Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

12 Mei 2016

API: Dari Psikologi Islami ke Psikologi Islam (2)

Oleh: M Syamsul Arifin Munawwir*

Senada dengan Tim, Ketua Umum API Prof Subandi menyatakan ada dua strategi untuk mengembangkan psikologi Islam, pertama, pengembangan psikologi Islami yang berangkat dari psikologi Barat yang mengintegrasikanya dengan Islam, misalnya terapi kognitif Islami, kebersyukuran Islami; kedua, pengembangan psikologi Islam yang berangkat dari konsep-konsep Islam yang dijabarkan dan diempiriskan. Dengan demikian, psikologi Islami berusaha melangitkan apa yang di bumi, seperti psikologi Barat, dan psikologi Islam berusaha membumikan apa yang di langit, seperti segala sesuatu yang berasal dari al-Quran dan Hadis. (uinsgd.ac.id, 1/3/16)

Perkembangan Psikologi Islam

Kini di berbagai perguruan tinggi Indonesia telah berkembang cukup banyak jurusan psikologi Islam dan terakreditasi BAN-PT (ban-pt.kemdiknas.go.id, 18/4/16). S1 psikologi Islam ada di UIN Antasari Banjarmasin, IAIN Imam Bonjol Padang, UIN Raden Fatah Palembang, IAI Tribakti Kediri, dan STAIN Kediri. Lalu S3 Psikologi Pendidikan Islam ada di UMY Yogyakarta.

Ilustrasi. (hidayatullah.com)
Adapula konsentrasi psikologi Islam seperti di S2 dan S3 studi Islam UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta; konsentrasi studi Islam dan psikologi di S2 UI Jakarta; muatan psikologi Islam di S1 dan S2 psikologi di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta; konsentrasi psikologi pendidikan Islam di S2 studi islam interdisipliner UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan kajian ilmiah psikologi Islam di UGM, Yogyakarta. Dalam bentuk mata kuliah psikologi Islam dan psikologi pendidikan Islam, lebih banyak lagi di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta.

Seminar, konferensi, dan workshop psikologi Islam setiap tahun diselenggarakan, baik yang berskala nasional seperti Inter-Islamic University Conference on Psychology (IIUCP) dan National Conference on Islamic Psychology (NCIP), serta skala internasional seperti International Conference on Islamic Psychology (Iconipsy). Konsorsium Keilmuwan Psikologi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam juga telah diresmikan di Yogyakarta pada 13 Agustus 2015. Buku-buku tentang psikologi Islam banyak ditulis, di antaranya oleh Djamaludin Ancok, Fuad Nashori, Hanna Djuhana Bastaman, Achmad Mubarok, Abdul Mujib, Subandi, Bagus Riyono, Aliah Purwakania Hasan, dsb.

Organisasi para psikolog dan ilmuwan psikologi Islam API juga menginisiasi Gerakan Indonesia Beradab (GIB), sebuah gerakan nasional untuk mengupayakan kembali Indonesia yang lebih beradab sesuai Pancasila dan menangani permasalahan degradasi moral Bangsa, seperti LGBT, pornoaksi, narkoba, korupsi, kriminalitas, dsb dengan pendekatan psikologi Islam.

Aktivis GIB terdiri dari ahli psikologi Islam, agama, hukum, dan lainnya. Presidium GIB, antara lain Dr Bagus Riyono (ketua), Adian Husaini, Prof Euis, Neng Djubaedah, Adriano Rusfi, Heru Susetyo, Fahira Idris, dr Fidiansyah, Aliah B. Purwakania, Elly Risman, Sukro Muhab, Mukhlis Yusuf, Rita Subagyo, dan Silih Agung Wasesa (republika.co.id, 18/3/16).

Di antara kiprah GIB untuk Bangsa adalah upayanya dalam membendung kampanye LGBT dengan menginisiasi pernyataan sikap bersama ratusan ormas dalam mendukung KPI melarang tayangan pro LGBT, serta mengisi berbagai seminar, diskusi, dan wawancara terkait LGBT di berbagai media massa cetak dan elektronik.

Dalam pengembangan psikologi Islam ke depan, API telah mengagendakan berbagai upaya penting, di antaranya standardisasi kurikulum psikologi Islam, penyusunan kompetensi psikologi Islam, pengembangan modul intervensi psikologi Islam, pendokumentasian literatur psikologi Islam, dan merintis penyusunan PPDGJ Islam.

Selain itu, pengembangan psikologi Islam perlu merangkul dan mengkader generasi muda yang memiliki rentang masa depan lebih panjang, sebagaimana pernah disampaikan ketua umum API yang pertama, Fuad Nashori (pikirdong.com, 10/9/13).

Orang-orang pesantren juga perlu diikutsertakan, karena menurut Prof Djamaludin Ancok, “orang pesantren itu sudah mapan dalam bidang keislaman, dan sangat pas untuk mendalami psikologi Islami dalam jenjang pendidikan selanjutnya. Sehingga saat mendalami psikologi, ia juga dapat merenungi dan membandingkan secara langsung teori psikologi dengan pandangan-pandangan al-Qur`an” (majalahqalam.wordpress.com).

Dengan demikian diharapkan psikologi Islam akan semakin berkembang maju dan semakin bermanfaat bagi bangsa dan agama, sebagaimana tema Pelantikan dan Raker API 2016 “Berkarya untuk Bangsa dan Agama”.

*Staf Ahli PP. Sidogiri Pasuruan dan Pengurus Pusat Asosiasi Psikologi Islam (API)

(Dimuat di Hidayatullah.com, Kamis, 5 Mei 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar