Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

12 Maret 2015

Ikhlas akan Indah pada Waktunya

Oleh: Syamsul Arifin Munawwir


“Kalau untuk kepentingan masyarakat,
kapanpun pintu rumah saya digedor,
saya siap membantu.

(KH. Munawwir Syams)

Suatu hari, saya bertemu dengan salah satu murid almarhum Abah (Ayah). Awalnya kami berbicara biasa. Kemudian pria sebayuh baya itu bercerita tentang kenangannya saat belajar di Pondok Pesantren Tholabuddin, Kauman Bondowoso, dibawah didikan Abah.
Ia mengaku dahulu termasuk santri yang bandel. Sering mendapat hukuman. Saat itu ia belum memahami mengapa perlu belajar ilmu agama dan mengapa pula dididik disiplin. Ia nakal dan susah diatur. Sampai akhirnya ia berhenti dari pesantren.
Setelah berjalannya waktu dan Abah telah wafat, baru ia menyadari akan syafaqah (kasih sayang) dari sang guru, dan ia menyesal dahulu tidak menuruti nasehat dan bimbingannya. Ia merasa hal itu berdampak pada kehidupannya selanjutnya.
Saat menceritakan hal itu, tanpa saya duga, ia terisak menitikkan air mata. Ia menyesali masa lalunya, merasa berterima kasih, sekaligus merasa bersalah pada Abah. Di sela isaknya, ia mengatakan bahwa gurunya itu adalah orang yang ikhlas...
***
Pada masa hidupnya, masyarakat mengenal almarhum Abah sebagai seorang ulama dan dai. Sebagian dari mereka menitipkan anaknya untuk ia didik. Abah juga kerap menghadiri undangan pengajian atau ceramah ke berbagai kota dan pelosok desa.
Pernah suatu kali saat saya diajak ikut bersamanya, Abah harus berjalan di bawah rintik hujan, melewati jalan setapak di tengah pematang sawah, cukup jauh, menuju tempat acara di pelosok sebuah kampung. Semua itu dijalaninya tanpa keluh kesah.
Dalam hidupnya, Abah berusaha untuk terus berbuat dan bermanfaat bagi sesama, sesuai anjuran kiai-kiainya di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Abah pernah mengatakan, “Kalau untuk kepentingan masyarakat, kapanpun pintu rumah saya digedor, saya siap membantu.” (IJTIHAD, edisi 35/Th. XVIII/Sya’ban-Shafar/1432-1433). Karena itu, tak jarang, baru tengah malam ia pulang dari berdakwah.
Sebagaimana lazimnya seorang dai, Abah memiliki gaya tersendiri dalam berdakwah. Ia dikenal sebagai dai yang tegas dan ‘lurus’. Dengan gaya dakwahnya itu, sebagian orang menyukainya dan ada pula yang tidak menyukainya. 
Namun Abah tetap tegar, ia tetap menyampaikan apa yang harus disampaikan, sesuai dengan ilmu agama yang diketahuinya, demi kebaikan dan kepentingan orang banyak. 
Setelah Abah wafat, barulah orang-orang yang tidak menyukainya itu menyadari maksud baiknya dan mau memahami apa yang disampaikannya. Di saat seperti itu, mereka menyesali sikapnya di masa lalu.
***
Barangkali memang seperti itulah perjalanan hidup dan perjuangan dakwah. Di saat kita berusaha berbuat dan bermanfaat bagi orang lain, belum tentu mereka mau menerima dan menyadarinya. Bahkan mungkin mereka membenci apa yang kita lakukan.
Namun, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Innama al-a’malu bin-niyat, wa innama likullimrin’in ma nawa.” Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai niatnya (HR Bukhari Muslim). 
Saat kita berbuat sesuatu dengan ikhlas, bisa jadi orang menerima atau menolaknya, namun Allah swt pasti menerimanya, sehingga pada akhirnya mereka juga akan menyadari dan menerimanya. 
Seperti itu pulalah yang diteladankan oleh Rasulullah dalam hidupnya. Bagi orang yang ikhlas, tidak masalah apakah yang ia lakukan dihargai, disalahpahami, ataupun dicaci, yang penting ia telah berbuat baik pada orang lain. []

Yogyakarta, Kamis malam Jumat, 12 Maret 2015, malam peringatan hari wafatnya Abah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar