Pasuruan dari Partai Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai wakil rakyat, dengan otoritas keilmuan dan ketegasannya, beliau sampaikan aspirasi rakyat dengan berani, sehingga disegani oleh anggota lainnya. Perjuangannya lewat jalur politik memang murni memperjuangkan rakyat. Terbukti beliau tak pernah mau menerima gaji.


Lalu pada tahun ketiga, beliau mengundurkan diri, Sebab bimbang atas langkah politiknya. Beliau mundur setelah menyuruh santri beristikharah dengan al-Qur’an, dengan sistem menghitung huruf Kha’ dan Syin. Ternyata, istikharah menunjukkan harus berhenti.


Setelah berhenti, Ketua Umum PP Sidogiri itu mengungkap alasannya menjadi anggota DPRD, untuk amar makruf nahi mungkar. Dan ternyata semua itu menurutnya tidak tercapai.


”Dan saya waswas terhadap apa yang saya makan. Bagaimana tidak? Karena yang dibahas di sidang itu bukan menghapus prostitusi, tapi memutuskan agar dilegalisasi dengan membuatkan lokalisasi dan ditarik pajak dengan alasan yang bermacam-macam. Pada akhirnya, argumen anggota yang menolak tidak kuat. Sedangkan yang mengetok palu adalah saya. Bagaimana ini, apakah saya tidak dosa? …minuman bir yang dibahas di dalam sidang adalah pajaknya. Bukan memberantasnya… Sedangkan yang mengetok palu adalah saya. Berarti tidak pok (sesuai) amar makruf yang dijuangkan dengan ketokan palu yang saya putuskan,” ungkapnya. []

Dimuat di Buletin SIDOGIRI edisi 38/Tahun IV/Rabius Tsani 1430 H dan www.sidogiri.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar