Kata Mutiara

Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ditemukan, maka ambillah.

(HR Tirmidzi)

01 Juni 2017

Ummi



masih terasa di kulitku
deras basah hujan yang turun di gelap malam
saat ku berlari ke rumahmu
karena mendengar kabar rintih sakitmu

masih kuingat mata yang sulit terpejam
tidur menjagamu di sampingmu
di mushala tempat tinggalmu
dengan baju dingin kuyup membekas di lantai

***

masih terdengar di telingaku
sapaan lembutmu di telepon
menanyakan kapan aku pulang
menanyakan bagaimana kuliah dan hafalan

masih jelas dalam ingatanku
sejarah keluarga dan ulama yang kau kisahkan
rencana dan harapan masa depan
tentangku,  saudara-saudari, dan pesantren

masih terlihat di mataku
senyum tipismu dan heningmu
terbaring diam melihat kami
di rumah sakit dan rumah sehatmu

masih terasa di badanku
gerak oleng mobil ambulans
yang melesat cepat membawamu
dan gemetar bibirku membaca zikir doa beribu
untuk menyelamatkanmu
orangtuaku satu-satunya yang masih ada..

masih terasa di hatiku
harap cemas berdoa dan berjuang
untuk kesembuhanmu
hingga belasan hari di rumah sakit tak pulang

masih terdengar di telingaku
dering telepon duka di pagi hari
bahwa engkau telah pergi
dan tak kan pernah kembali.. 

aku tak menangis saat mendengarnya
percaya tak percaya dan terdiam pana
lalu menangis tersedu-sedu
mendengar wafatmu husnul khatimah..

di perjalanan gelap di terang siang itu
mendengar ayat Qur'an tentang Nabi Isa
mengingatkanku saat ia begitu setia 
menunggui ibunya yang tidur tak bangun jua
menghantam jiwaku membanjirkan air mataku..

***

Ummi,  kau mengasuh kami sendiri
puluhan tahun berjuang tanpa henti
setiamu pada almarhum suami dan putra-putri
setiamu pada amanah para pendahulumu
kasih sayangmu pada anakmu dan anak-anak orang
mengajarkan arti kesetiaan dan kasih sayang

Ummi, kau mendoakanku
sejak masih dalam kandunganmu
hingga akhir hayatmu
dengan doa yang istimewa
doa tulus seorang ibu pada anaknya
doa cinta seorang santri pada kiainya
semoga seperti Kiai Hamid sang aulia..

Ummi,  kau mengajariku zikir dan doa
yang banyak yang bermacam panjang-pendeknya
dari suamimu ayahmu kakekmu gurumu
dan dari dirimu
memberitahu tak langsung padaku
betapa istikamah zikir doamu

Ummi, aku tak banyak tahu
kebaikanmu
hingga orang yang menerimanya bercerita
dengan uraian air mata
dan bilang tak mampu membalasnya..

Ummi, maafkan aku yang tak di sampingmu
saat kau diwafatkan
saat kau dishalatkan
saat kau dimakamkan..

jarak yang memisahkan
menyulitkan untuk segera bertemu
tapi tak menyulitkan untuk merasakanmu
selalu di dalam hatiku..

***

Ummi, terima kasihku atas segala kasihmu
padaku pada kami pada mereka
semoga Tuhan juga menyayangimu
seperti kau menyayangi semua

Kaliurang Yogyakarta, 6 Mei 2017

Syamsul Arifin Munawwir


Tidak ada komentar:

Posting Komentar