Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

19 Juni 2014

Mengajak Bukan Mengejek: Pentingnya Psikologi Dakwah

Oleh: Syamsul Arifin Munawwir

Dakwah adalah tugas kenabian yang mulia, yang dilanjutkan oleh para ulama dan dai sebagai ahli waris para nabi. Dalam berdakwah, para ulama dan dai berusaha dengan berbagai cara dan berkorban banyak, baik dengan waktu, tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa, demi li i'la'i kalimatillah. Sehingga umat Islam semakin banyak kuantitasnya dan semakin tinggi kualitasnya.

Sungguh perjuangan yang mulia dan penuh pahala. Layak diapresiasi dan diteladani. Namun sayangnya, belakangan ini muncul dai-dai yang berdakwah dengan cara yang kurang baik dan malah dapat mencemarkan nama baik Islam.
Di antaranya adalah golongan yang berdakwah dengan kekerasan, mudah membid'ahkan, bahkan mengkafirkan orang-orang yang tidak sepaham; seorang ustad televisi yang menghebohkan karena marah-marah dan menginjak leher orang saat berdakwah di atas pentas; dan juga sejumlah "oknum" dai yang berdakwah (namun) dengan kekerasan, akhlak yang buruk, dan tidak menghargai kearifan lokal.
Mereka tidak berdakwah seperti Nabi, yang berdakwah dengan hikmah, mau'izhatil hasanah, dan jadilhum billati hiya ahsan, yang mengajak, bukan mengejek. Tak ayal, secara psikologis dakwah mereka sulit dan tidak diterima, bahkan juga dapat mencemarkan nama baik agama dan ulama.
Di sisi lain, ada ilmu psikologi yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan metode dakwah, sehingga dapat lebih baik dan lebih cepat dalam menyentuh hati umat. Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia, penyebabnya, dan juga cara-cara yang dapat menyentuh hati dan berpengaruh secara psikologis, layak dipelajari guna meningkatkan kualitas dan efektivitas dakwah.
Psikologi dakwah inilah salah satu rahasia kesuksesan dakwah Rasulullah saw dan Walisongo. Misalnya, saat Rasulullah mampu mengislamkan raja Ethiopia yang beragama Nasrani sedemikian rupa, dengan mengutip ayat-ayat al-Qur'an tentang Isa al-Masih yang sangat dihormati. Dan bagaimana Walisongo tidak menolak budaya dan kearifan lokal, bahkan menggunakannya sebagai sarana dakwah, dan hasilnya agama Islam cepat diterima di seluruh Nusantara dan kuat mengakar hingga kini.
Karena itu, psikologi dakwah layak dikaji dan dipelajari, demi kesuksesan dakwah dan syiar Islam. Dan sebuah pesantren besar, Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, telah mempeloporinya dengan menjadikannya sebagai tema hari jadi yang ke-277 pada tahun 1345 H/2014 M. []
Sumber: Koran Kabar Ikhtibar, 12 Sya'ban 1435 H.
@syamsulmunawwir





Tidak ada komentar:

Posting Komentar