Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

28 Januari 2015

Magister Psikologi Profesi UII Kaji Konsep Kebahagiaan

M. Syamsul Arifin, S.Psi saat sampaikan materi konsep kebahagiaan Imam Al Ghazali dan Prof. Seligman.

Semua orang berharap mendapatkan kebahagiaan dalam perjalanan hidupnya. Namun demikian, persepsi/perspektif kebahagiaan masing-masing orang tidaklah sama. Temasuk parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat kebahagiaan itu sendiri. Oleh karenanya, Program Magister Psikologi Profesi (MAPPRO) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) secara khusus mendiskusikan konsep kebahagiaan yang digali dari perspektif Imam Al-Ghazali dan Prof. Seligman, Rabu, 19 November 2014. Hadir sebagai penyampai materi adalah M. Syamsul Arifin, S.Psi yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa MAPPRO FPSB UII. Sementara moderator dibawakan oleh Wara Anggana, S.Psi. 
 
Dalam materinya, M. Syamsul Arifin memaparkan data indeks kebahagiaan di beberapa kota besar di Indonesia (Semarang, Makassar, Bandung, Surabaya, Jakarta, Meda) yang secara keseluruhan berada di angka 47,96 atau relatif tidak bahagia di sekala 1-100. Sementara untuk skala dunia, Indonesia menempati urutan ke-64 dari 178 negara yang dijadikan responden seorang peneliti asal Universitas Leicester Inggris, Adrian White. 

Lalu, bagaimana konsep kebahagiaan menurut ulama besar Imam Al-Ghazali (Rektor Universitas Baghdad, wafat 1111 M) dan menurut Ilmuwan Barat (Prof. Seligman)? 

Disampaikan oleh M. Syamsul Arifin bahwa konsep kebahagiaan yang dikemukakan oleh Imam Al Ghazali didasarkan pada Al Quran, Hadis dan pendapat para ulama yang dirumuskan dalam sebuah karya berjudul Kimia’us Sa’adah (kimia Kebahagiaan), ringkasan dari masterpiece-nya yang berjudul Ihya’ Ulumuddin (Menghidupkan kembali ilmu agama). Menurut Imam Al Ghazali ada empat bagian pengetahuan yang harus diramu untuk mencapai kebahagiaan, yakni pengetahuan tentang diri sendiri, pengetahuan tentang Allah SWT, pengetahuan tentang dunia dan pengetahuan tentang akhirat. Menurutnya puncak kebahagiaan adalah saat seseorang berhasil mencapai ma’rifatullah (mengenal Allah dengan sebenarnya). 

Sedangkan Prof. Seligman meyakini bahwa kebahagiaan bisa dipelajari. Orang dapat mengubah kebahagiaan mereka dengan belajar mengembangkan kekuatan dan kebajikan. Adapun faktor yang mempengaruhi antara lain adalah uang, perkawinan, kehidupan sosial, emosi negatif & positif, usia, kesehatan, pendidikan, iklim, ras, jenis kelamin dan agama. 
Meski cukup banyak perbedaan konsep dari keduanya, namun ada juga konsep yang sama atau mirip, yakni pengaruh pengetahuan agama (religiusitas) yang memiliki peran besar dalam kepuasan/kebahagiaan seseorang. []

Sumber: www.master.psychology.uii.ac.id, www.fpscs.uii.ac.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar