Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

10 Maret 2015

Korupsi dalam Psikologi Islam


Psikolog dari UII Sus Budiharto dan mantan Ketua MK Mahfud MD.  
  
 Oleh: M. Syamsul Arifin, S.Psi | Syamsul Arifin Munawwir

     Pemimpin sukses adalah pemimpin yang meneladani Nabi Muhammad, yang tegas menegakkan hukum, sekaligus lemah lembut dan menjadi penerang hati yang gundah. Demikian disampaikan mantan Ketua MK Mahfud MD dalam Konferensi Nasional Psikologi Islam NCIP-IIUCP di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Jumat (27/02).
Menurut Mahfud, konsep kepemimpinan dalam budaya Indonesia sama dengan konsep kepemimpinan Islam. Integritas dan ketegasan dalam penegakan hukum mutlak dibutuhkan.
Untuk dapat tegas, pemimpin membutuhkan kebebasan. “Pemimpin yang bisa tegas adalah pemimpin yang tidak tersandera,” ungkapnya.
Pendapat agak berbeda disampaikan Mendikbud, Anies Baswedan, dalam sesi sebelumnya. Kesuksesan pemimpin di negara demokratis seperti Indonesia bukan hanya tergantung leadership-nya, tapi juga terkait erat dengan trust (kepercayaan) dari rakyat.
Untuk membangun trust dibutuhkan kepemimpinan yang baik, sekaligus ketaatan dari rakyat. "Membangun trust itu perlu leadership dan followership," ucapnya.
Di antara masalah akut yang menurunkan trust adalah korupsi, yang terkait dengan integritas para pemimpin. Sebagai solusi, dapat dilakukan pelatihan Kepemimpinan Profetik. 
“Kepemimpinan Profetik adalah kepemimpinan yang dicontohkan Nabi yang memiliki empat aspek. Yakni shidiq, amanah, tabligh, dan fathanah,” urai ahli Kepemimpinan Profetik, Sus Budiharto dari Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta.
Dalam berbagai penelitiannya, ditemukan pengaruh positif pelatihan Kepemimpinan Profetik untuk meningkatkan karakter anti korupsi pada pejabat, meningkatkan kemampuan manajerial dan memecahkan masalah pada karyawan, serta meningkatkan komitmen mengajar pada guru.
Menariknya, menurut Sus, shidiq, amanah, tabligh, dan fathanah harus berurutan. Shidiq harus dikedepankan daripada fathanah. Kalau fathanah yang didahulukan seperti pada UN, maka bisa terjadi tindakan tak shidiq berupa nyontek.
Konferensi ini juga mengkaji pengembangan intervensi psikologi dengan pendekatan psikologi Islam. Guru Besar FK Unair, Suhartono Taat Putra, memaparkan pengaruh positif perilaku religius pada kesehatan. Orang yang Islamnya baik dan benar, akan sehat.
Selain itu, kecerdasan IQ tak banyak membawa sukses. Kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual lah yang banyak membawa sukses. []

       Dimuat di harian Tribun Jogja, Jumat 6 Maret 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar